Anak belum bisa menalar teori serta sesuatu yang
abstrak. Maka, bukan hal yang mudah untuk menanamkan ajaran melalui
penjelasan teoritis. Cerita adalah salah satu dari sekian metode yang
bisa ditempuh untuk mengajari anak. Namun perlu diketahui, metode ini
pun seharusnya dituntun di bawah naungan syariat. Simak bahasannya.
Dalam pepatah disebutkan ‘siapa menanam, ia yang akan menuai’, hasil
yang dinantikan tentu sesuai dengan usaha dan jerih payahnya. Setelah
kehendak Allah tentunya.
Anak adalah hasil usaha orang tua. Sebagaimana yang Rasulullah ` sampaikan dalam hadits Aisyah x, beliau bersabda, “anak itu adalah hasil usaha seseorang.” [H.R. Abu Dawud dalam sunan beliau dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam shahih sunan Abu Dawud].
Seseorang akan memanen dengan hasil yang berlipat bahkan pahala
mengalir tanpa batas setelah matinya, ketika merencanakan dan
mengusahakan pertumbuhannya dengan sebaik-baiknya dan dengan selalu
memohon kemudahan kepada Allah.
Di sisi lain anak adalah orang yang paling berhak untuk mendapatkan
perlakuan yang terbaik. Karena, anak adalah amanah yang Allah titipkan
untuk dididik lahiriah dan batiniahnya. Sehingga setiap upaya untuk
mewujudkannya adalah termasuk kewajiban yang paling afdhal untuk
mendekatkan diri kepada Allah.
Mendongeng kepada anak, sebagaimana yang sudah sangat jamak dalam
masyarakat, merupakan sarana yang tepat untuk menyisipkan pelajaran
kepada anak. Apalagi anak cenderung menyukainya. Anak merasa mendapat
perhatian dan perlakuan spesial. Tetapi sayang, sedikit orang tua yang
perhatian terhadap masalah ini. Kebanyakan mereka asal mendongeng
sekedar sebagai pengantar tidur. Tidak jarang cerita fiksi penuh
khurafat dan takhayul disampaikan kepada anak. Mereka tidak mau tahu
terhadap akibat yang sangat mungkin timbul dari penyimpangan keagamaan
pada anak.
Banyaknya disebutkan kisah dalam Al Quran menjadi bukti kuat tentang
efektivitas dongeng dalam proses pendidikan. Bahkan Allah berfirman,
ﯫ ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ ﯰ ﯱﯲ ﯳ ﯴ ﯵ ﯶ ﯷ ﯸ ﯹ ﯺ ﯻ ﯼ ﯽ ﯾ ﯿ ﰀ ﰁ ﰂ ﰃ
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran
bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang
dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan
menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum
yang beriman.” [Q.S. Yusuf:111].
Dongeng yang berkualitas adalah yang mengandung bimbingan dan rahmat
yang menyejukkan hati pendengarnya sebagaimana Al Quran. Rasulullah `
pun, dalam banyak kesempatan beliau memberikan pelajaran dengan metode
ini, menyebutkan kisah-kisah yang sarat dengan hikmah, mengandung
nilai-nilai akidah, akhlak dan yang lainnya.
Orang tua yang bijak tidak hanya bisa memilih cerita yang menarik
bagi anaknya tetapi sekaligus yang benar dan penuh hikmah. Cerita-cerita
dalam Al Quran dan hadits-hadits Rasulullah adalah pilihan yang paling
tepat bagi orang tua. Tentunya setelah dikemas dengan bahasa yang mudah
dicerna oleh anak dengan penyebutan pelajaran yang terkandung di
dalamnya.
Di antara cerita yang baik adalah cerita bagaimana para sahabat
mencari, mempertahankan, dan memperjuangkan islam. Sejarah indah mereka
akan menumbuhkan kecintaan anak terhadap agamanya. Demikian pula kisah
teladan para ulama terdahulu, bagaimana semangat dan kesabaran mereka
menuntut ilmu, bagaimana akhlak mereka, dan yang lainnya. Ini semua akan
mencukupi kita dari dongeng-dongeng yang ada di sekitar kita.
Sekali lagi, orang tua harus ingat bahwa, cerita bukan sekedar
cerita. Tetapi akan membentuk daya imajinasi anak, akhlak, kepribadian,
serta agama mereka.
Kita semua tentu ingin anak-anak kita menjadi ladang pahala yang
selalu bisa kita panen bukan hanya di saat kita hidup di dunia saja,
tetapi setelah kita mati kelak. Oleh sebab itu dari sejak dini kita
tanamkan pendidikan yang baik bagi mereka di antaranya dengan cerita
penuh hikmah. Allahu a’lam. [Farhan].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar