Kamis, 26 Oktober 2017

Adab Safar yang Sering Dilupakan oleh Banyak Orang

Adab Safar yang Sering Dilupakan 
oleh Banyak Orang

oleh : Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah -hafizhahullah-

Salah satu adab safar yang sering dilupakan oleh para saudara kita, ucapan doa yang disyariatkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan diajarkan kepada para sahabat. Doa yang amat dibutuhkan oleh seorang dalam safar dan kehidupannya, baik di dunia, maupun di akhirat.

Seorang ulama tabi'in, Qoza'ah bin Yahya Al-Bashriy -rahimahullah- menuturkan,
قَالَ لِى ابْنُ عُمَرَ هَلُمَّ أُوَدِّعْكَ كَمَا وَدَّعَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ
"Ibnu Umar pernah berkata kepadaku, "Kemarilah!! Aku akan mengucapkan selamat kepadamu sebagaimana halnya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah mengucapkan selamat kepadaku,
أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ
"Aku titipkan kepada Allah agama, amanah dan penutup-penutup amalmu ". [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (no. 2600), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok ala Ash-Shohihain(2/97/no. 2476), Ahmad dalam Al-Musnad (2/25/no. 4781) dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo (49/314-316). Dinyatakan shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalamAsh-Shohihah (no. 14)]


Al-Imam Syarofuddin Ath-Thibiy -rahimahullahberkata,
قوله: ((أستودع الله)) هو طلب حفظ الوديعة، وفيه نوع مشاكلة للتوديع، جعل دينه وأمانته من الودائع؛ لأن السفر يصيب الإنسان فيه المشقة والخوف، فيكون ذلك سبباً لإهمال بعض الدين، فدعا له النبي صلى الله عليه وسلم بالمعونة والتوفيق، ولا يخلو الرجل في سفره ذلك من الاشتغال بما يحتاج فيه إلي الأخذ والإعطاء
والمعاشرة مع الناس، فدعا له بحفظ الأمانة والاجتناب عن الخيانة، ثم إذا انقلب إلي أهله يكون مأمون العاقبة عما يسوؤه في الدين والدنيا". الكاشف عن حقائق السنن - (6 / 1901_1902)
"Sabdanya, "Aku titipkan kepada Allah…", ia merupakan permintaan penjagaan titipan. Di dalamnya terdapat semacam penitipan. Seseorang menjadikan agama dan amanahnya sebagai barang titipan. Karena, safar itu di dalamnya manusia akan tertimpa sesuatu berupa perkara yang memberatkan dan rasa takut, sehingga hal itu menjadi sebab bagi penelantaran sebagian urusan agama. Itulah sebabnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mendoakan pertolongan dan taufiq bagi orang yang safar.
Seorang dalam safarnya tak akan lepas dari kesibukan dalam mengerjakan sesuatu yang ia butuhkan berupa mengambil, memberi dan mempergauli manusia. Itulah sebabnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mendoakan baginya agar dijaga amanahnya dan dijauhkan dari khianat. Kemudian, bila ia kembali ke keluarganya, maka ia pun aman nasibnya dari sesuatu yang mencoreng dirinya, baik di dunia, maupun di akhirat".[Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (9/284), Faidhul Qodir (5/96) dan Mirqotul Mafaatih (8/326)]

Hadits lain yang mengajarkan kita adab-adab safar, hadits dari Abdullah bin Umar -radhiyallahu anhuma-, ia berkata,
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا وَدَّعَ رَجُلاً أَخَذَ بِيَدِهِ ، فَلاَ يَدَعُهَا حَتَّى يَكُونَ الرَّجُلُ هُوَ يَدَعُ يَدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَيَقُولُ : أَسْتَوْدِعِ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَآخِرَ عَمَلِكَ.
"Dulu Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bila melepaskan seseorang (ketika hendak safar,- pen.), maka beliau memegang tangannya. Beliau tak melepaskan tangannya sampai orang itulah yang melepaskan tangan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- seraya berdoa (untuk orang itu),
أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَآخِرَ عَمَلِكَ.
"Aku titipkan kepada Allah agama, amanah dan penutup-penutup amalmu ". [HR. At-Tirmidziy dalam As-Sunan(2442), dan Ibnu Majah dalam As-Sunan (2826). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami' (4795)]

Al-Imam Abul Ulaa Muhammad Ibnu Abdir Rahim Al-Mubarokfuriy -rahimahullah- berkata,
أي فلا يترك يد ذلك الرجل من غاية التواضع ونهاية إظهار المحبة والرحمة"  اهـ من تحفة الأحوذي - (9 / 284)
"Maksudnya, beliau tidak melepaskan tangan orang itu karena tingginya sifat tawadhu' beliau dan puncak penampakan rasa cinta dan sayang kepadanya". [LihatSyarah Sunan At-Tirmidziy (9/284)]

Yang dimaksud dengan memegang tangan disini adalah berjabat tangan sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo (49/316) dari Qoza'ah, ia berkata,
كنت عند عبد الله بن عمر فأردت الانصراف فقال مكانك حتى أودعك كما ودعني رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) فأخذ بيدي فصافحني ثم قال أَسْتَوْدِعُ اللهَ دِيْنَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيْمَ عَمَلِكَ
"Dulu aku di sisi Abdullah bin Umar. Kemudian aku hendak pulang (safar). Beliau berkata, "Tetaplah di tempatmu sampai aku melepaskan kepergianmu sebagaimana dahulu Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- melepaskan kepergianku. Beliau (yakni, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-) memegang tanganku seraya menjabat tanganku, lalu berdoa,
 أَسْتَوْدِعُ اللهَ دِيْنَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيْمَ عَمَلِكَ
"Aku titipkan kepada Allah agama, amanah dan penutup-penutup amalmu ".

Dahulu Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bukan hanya satu-dua orang yang dilepas kepergiaannya dengan iringan doa yang berkah ini, bahkan beliau jika melepaskan kepergian pasukan, maka beliau memberikan wejangan kepada mereka, lalu mengucapkan doa di atas.

Abdullah Al-Khothmiy -radhiyallahu anhu- berkata,
كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَرَادَ أَنْ يَسْتَوْدِعَ الْجَيْشَ قَالَ « أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكُمْ وَأَمَانَتَكُمْ وَخَوَاتِيمَ أَعْمَالِكُمْ ».
"Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bila ingin melepaskan kepergian pasukan, maka beliau berdoa,
أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكُمْ وَأَمَانَتَكُمْ وَخَوَاتِيمَ أَعْمَالِكُمْ
"Aku titipkan kepada Allah agama, amanah dan penutup-penutup amal kalian". [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan(2601). Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (no. 2436)]

Doa safar yang diajarkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada para sahabat -radhiyallahu anhum-, juga diajarkan oleh mereka kepada para tabi'in.
Mujahid -rahimahullah- berkata,
خرجت إلى العراق أنا ورجل معي فشيعنا عبد الله بن عمر فلما أراد أن يفارقنا قال : إنه ليس معي شيء أعطيكما ولكن سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : ( إذا استودع الله شيئا حفظه وإني أستودع الله دينكما وأمانتكما وخواتيم عملكما )
"Aku pernah mau keluar ke negeri Iraq bersama seorang lelaki. Abdullah bin Umar pun melepaskan kepergian kami. Tatkala beliau hendak meninggalkan kami, maka beliau berkata, "Sesungguhnya tak ada sesuatu bersamaku yang bisa aku berikan kepada kalian berdua. Akan tetapi, aku pernah mendengarkan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
"Bila Allah dititipi sesuatu, maka ia akan menjaganya. Nah, sungguh aku menitipkan kepada Allah agama, amanah dan penutup-penutup amal kalian berdua". [HR. Ibnu Hibban dalam Ash-Shohih (13571) dan Ath-Thobroniy dalam Al-Mu'jam Al-Kabir (17571), An-Nasa'iy dalam As-Sunan Al-Kubro (10343), Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubro(18358). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Arna'uth dalamTakhrij Shohih Ibni Hibban (12/427)]

Para pembaca yang budiman, di dalam sejumlah hadits yang ada di depan kita terdapat berbagai macam faedah ilmu yang bisa kita petik berkaitan dengan sunnah dan adab yang semestinya dijaga saat melakukan safar:
1.     Disyariatkan mengucapkan doa kepada seorang musafir saat melepaskan kepergiannya, yaitu doa yang diajarkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-,
أَسْتَوْدِعُ اللهَ دِيْنَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيْمَ عَمَلِكَ
2.   Berjabat tangan di saat bertemu dan berpisah adalah perkara yang disyariatkan.

Disana banyak sekali dalil yang menunjukkan disunnahkannya jabat tangan di saat bertemu dan berpisah.

Jabat tangan telah masyhur di kalangan para sahabat sejak zaman kenabian. Kebiasaan ini pertama kali digalakkan oleh kaum muslimin dari Yaman, lalu di-taqrir disetujui oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Qotadah -rahimahullah- berkata kepada Anas -radhiyallahu anhu-,
أَكَانَتِ الْمُصَافَحَةُ فِي أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ
"Apakah berjabat tangan ada di kalangan para sahabat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-?" Beliau menjawab, "Ya". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (6263), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2729)]

Semua ini mereka lakukan karena di dalamnya terdapat keutamaan yang besar. Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا
"Tak ada dua orang muslim yang bertemu, lalu berjabatan tangan, kecuali keduanya akan diampuni sebelum keduanya berpisah". [HR. Abu Dawud (5212) dan Ibnu Majah (3703). Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- dalam dalam Ash-Shohihah (525)]

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- menggambarkan keutamaan berjabat tangan yang menjadi sebab bergugurannya dosa-dosa, dengan sabdanya,
إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا لَقِيَ الْمُؤْمِنَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَأَخَذَ بِيَدِهِ فَصَافَحَهُ تَنَاثَرَتْ خَطَايَاهُمَا كَمَا يَتَنَاثَرُ وَرَقُ الشَّجَرِ
"Sesungguhnya seorang mukmin bila menjumpai mukmin lain seraya memberikan salam kepadanya dan memegang tangannya, lalu menjabatinya, maka berguguranlah dosa-dosanya sebagaimana bergugurannya dedaunan pohon-pohon itu". [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Awsath (245) Al-Baihaqiy dalam Syu'abul Iman (8953), dan Ad-Dailamiy dalam Musnad Al-Firdaus (714). Hadits ini dinilai shohih oleh shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (526) & (2692)]

3.   Dianjurkan bagi seseorang untuk memberikan hadiah dan oleh-oleh kepada saudaranya, bila saudaranya kembali dan bersafar menuju kampung halamannya. Jika tidak ada yang bisa diberi, maka jangan lupa mendoakannya dengan doa safar tersebut.


4.   Jabat tangan menunjukkan kedekatan dan solidaritas kaum muslimin. Itulah sebabnya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- menganjurkan hal seperti ini, bahkan menjanjikan ampunan dosa bagi orang yang melakukannya. Namun disini perlu kami ingatkan bahwa jabat tangan jangan dikhususkan usai sholat,sebab itu bid'ah!!

https://abufaizah75.blogspot.co.id/2016/12/adab-safar-yang-sering-dilupakan-oleh.html

Minggu, 22 Oktober 2017

Menata Surga dengan Tasbih dan Tahmid

Menata Surga 
dengan Tasbih dan Tahmid

oleh : Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc.

Setiap manusia di dunia menginginkan rumahnya adalah rumah yang bersih, indah, aman dan menyenangkan. Mereka pun banyak menghabiskan harta, tenaga, pikiran, dan lainnya dalam menata rumah dan istananya agar ia betah dan berbahagia.

Nah, surga yang kita miliki -insya Allah-, sama keadaannya dengan rumah kita di dunia, juga memerlukan perngorbanan berupa harta, waktu dan pikiran, bahkan nyawa dalam menghiasi dan menatanya.

Surga yang Allah siapkan bagi para hamba-Nya adalah tempat yang amat luas lagi datar. Kitalah yang menata dan menghiasinya dengan amal-amal sholih kita.

Salah satu diantara amalan yang akan menghiasi dan menata surga kita dengan indah adalah BER-TASBIH dan berdzikir kepada Allah -Tabaroka wa Ta'ala-.

Bertasbih kepada Allah merupakan amalan yang memiliki fadhilah (keutamaan) yang amat besar.

Seorang yang melazimi tasbih akan ditanamkan baginya pohon kurma di dalam surga.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- menjelaskan keutamaan tasbih dalam sabdanya,
مَنْ قَالَ : سُبْحَانَ اللهِ العَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ ، غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الجَنَّةِ
"Barangsiapa yang berkata, "Subhanallahil azhim wa bihamdih", niscaya akan ditanamkan baginya sebuah pohon kurma dalam surga". [HR. At-Tirmidziy dalam As-Sunan (3464 & 3465). Hadits ini dinilai shohih oleh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (1564)]


Al-Imam Abu Bakr As-Suyuthiy -rahimahullah- berkata,
معنى التسبيح تنزيه الله عما لا يليق به من كل نقص، قال الكرماني: فالتسبيح إشارة إلى الجلال والتحميد إشارة إلى صفات الإكرام
"Makna tasbih adalah menyucikan Allah dari segala perkara yang tidak layak bagi-Nya berupa segala macam kekurangan".
Al-Kirmaniy -rahimahullahberkata"Jadi, tasbih merupakan isyarat kepada kemuliaan dan tahmid isyarat kepada sifat pemuliaan". [Lihat Tanqih Al-Qoul Al-Hatsits (hal. 102)]

Para pembaca yang budiman, jadikanlah tasbih bagian dari kehidupanmu. Isilah hari-harimu dengan tasbih dan dzikir kepada Allah di saat-saat senggang.

Jauhkanlah dirimu dari hal-hal yang tiada guna bagi akhiratmu. Janganlah engkau menghabiskan waktumu untuk mengikuti siaran-siaran televisi yang akan menguras waktumu.

Tapi gunakanlah dalam memperbanyak tasbih yang akan menjadi pohon yang akan kau rasakan buahnya di akhirat.

Al-Imam Ibnul Jauziy Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata,
((فانتبه يا بني لنفسك، واندم على ما مضى من تفريطك، واجتهد في لحاق الكاملين، ما دام في الوقت سعة، واسق غصنك ما دامت فيه رطوبة، واذكر ساعتك التي ضاعت فكفى بها عظة، ذهبت لذة الكسل فيها، وفاتت مراتب الفضائل... فانظر إلى مضيع الساعات كم يفوته من النخيل!)) صيد الخاطر - (1 / 504)
"Perhatikanlah dirimu –wahai anakku- dan sesali sesuatu yang berlalu berupa sikap teledor serta bersungguh-sungguhlah dalam mengejar orang-orang yang sempurna selama dalam waktumu ada kelonggaran dan siramilah dahanmu selama padanya terdapat kesegaran. Ingatlah waktumu yang telah hilang, lalu cukuplah ia sebagai nasihat. Lezatnya kemalasan telah pergi bersamanya dan telah luput derajat-derajat keutamaan…Perhatikanlah orang yang menyia-nyiakan waktunya, alangkah banyaknya pohon kurma yang ia sia-siakan (yakni, di dalam surga, -pen.)". [Lihat Shoidul Khothir (hal. 504-505), oleh Ibnul Jauziy, cet. Dar Al-Qolam, 1425 H]

Hadits yang semisal ini amat baik direnungi oleh orang-orang yang menghabiskan waktunya dengan membaca koran, sibuk menghabiskan waktu dengan facebook,twitter, berita politik dan gossip, film dan selainnya diantara perkara yang tiada berguna di akhirat!!

Perbanyaklah tanaman surga di akhirat dengan memperbanyak dzikir ketika masih hidup di dunia. sebab, tanaman ini akan sangat bermanfaat bagi pemiliknya di akhirat.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
لَقِيتُ إِبْرَاهِيمَ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ ، أَقْرِئْ أُمَّتَكَ مِنِّي السَّلاَمَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ عَذْبَةُ الْمَاءِ ، وَأَنَّهَا قِيعَانٌ ، وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللهِ وَالحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ.
"Aku telah menjumpai Ibrahim di malam aku di-isra'-kan. Dia berkata, "Wahai Muhammad, sampaikanlah salam dariku kepada umatmu dan kabarilah bahwa surga, tanahnya baik dan airnya tawar dan bahwa surga itu tanah datar serta tanamannya adalah "subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar". [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (3462). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 105)]

Kalimat-kalimat yang agung ini sangat besar keutamaannya, karena ia adalah sebab Allah akan memberikan pohon yang rindang kepada pengucapnya. Pohon yang ia gunakan bersenang-senang di bawahnya.

Al-Imam Abul Ulaa Al-Mubarokfuriy -rahimahullah- berkata,
((والمعنى أعلمهم بأن هذه الكلمات ونحوها سبب لدخول قائلها الجنة ولكثرة أشجار منزلة فيها لأنه كلما كررها نبت له أشجار بعددها)) تحفة الأحوذي - (9 / 303)
"Maknanya, beritahulah mereka bahwa kalimat-kalimat ini dan sejenisnya merupakan sebab bagi masuknya orang yang mengucapkannya ke dalam surga dan sebab bagi banyaknya pepohonan di dalamnya. Karena, setiap kali ia mengulanginya, maka tumbuhlah baginya pepohonan sejumlah ucapannya".[Syarah Sunan At-Tirmidziy (9/303)]

Namun tentunya pepohonan yang rindang lagi sejuk itu tak akan didapatkan, kecuali orang-orang yang senantiasa membasahi lisannya dengan dzikrullah.

Al-Imam Syarofuddin Ath-Thibiy -rahimahullah- berkata,
((إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَوْجَدَ بِفَضْلِهِ فِيهَا أَشْجَارًا وَقُصُورًا، بِحَسَبِ أَعْمَالِ الْعَامِلِينَ لِكُلِّ عَامِلٍ مَا يَخْتَصُّ بِهِ بِسَبَبِ عَمَلِهِ، ثُمَّ إِنَّهُ تَعَالَى لَمَّا يَسَّرَهُ لِمَا خُلِقَ لَهُ مِنَ الْعَمَلِ لِيَنَالَ بِذَلِكَ الثَّوَابَ جَعَلَهُ كَالْغَارِسِ لِتِلْكَ الْأَشْجَارِ)) مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح - (4 / 1604)
"Sesungguhnya Allah -Ta'ala- menciptakan pepohonan dan istana di dalamnya berkat karunia-Nya, menurut amalan para pelakunya. Setiap pelaku mendapatkan sesuatu yang khusus baginya berkat amalnya. Kemudian Allah -Ta'ala- memberinya kemudahan kepada sesuatu yang ia diciptakan untuknya berupa amalan agar ia kelak meraih pahala dengannya. Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menganggap si pengucap kalimat-kalimat itu laksana penanam bagi pepohonan surga itu…". [LihatMirqoh Al-Mafatih (4/1604)]

Para pembaca yang budiman, "Tatkala sebab bagi Allah dalam menciptakan pepohonan itu adalah amal pelaku, maka disandarkanlah penanaman itu kepadanya. Sedang maksudnya adalah menjelaskan enaknya surga, memberikan rasa rindu kepadanya dan anjuran untuk terus mengucapkan kalimat-kalimat itu yang merupakan al-baqiyat ash-sholihat (amal-amal saleh yang kekal)". [Lihat Faidhul Qodir (4/7) karya Al-Munawiy]

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ مَرَدًّا [مريم : 76]
"Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya".(QS.  Maryam : 76)

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
أَلَا وَإِنَّ سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ هُنَّ الْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ
"Ingatlah, sesungguhnya kalimat Subhanallah, walhamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar adalah "al-baqiyat ash-sholihat" (amal-amal saleh yang kekal)". [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/267). Syaikh Syu'aib Al-Arna'uth menilai hadits ini shohih dalam Takhrij Al-Musnad (no. 18353)]

Isilah hari-hari kita dengan tasbihtahmid, dan amalan-amalan sholih lainnya, yang akan kita rasakan manfaatnya yang luar biasa.


Semoga Allah -Tabaroka wa Ta'ala- menjadikan kita termasuk golongan yang mendapatkan istana surga yang berhias dengan berbagai keindahan, dan kenikmatan.

https://abufaizah75.blogspot.co.id/

Kertas Mulia yang Berserakan

Kertas Mulia yang Berserakan
oleh :
Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah -hafizhahullah-

Di beberapa masjid dan sekolah atau di sebagian rumah penduduk dan tempat lain, sering kami saksikan adanya selembar atau beberapa lembar kertas mulia yang bertuliskan ayat, hadits Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, atau nama-nama Allah dan dzikir.

Nah, bagaimanakah sikap yang benar? Apakah kita biarkan atau kita pungut, lalu disimpan? Untuk sikap yang benar kita dengarkan tanya-jawab di bawah ini bersama Syaikh Abdul Aziz bin Baaz -rahimahullah-, seorang ulama dari negeri Jazirah Arab.

Seorang penanya pernah mengajukan sebuah pertanyaan kepada beliau sebagai berikut"Terkadang kami temukan ayat yang tertulis di atas sebuah kertas tercecer di tanah. Terkadang juga kami merasa tak memerlukan kertas yang di dalamnya tertulis "basmalah" atau ayat-ayat lain. Apakah cukup kami robek atau dibuang? Kalau aku robek, maka apakah disana ada dosa bila debunya beterbangan?"


Al-Allamah Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz An-Najdiy -rahimahullah- menjawab,
الجواب : الواجب إذا كان هناك آيات في بعض الأوراق ، أو البسملة ، أو غير ذلك مما فيه ذكر الله ، فالواجب أن يحرق أو يدفن في أرض طيبة ، أما إلقاؤه في القمامة فهذا لا يجوز لأن فيه إهانة لأسماء الله وآياته ، ولو مزقت; فقد تبقى كلمة الجلالة أو الرحمن أو غيرها من أسماء الله في بعض القطع ، وقد تبقى بعض الآيات في بعض القطع. والمقصود أن الواجب إما أن يحرق تحريقا كاملا وإما أن يدفن في أرض طيبة ، مثل المصحف الذي تمزق وقل الانتفاع به; يدفن في أرض طيبة ، أو يحرق ، أما إلقاؤه في القمامات ، أو في أسواق الناس أو في الأحواش فلا يجوز. ولا يضر تطاير الرماد إذا أحرق.
"Kewajiban kita, jika disana ada ayat-ayat yang terdapat pada sebagian kertas ataukah ada bacaan "basmalah"nya atau selainnya di antara perkara yang di dalamnya terdapat dzikrullah. Jadi, kewajiban kita adalah merobeknya dan menanamnya di dalam tanah yang baik (bersih). Adapun membuangnya dalam tong sampah, maka ini tak boleh!! Karena, di dalamnya terdapat perendahan terhadap nama-nama dan ayat-ayat Allah. Andai anda merobeknya saja, maka tetaplah kalimat jalalah (الله) atau ar-rahman dan selainnya diantara nama-nama Allah pada sebagian potongan-potongan kertas itu. Terkadang juga sebagian ayat tetap ada pada sebagian potongan itu. Tujuannya bahwa kewajiban kita, entah kertas itu dirobek keluruhannya atau ditanam dalam tanah yang baik, seperti mush-haf yang telah robek dan sudah kurang pengambilan manfaatnya; ini ditanam saja dalam tanah yang baik atau dibakar. Adapun membuangnya di tong sampah atau di pasar manusia atau di tempat terbuka, maka ini tak boleh. Terbangnya debu tidaklah membahayakan (yakni, tak masalah), jika telah dibakar". [Lihat Fataawa Nur ala Ad-Darb (1/390-391/no. 181)]


Inilah cara yang paling tepat bagi seseorang saat ia mendapati lembaran-lembaran mulia yang berserakan di jalan, atau di tempat lain. Lembaran-lembaran mulia itu terkadang berisi ayat, hadits, ilmu dan dzikrullah. Sebagai bentuk pemuliaan terhadap syiar Allah, seorang muslim dianjurkan menjaga dan memeliharanya dari penghinaan dan perendahan.

https://abufaizah75.blogspot.co.id/

Jumat, 20 Oktober 2017

[Audio] Hukum Perempuan Menonton Video Ceramah

[Audio] Hukum Perempuan Menonton Video Ceramah

Disampaikan pada kajian kitab Bulughul Maram di Masjid As-Sunnah Makassar

http://dzulqarnain.net/audio-hukum-perempuan-menonton-video-ceramah.html

Menghargai Amal Sedikit dengan Keikhlasan


Menghargai Amal Sedikit dengan Keikhlasan

Amalan shalih yang kita kerjakan sepanjang umur, bila mau dihargai dengan surga yang mahal, tidaklah cukup. Namun, bila keikhlasan mengiringi amalan-amalan shalih kita, barulah amalan-amalan itu memiliki harga dan kedudukan di sisi Allah 'Azza wa Jalla.
Tabi'in mulia, Abu Ayyub Maimun bin Mihron Al-Jazariy (wafat pada 117 H) rahimahullah, berkata,

إِنَّ أَعْمَالَكُمْ قَلِيْلَةٌ، فَأَخْلِصُوْا هَذَا الْقَلِيْلَ.

"Sesungguhnya amalan-amalan kalian adalah sedikit. Lantaran hal itu, ikhlaskanlah yang sedikit ini."
[Atsar riwayat Abu Nu'aim dalam Hilyah Al-Auliya` 4/92]

Sungguh merugilah manusia yang tidak menghargai dan mengagungkan amalan-amalannya dengan keikhlasan. Lebih parah lagi bila seseorang memang asalnya hanya memiliki amalan yang jumlahnya sedikit, lalu ia tak ikhlash di dalamnya, bahkan terkadang ia mengiringinya juga dengan bid'ah.

Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc.
________________