Tampilkan postingan dengan label Seputar Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seputar Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Juni 2017

Adakah Zakat Fitrah bagi Orang yang Meninggal di Bulan Romadhon?

Adakah Zakat Fitrah bagi Orang yang Meninggal di Bulan Romadhon?

oleh :
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc.
- hafizhahullah -

Zakat Fitri terambil dari kata al-fithr (الفطر), dan lebih dikenal di Indonesia dengan “Zakat Fitrah”, walaupun penamaan ini keliru, dan yang benar adalah “Zakat Fitri”.

Zakat Fitri adalah zakat dan sedekah  yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim yang mendapati Romadhon, dan zakat ini wajib dikeluarkan saat berakhirnya Romadhon yang ditandai dengan tenggelamnya matahari pada malam Ied.

Jika seorang muslim yang mukallaf meninggal saat malam lebaran dan keluarnya Romadhan dengan tenggelamnya matahari saat itu, maka ia tidak wajib membayar ZAKAT FITRI.

Sebaliknya, jika ada seorang bayi yang lahir di malam lebaran, setelah tenggelamnya matahari yang mengakhiri bulan Romadhon, maka juga tidak ada kewajiban zakat fitri bagi bayi ini. Sebab, bayi ini teranggap tidak mendapati Romadhon.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin –rahimahullah- menerangkan kepada kita dua perkara ini,

ولو مات الإنسان قبل غروب الشمس ليلة العيد لم تجب فطرته أيضاً؛ لأنه مات قبل وجوب سبب الوجوب." اهــ من مجموع فتاوى ورسائل العثيمين (18/ 257)

“Andaikan ada seseorang yang meninggal sebelum matahari tenggelam pada malam Ied (malam lebaran), maka tidak wajib baginya zakat fitri. Karena, ia meninggal sebelum munculnya sebab kewajiban (untuk membayar zakat fitri).” [LihatMajmu’ Fatawa wa Rosa’il Al-Utsaimin (18/257)]

Syaikh Al-Utsaimin –rahimahullah- juga jelaskan,

فلو ولد للإنسان ولد بعد مغيب الشمس ليلة العيد لم تلزمه فطرته وإنما تستحب

“Andaikan dilahirkan seorang anak bagi seseorang, setelah tenggelamnya matahari pada malam ied (lebaran), maka tidak terharuskan baginya (mengeluarkan) zakat fitri; hanya dianjurkan.” [Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosa’il Al-Utsaimin(18/257)]

Demikian hukum zakat fitri bagi mereka yang meninggal di Bulan Romadhon, dan bayi yang lahir setelah selesainya Romadhon.

https://abufaizah75.blogspot.co.id/

Senin, 19 Juni 2017

Beberapa faidah yang tercatat dalam Ta'lim

بسم الله الرحمن الرحيم

Beberapa faidah yang tercatat dalam Ta'lim
( sambil Menunggu Waktu Buka Puasa )
Oleh:
Ust. Dzulqarnain  Muhammad Sunusi - Hafidzahulloh -  
di
Masjid Pondok As Sunnah Makassar


BAB Terangkatnya pengetahuan tentang Lailatul Qadr

ﻓﻌﻦ ﻋﺒﺎﺩﺓ ﺑﻦ ﺍﻟﺼﺎﻣﺖ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺧَﺮَﺝَ ﻳُﺨْﺒِﺮُ ﺑِﻠَﻴْﻠَﺔِ ﺍﻟْﻘَﺪْﺭِ ، ﻓَﺘَﻼﺣَﻰ ﺭَﺟُﻼﻥِ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ ، ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺇِﻧِّﻲ ﺧَﺮَﺟْﺖُ ﻷُﺧْﺒِﺮَﻛُﻢْ ﺑِﻠَﻴْﻠَﺔِ ﺍﻟْﻘَﺪْﺭِ ، ﻭَﺇِﻧَّﻪُ ﺗَﻼﺣَﻰ ﻓُﻼﻥٌ ﻭَﻓُﻼﻥٌ ﻓَﺮُﻓِﻌَﺖْ ، ﻭَﻋَﺴَﻰ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻟَﻜُﻢْ ، ﺍﻟْﺘَﻤِﺴُﻮﻫَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﺒْﻊِ ﻭَﺍﻟﺘِّﺴْﻊِ ﻭَﺍﻟْﺨَﻤْﺲِ 
‏( ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ، ﺭﻗﻢ 49 )


Dari Ubadah bin Shamit radhiallahu ‘anhu sesungguhnya Rasulullah sallalahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk memberitahukan Lailatul Qadar, dan ada dua orang dari umat Islam bertengkar. Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya saya keluar untuk memberitahukan kepada kamu semua Lailatul Qadar, dan sesungguhnya fulan dan fulan telah bertengkar. Maka diangkat (pengetahuan tentang Lailatul Qadar). Semoga hal itu untuk kebaikan kalian. Maka carilah (Lailatul Qadar) di malam tujuh, sembilan dan lima (terakhir)."
(HR. Bukhari, no. 49)

Beberapa Pelajaran dari hadist ini;

# Menegaskan bahwa Lailatul Qadr itu tidak tentu kapan waktunya turun

# Mengungkapkan pula bahwa Lailatul Qadr berada di Ramadhan dan berada di 10 malam terakhir di malam ganjil dan paling di harapkan di malam ke 27

# Terangkatnya pengetahuan tentang Lailatul Qadr karena terjadi karena perselisihan di tengah manusia

# Hal ini menunjukkan pula bahwa bolehnya menyampaikan berita yang menggembirakan maka kepada orang lain sepanjang berita tersebut tidak meninggalkan kejelekan.

Penyebaraan informasi secara umum memilik bagian dari fiqh dalam agama
Allah Ta'ala berfirman:

ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺟَﺎﺀَﻫُﻢْ ﺃَﻣْﺮٌ ﻣِﻦَ ﺍﻷﻣْﻦِ ﺃَﻭِ ﺍﻟْﺨَﻮْﻑِ ﺃَﺫَﺍﻋُﻮﺍ ﺑِﻪِ ﻭَﻟَﻮْ ﺭَﺩُّﻭﻩُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝِ ﻭَﺇِﻟَﻰ ﺃُﻭﻟِﻲ ﺍﻷﻣْﺮِ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻟَﻌَﻠِﻤَﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺴْﺘَﻨْﺒِﻄُﻮﻧَﻪُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻭَﻟَﻮْﻻ ﻓَﻀْﻞُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺘُﻪُ ﻻﺗَّﺒَﻌْﺘُﻢُ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥَ ﺇِﻻ ﻗَﻠِﻴﻼ ‏( ٨٣ )

"Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)." 
(QS. An-Nisaa : 83)

Kekeliruan besar saat ini adanya kebebasan menyiarkan berita pada media-media umum padahal tidak semua berita harus disebarkan tapi harus melalui  pemerintah terlebih dahulu.

# Berita dari Rasulullah sallalahu ‘alaihi wa sallam ini tentang turunnya Lailatul Qadr hanya pada tahun itu saja bukan berita yang menunjukkan penentuan turunnya Lailatul Qadr tiap tahunnya

# Hadist ini juga menunjukkan bahayanya perselisihan, makanya segala perselisihan hendaknya ditinggalkan

Ciri negeri yang baik ketika hati rakyat terikat dengan pemerintahnya  sehingga rakyat mematuhi pemerintahnya dalam perkara yang tidak  melanggar syariat dan ini  merupakan sebab keberkahan negeri tersebut.

Makanya seseorang yang ingin mendapatkan kebaikan di malam Lailatul Qadr maka bersihkan hati dari segala perselisihan , dari segala penyakit hati.

# Rasulullah bersabda

ﻭَﻋَﺴَﻰ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻟَﻜُﻢْ

(Semoga hal itu untuk kebaikan kalian)

Para ulama berkata, Terangkatnya pengetahuan tentang Lailatul Qadr  memiliki hikmah yang agung diantaranya;

1. Mengubah semangat agar hamba lebih bersungguh-sungguh dalam mencari malam Lailatul Qadr sehingga dengan hal ini dia akan menghidupkan malam terakhir ramadhan di atas ketaatan kepada Allah Ta'ala

2. Menghindarkan seorang hamba dari sifat malas menghidupkan malam malam terakhir ramadhan  dan hanya berdasar pada 1 malam saja

3. Seorang hamba akan menyempurnakan ibadah di malam terakhir bulan ramadhan.

4. Seorang hamba akan mengagungkan seluruh malam ramadhan

BAB beramal di sepuluh malam terakhir bulan ramadhan

ﻋﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ ﻗﺎﻟﺖ : ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺇِﺫَﺍ ﺩَﺧَﻞَ ﺍﻟْﻌَﺸْﺮُ ﺷَﺪَّ ﻣِﺌْﺰَﺭَﻩُ ، ﻭَﺃَﺣْﻴَﺎ ﻟَﻴْﻠَﻪُ ، ﻭَﺃَﻳْﻘَﻆَ ﺃَﻫْﻠَﻪُ . ‏( ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ، ﺭﻗﻢ 2024 ﻭﻣﺴﻠﻢ، ﺭﻗﻢ 1174 )

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, dia berkata: “Biasanya Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memasuki sepuluh (malam akhir) mengencangkan kainnya (semangat beribadah), menghidupkan malamnya serta membangunkan keluarganya.”
(HR. Bukhari, no. 2024. Muslim, no. 1174)

Beberapa Pelajaran dari hadist ini;

1. Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam mengencangkan kainnya maksudnya Beliau  menjauhi istrinya atau bermakna kesungguhan dari  Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam untuk beribadah


2. Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam menghidupkan malam artinya menghidupkan malam dengan ketaatan dengan tidak tidur

3. Malam artinya seluruh malam terakhir ramadhan

4. Bentuk ketaatan ketika menghidupkan malam terakhir ramadhan diantaranya itikaf,  sholat malam, membaca Al Qur'an, memperbanyak do'a, banyak bartaubat dan berisigfar, memperbanyak dzikir.

5. Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam juga membangunkan keluarganya, hal ini menunjukkan seseorang memiliki kewajiban kepada keluarganya untuk mengajaknya pula kepada ketaatan kepada Allah Ta'ala.

Yang terpenting bukanlah mencari Lailatul   Qadr tapi yang paling utama adalah bagaimana menghidupkan lailatul qadr dengan amalan dan ketaatan

Wallahu 'alam


Sumber : WAG As-Sunnah Makassar

(Sebagian teks telah diedit sebelum diposting)

☘☘☘

Repost http://t.me/akhwatahlussunnah

Jumat, 16 Juni 2017

Batasan Waktu Minimal I'tikaf

Batasan Waktu Minimal I'tikaf

Al-Allamah, DR. Sholih bin Fauzan-hafidzahullah-menuturkan :

 إذا تعذر عليك أن تعتكف العشر الأواخر من رمضان كاملة لماذا لاتعتكف في المسجد ولو لساعة واحده أو يوم واحد ان استطعت او من العشاء الى الفجر
 كل يوم نذهب الى المسجد لنصلي العشاء والقيام فلماذا لاتنوي الأعتكاف ولو من العشاء الى صلاة القيام أو حتى الى صلاة الفجر ثم تذهب لعلها توافق ليلة القدر فتفوز فوزا عظيما

"Apabila anda berhalangan untuk melakukan i'tikaf secara sempurna disepuluh akhir ramadhan, maka 
mengapa anda tidak i'tikaf dimasjid, walaupun hanya satu jam, atau sehari, atau dari isya hingga subuh, sesuai kemampuanmu.
Setiap hari kita berangkat ke masjid untuk mengerjakan sholat isya dan qiyamul lail (tarawih), lalu mengapa anda tidak berniat untuk i'tikaf, walaupun hanya dari waktu isya hingga tarawih, atau hingga sholat subuh, setelah pulang. Mudah-mudahan hal tersebut bertepatan dengan lailatul qadr sehingga anda pun meraih kemenangan yang besar."
____________
 Sumber :
Audio & Video Fatwa :
http://safeshare.tv/v/EJkW2w4DNvI
Alih Bahasa :
Ustadz Hilal Abu Naufal
http://bit.ly/1IRISAP


http://t.me/akhwatahlussunnah

Kamis, 15 Juni 2017

I'TIKAF

I’TIKAF
Oleh:
Ustadz Zakaria Ibnu Dzulkifli As Samarindy hafidzahullah



I’tikaf secara syariat maknanya adalah berdiam diri di mesjid yang dilakukan oleh Individu tertentu dengan cara-cara yang khusus dengan diiringi niat.

Hukum I’tikaf adalah Mustahabah berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’.

Sebagaimana firman Allah ta’ala :

وَلآ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ


Artinya : 
"Dan janganlah kamu menyentuh mereka, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid."
(QS. Al-Baqarah : 187)


Serta dari sunnah sebagaimana dalam hadits Aisyah, Ibnu Umar dan Abu Sa’id Radhiyallahu’ anhum :

أن النبي صلى الله عليه و سلم كان يعتكف في العشر الأواخر من رمضان

Artinya : 
"Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam biasa melakukan i’tikaf pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan." (Mutaffaqun Alaihi)


Dan dinukilkan Ijma’ tentang mustahabnya I’tikaf kecuali bagi yang bernadzar untuk melakukan I’tikaf maka hukumnya menjadi wajib baginya untuk menunaikannya.
Diantara yang menukilkan ijma’ dalam permasalahan ini diantaranya : Ibnul Mundzir, Ibnu Qudamah, An-Nawawi dan Ibnu Abdil Baar.

Adapun I’tikaf nadzar maka wajib untuk ditunaikan sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar Radhiyallahu’ anhuma :

لَمَّا قَفَلْنَا مِنْ حُنَيْنٍ سَأَلَ عُمَرُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَذْرٍ كَانَ نَذَرَهُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ اعْتِكَافٍ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِوَفَائِهِ

Artinya : 
"Ketika kami tiba dari perang Hunain, Umar bertanya kepada Nabi Shalallahu ‘alahi wassallam tentang nadzar, Dia (Umar) telah bernadzar ketika masa Jahiliyah untuk melakukan I’tikaf , Maka Nabi Shalallahu ‘alahi wassallam merintahkan kepada Umar untuk menunaikannya."
(HR. Bukhori No. 4320 dan Muslim No. 1646)


Diperbolehkan untuk tidak menyempurnakan I'tikaf, maknanya apabila seseorang berniat untuk beri’tikaf selama sepuluh hari kemudian pada hari ketiga dia membatalkannya maka tidak ada dosa baginya. Ini adalah pendapat Imam Ahmad dan Imam As-Syafi’i.

Sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam telah membatalkan I’tikafnya  pada bulan Ramadhan dan kemudian ber’tikaf pada bulan Syawal.

Sebagaimana dalam hadits Aisyah :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فَكُنْتُ أَضْرِبُ لَهُ خِبَاءً فَيُصَلِّي الصُّبْحَ ثُمَّ يَدْخُلُهُ فَاسْتَأْذَنَتْ حَفْصَةُ عَائِشَةَ أَنْ تَضْرِبَ خِبَاءً فَأَذِنَتْ لَهَا فَضَرَبَتْ خِبَاءً فَلَمَّا رَأَتْهُ زَيْنَبُ ابْنَةُ جَحْشٍ ضَرَبَتْ خِبَاءً آخَرَ فَلَمَّا أَصْبَحَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى الْأَخْبِيَةَ فَقَالَ مَا هَذَا فَأُخْبِرَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَالْبِرَّ تُرَوْنَ بِهِنَّ فَتَرَكَ الِاعْتِكَافَ ذَلِكَ الشَّهْرَ ثُمَّ اعْتَكَفَ عَشْرًا مِنْ شَوَّالٍ

Artinya : 
"Nabi beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Maka, aku membuatkan untuk beliau sebuah tenda. Setelah shalat subuh, beliau masuk ke dalam tenda itu.Kemudian Hafshah meminta izin kepada Aisyah untuk membuat sebuah tenda pula, maka Aisyah mengizinkannya. Kemudian Hafshah membuat tenda. Ketika Zainab binti Jahsy melihat tenda itu, maka ia membuat tenda yang lain. Ketika hari telah subuh, Nabi melihat tenda-tenda itu Lalu, Nabi bertanya, ‘ apa ini?’ Maka, beliau diberitahu Lalu, Nabi bersabda, Bagaimanakah sebaiknya menurut pikiran kamu mengenai mereka? ‘ Lalu, beliau menghentikan i’tikafnya dalam bulan itu. Kemudian beliau beri’tikaf pada sepuluh hari (terakhir) bulan Syawal."
(HR. Bukhori No. 2033 Muslim No. 1173)


Dan boleh melakukan I’tikaf di luar bulan Ramadhan sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam dalam hadits ini melakukan I’tikaf di bulan Syawal. Dan tidak disyaratkan harus berpuasa ketika melakukannya kecuali apabila dia bernadzar untuk melakukan I’tikaf dalam keadaan berpuasa. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Musaayib, Umar Bin Abdul Aziz, As-Syafi’i, Ibnul Mundzir, Ishaq dan satu riwayat yang terkenal dari Ahmad Rahimahumumullah .

Disyaratkan beri’tikaf pada mesjid-mesjid yang ditegakkan padanya sholat Jama’ah sehingga tidak perlu keluar dari mesjidnya tempat beri’tikaf untuk menghadiri Sholat Jama’ah. Ini Adalah pendapat Abu Hanifah, Ahmad dan Ishaq dan Abu Tsaur Rahimahumullah.

Dan bagi para wanita tidak sah melakukan I’tikaf kecuali di mesjid sehingga tidak boleh melakukannya di dalam rumah atau kamar, ini adalah pendapat Ahmad dan As-Syafi’i. Sebagaimana  dalam hadits Aisyah Radhiyallahu’ anhu yang baru saja lewat.

Dan tidak ada batasan waktu paling sedikit untuk melakukan I’tikaf, I’tikaf sah walaupun dilaksanakan beberapa saat dengan diiringi niat tentunya. Ini adalah pendapat As-Syafi’i, Dawud dan satu riwayat dari Ahmad dan pendapat ini yang dipilih oleh Ibnul Mundzir Rahimahumullah.

Dan berdasarkan Ijma’ boleh bagi orang yang beri’tikaf untuk keluar dari mesjid untuk kencing dan buang hajat. Dinukilkan Ijma' dalam permasalahan ini oleh lebih dari satu ulama diantaranya adalah Ibnul Mundzir dan Ibnu Qudamah Rahimahumallah. Adapun keluar dari mesjid untuk perrkara-perkara yang dia butuh kepadanya seperti makan dan minum, maka diperbolehkan apabila tidak ada yang mengantarkan kepadanya.

Sebagaimana dalam hadits Aisyah Radhiyallahu’ anha :

وَكَانَ لا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلآ لِحَاجَةٍ إِذَا كَانَ مُعْتَكِفًا

Artinya : 
"Dan apabila beliau beri’tikaf, maka beliau tidak masuk ke dalam rumah kecuali apabila memiliki keperluan."
(HR. Bukhori No. 2029 dan Muslim No. 297)


Begitu juga boleh untuk keluar dari mesjid dalam rangka menunaikan sesuatu yang wajib, misalkan seseorang melakukan I’tikaf di mesjid yang tidak ditegakkan sholat Jum’at maka boleh baginya untuk keluar menuju mesjid yang ditegakkan di dalamnya sholat Jum’at.
Apabila keluar dari Mesjid tanpa adanya kebutuhan maka i’tikafnya menjadi batal walaupun hanya sebentar, Ini adalah pendapat Imam Madzhab yang empat.
Adapun apabila yang keluar dari mesjid hanya sebagian anggota tubuhnya saja, maka tidak mengapa .

Sebagaimana dalam hadits Aisyah Radhiyallahu’ anha :

كان النبي صلى الله عليه و سلم إذا اعتكف يدني إلي رأسه فأرجله

Artinya : "Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam apabila beliau beri’tikaf, beliau memasukkan kepalanya kepadaku maka kemudian aku menyisir rambut beliau."
(HR. Bukhari No. 2031 dan Muslim No. 297)


Bagi yang ingin melakukan I’tikaf pada 10 hari bulan Ramadhan, maka I’tikafnya dimulai ketika terbenamnya matahari pada tanggal 20 Ramadhan, Ini adalah pendapat ulama-ulama madzhab yang empat dan pendapat beberapa ulama dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Syaikh Muqbil bin Hady Rahimahullah. Karena hari dimulai dengan terbenamnya matahari sebagaimana sholat tarawih yang tidak dilaksanakan kecuali pada bulan Ramadhan dilaksanakan pada malam setelah terbenamnya matahari di hari terakhir bulan sya’ban, ini dalil yang menunjukkan bahwa hari dimulai pada terbenamnya matahari. Dan selesai I’tikaf pada terbenamnya matahari pada hari terakhir bulan Ramadhan (malam Ied). Ini adalah pendapat As-Syafi’i dan Al-Auza’i Rahimahumullah.

Dan tidak disyariatkan untuk menempuh perjalanan jauh untuk berziarah ke mesjid tertentu tanpa memiliki tujuan lainnya, Hal ini berdasarkan kesepakatan Imam madzhab yang empat. Dan dikecualikan pada 3 mesjid, sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu’ anhu, RasulullahShalallahu ‘alahi wassallam bersabda :

لا تُشَدُّ الرِّحَالُ الا إِلَى ثَلاثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى

Artinya : ”Dan tidaklah bersusah payah melakukan perjalanan jauh kecuali ke tiga Mesjid : Masjidil Al-Haram, Mesjid Rasul (Mesjid Nabawi)  dan Mesjid Al-Aqsha” (HR. Bukhori 1189 dan Muslim No. 3384)

Channel Telegram http://t.me/akhwatahlussunnah

Rabu, 14 Juni 2017

HADITS-HADITS SHAHIH SEPUTAR MALAM LAILATUL QADAR

Oleh:
Farhan Bin Ramli Ahmad-حفظه الله-


[KEUTAMAANNYA]:

1) Dari Shahabat Abu Hurairah-رضي الله-bahwa Rasulullah-صلى الله عليه وسلم-bersabda:

”من يقم ليلة القدر إيماناً واحتسابا غفر لله ما تقدم من ذنبه“

“Barangsiapa yang menegakkan (menghidupkannya dengan ibadah, pent) lailatul qadar karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya), maka akan diampuni dosa-dosa yang telah berlalu”.
[HR. Imam Bukhari, No. 35]

2) Dari Shahabat Anas Bin Malik -رضي الله عنه- berkata:

دخل رمضان فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  
”إن هذا الشهر قد حضركم وفيه ليلة خير من ألف شهر من حرمها فقد حرم الخير كله ولا يحرم خيرها إلا محروم“

Ketika datang bulan ramadlan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya bulan ini telah hadir kepada kalian. Di bulan ini ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa diharamkan darinya, maka dia telah diharamkan kebaikan semuanya. Dan tidak diharamkan kebaikannya kecuali orang yang terhalang dari kebaikan”.
[HR. Imam Ibnu Majah, No. 1644].


[PETUAH NABAWI DI SEPULUH AKHIR RAMADHAN]:

3) Dari 'Aisyah-رضي الله عنها-, berkata:

”كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر أحيا الليل وأيقظ أهله وجد وشد المئزر“

Ketika Rasulullah-shallallahu 'alaihi wasallam-memasuki sepuluh terakhir (Ramadlan), maka beliau menghidupkan malam-malamnya (dengan ibadah) dan membangunkan keluarganya serta mengencangkan ikatan kainnya (menjauhi isterinya untuk lebih konsentrasi beribadah)."
[HR. Imam Muslim, No. 1174].

4) Dari 'Aisyah -رضي الله عنها-:

”أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يرغِّب الناس في قيام رمضان من غير أن يأمرهم بعزيمة أمر فيه فيقول من قام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه“

“Rasulullah-shallallahu 'alaihi wasallam-menganjurkan mereka untuk melakukan qiyamullail di bulan Ramadlan tanpa menyuruh mereka dengan perintah yang mengharuskan lalu bersabda:

“Barangsiapa yang melakukan qiyamullail pada malam lailatul Qadar di bulan Ramadlan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dari dosanya yang telah berlalu”
[HR. Imam An-nasaai, No. 2192 dan Dihasankan oleh Syaikh Al-Bani]

5) Dari Shahabat Abdullah Bin 'Amr-رضي الله عنه-:

”أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يعتكف العشر الأواخر من رمضان

قال نافع وقد أراني عبد الله رضي الله عنه المكان الذي كان يعتكف فيه رسول الله صلى الله عليه وسلم  من المسجد“

“Bahwa Rasulullah-shallallahu 'alaihi wasallam-melakukan I'tikaf pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadlan.

Nafi' berkata:
Dan Abdullah bin Umar telah memperlihatkan kepadaku tempat yang terdapat dalam ruangan Masjid, tempat yang Rasulullah-shallallahu 'alaihi wasallam-pergunakan untuk melakukan I'tikaf”.
[HR. Imam Muslim, No. 1171]

[WAKTUNYA]:

6) Dari Shahabat Abu Salamah -رضي الله عنه-, berkata:

انطلقت إلى أبي سعيد الخدري رضي الله عنه فقلت:
ألا تخرج بنا إلى النخل نتحدث فخرج فقال قلت حدثني ما سمعت من النبي صلى الله عليه وسلم في ليلة القدر؟ 
قال اعتكف رسول الله صلى الله عليه وسلم عشر الأول من رمضان واعتكفنا معه فأتاه جبريل فقال:

”إن الذي تطلب أمامك“
فاعتكف العشر الأوسط فاعتكفنا معه فأتاه جبريل فقال:
”إن الذي تطلب أمامك“
قام النبي صلى الله عليه وسلم خطيباً صبيحة عشرين من رمضان فقال:

”من كان اعتكف مع النبي صلى الله عليه وسلم فليرجع فإني أُرِيت ليلة القدر وإني نُسِّيتُها وإنها في العشر الأواخر وفي وتر وإني رأيت كأني أسجد في طين وماء“

وكان سقف المسجد جريد النخل وما نرى في السماء شيئاً فجاءت قزعة فأمطرنا.
فصلى بنا النبي صلى الله عليه وسلم حتى رأيت أثر الطين والماء  على جبهة رسول الله صلى الله عليه وسلم وأرنبته تصديق رؤياه“

Aku pergi menemui Abu Sa'id Al Khudri, lalu aku bertanya kepadanya:

Maukah anda pergi bersama kami ke bawah pohon kurma lalu kita berbincang-bincang di sana?

Ia pun pergi dan bercakap-cakap bersama kami.

Aku kemudian berkata:
Ceritakanlah kepadaku apa yang pernah anda dengar dari Nabi -صلى الله عليه وسلم-tentang Lailatul Qadar?!

Dia lalu menjelaskan:

Rasulullah -صلى الله عليه وسلم - melaksanakan i'tikaf pada sepuluh malam yang awal dari Ramadan, dan kami juga ikut beri'tikaf bersama beliau.

Lalu datanglah Malaikat Jibril berkata:

“Sesungguhnya apa yang kamu cari ada di depan kamu (pada malam berikutnya)”

Maka Beliau beri'tikaf pada sepuluh malam pertengahannnya dan kami pun ikut beri'tikaf bersama Beliau.

Kemudian Malaikat Jibril datang lagi dan berkata:

“Sesungguhnya apa yang kamu cari ada di depan kamu (pada malam berikutnya)”

Maka Nabi -صلى الله عليه - berdiri memberi khutbah kepada kami pada pagi hari di hari ke dua puluh dari bulan Ramadan, sabdanya:

“Barangsiapa sudah beri'tikaf bersama Nabi -صلى الله عليه وسلم - maka pulanglah (kembalilah), karena aku diperlihatkan (dalam mimpi) Lailatul Qadar namun aku dilupakan waktunya yang pasti. Namun dia ada pada sepuluh malam-malam akhir dan pada malam yang ganjil. Sungguh aku melihat dalam mimpi, bahwa aku sujud di atas tanah dan air (yang becek)”. Pada masa itu atap masjid masih terbuat dari daun dan pelepah pohon kurma, dan kami tidak melihat sesuatu di atas langit hingga kemudian datang awan dan turunlah air hujan. Maka Nabi -صلى الله عليه وسلم -, shalat bersama kami hingga aku melihat sisa-sisa tanah dan air pada wajah dan ujung hidung Rasulullah -صلى الله عليه وسلم - sebagai bukti kebenaran mimpi beliau."
[HR. Bukhari, No. 780].


7) Dari A'isyah-رضي الله عنها-berkata:

"كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يجاور في العشر الأواخر من رمضان ويقول:

”تحروا ليلة القدر في العشر الأواخر من رمضان“

Dahulu Rasulullah -صلى الله عليه وسلم-melakukan Ibadah i'tikaf di Sepuluh terakhir dari Ramadhan dan bersabda:

“Carilah malam Lailatul qadar di Sepuluh terakhir dari Ramadhan.
[HR. Bukhari, No. 1916]

8) Dari Nafi' dari Shahabat Ibnu 'Umar -رضي الله عنه-:

"أن رجالاً من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم أروا ليلة القدر في المنام في السبع الأواخر فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

”أرى رؤياكم قد تواطأت في السبع الأواخر فمن كان متحريها فليتحرها في السبع الأواخر“

"Bahwa ada seorang dari sahabat Nabi -صلى الله عليه وسلم- ada yang menyaksilan Lailatul Qadar dalam mimpinya terjadi pada tujuh hari terakhir.
Maka Rasulullah -صلى الله عليه وسلم- berkata:

“Aku memandang bahwa mimpi kalian tentang Lailatul Qadar tepat terjadi pada tujuh malam terakhir, maka siapa yang mau mendekatkan diri kepada Allah dengan mencarinya, lakukanlah pada tujuh malam terakhir”
[HR. Bukhari, No. 1917]

9) Dari Shahabat 'Ubadah Bin Shomit -رضي الله عنه- berkata:

"خرج النبي صلى الله عليه وسلم ليخبرنا بليلة القدر فتلاحى رجلان من المسلمين فقال:

”خرجت لأخبركم بليلة القدر فتلاحى فلان وفلان فرفعت وعسى أن يكون خيراً لكم فالتمسوها في التاسعة والسابعة والخامسة“

"Bahwa Rasulullah -صلى الله عليه وسلم- keluar untuk menjelaskan tentang Lailatul Qodar, lalu ada dua orang muslimin saling berdebat/bertikai.

Maka Nabi bersabda:

“Aku datang untuk menjelaskan Lailatul Qodar kepada kalian, namun fulan dan fulan saling berdebat/bertikai. Sehingga akhirnya diangkat (lailatul qodar), dan semoga menjadi lebih baik buat kalian, maka dari itu intailah (lailatul qodar) itu pada hari yang kesembilan, ketujuh dan kelima”
[HR. Bukhari, No. 1919]

10) Dari Laahiq Bin Humaid dsn 'Ikrimah bahwa' Umar berkata:

"من يعلم متى ليلة القدر؟ قالا: فقال ابن عباس رضي الله عنه: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

”هي في العشر في سبع يمضين، أو سبع يبقين“

"Siapa yang tahu kapan terjadinya lailatul qadar?" Maka Ibnu Abbas pun berkata; Rasulullah -صلى الله عليه وسلم- bersabda: “Yaitu pada ke sepuluh, di ketujuh yang berlalu atau ketujuh tersisa”.
[HR. Imam Ahmad, No. 2543]

11) Dari Shahabat Mu'awiah -رضي الله عنه- bahwa Nabi -صلى الله عليه وسلم-:

”التمسوا ليلة القدر ليلة سبع و عشرين“

“Carilah malam laitul qodar itu di malam ke dua puluh tujuh*
[HR. Imam Thabrani dalam alkabir dan dishahihkan oleh Al-Bani dalam shahihul jami', No. 1240].

12) Dari Mu'awiyah -رضي الله عنه- berkata: telah bersabda Rasulullah -صلى الله عليه وسلم-:

”التمسوا ليلة القدر في آخر ليلة“

“Carilah malam laitul qadar itu di akhir malam."
[HR. Imam Ibnu Khuzhaimah No. 2183, dan di Shahihkan oleh Syaikh Albani]

13) Dari Shahabat Abdillah Bin Unais -رضي الله عنه- bahwa Rasulullah -صلى الله عليه وسلم-bersabda:

”تحروا ليلة القدر ليلة ثلاث و عشرين“

“Carilah Malam lailatul qadar itu di malam kedua puluh tiga”
[HR. Imam Thabrani dalam alkabir, dan dishahihkan oleh Syaikh Albani].

14) Dari Shahabat Abdullah Bin Abbas -رضي الله عنه-:

"أن رجلا أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يا نبي الله إني شيخ كبير عليل يشق علي القيام فأمرني بليلة لعل الله يوفقني فيها لِلَيْلَةِ القدر قال:
”عليك بالسابعة“

Bahwa ada seorang lelaki mendatangi Rasulullah dan berkata:
"Wahai Nabi Allah, saya adalah orang yang sudah tua renta yang sakit sakitan, sulit bagiku untuk berdiri, maka perintahkan kepadaku dengan satu malam semoga Allah menetapkanku bertemu dengan malam lailatul qodar."
Beliaupun bersabda:
“Hendaknya engkau menghidupkan malam ketujuh dengan Ibadah”.
[HR. Imam Ahmad dalam musnadnya, no:2149, berkata: Al-Arnauth: sanadnya Shahih atas syarat Bukhari]

15). Dari Shahabat Abdullah Bin 'Abbas -رضي الله عنه- Berkata:

"أُتِيْتُ وأنا نائم في رمضان فقيل لي إن الليلة ليلة القدر قال: فقمت وأنا ناعس.
فتعلقت ببعض أطناب فسطاط رسول الله - صلى الله عليه وسلم - فأتيت رسول الله - صلى الله عليه وسلم - فإذا هو يصلي قال فنظرت في تلك الليلة فإذا هي ليلة ثلاث وعشرين.

"Aku didatangi ketika aku sedang tidur(dalam mimpi) pada malam ramadhan. Kemudian di sampaikan kepadaku; bahwa malam ini adalah malam lailatul qadar,
maka aku pun bangun dengan rasa kantuk yang masih menyelimuti. Aku bergelayutan kepada tali tenda Rasulullah -صلى الله عليه وسلم- dan ternyata beliau sedang melakukan shalat. Kemudian aku perhatikan malam itu, dan ternyata malam itu adalah tanggal dua puluh tiga".
[HR. Imam Ahmad No. 2302, dan berkata Al-arnauth: hasan li goirih].

16) Dari Abdullah Bin 'Abbas -رضي الله عنه- bahwa Rasulullah -صلى الله عليه وسلم- bersabda:

”التمسوها في العشر الأواخر -يعنى ليلة القدر-  فإن ضعف أحدكم أو عجز فلا يُغْلَبَنَّ على السبع البواقي“

“Carilah lailatul Qadr pada sepuluh akhir bulan Ramadlan, jika salah seorang diantara kalian lemah atau tidak mampu, jangan sekali-kali melewatkan tujuh hari akhir yang tersisa"
[HR. Abdullah Bin Ahmad, No. 5485, Berkata: sanadnya shahih atas syarat Imam Muslim].

17) Dari Abu Hurairah -رضي الله عنه- berkata:

"ذكرنا ليلة القدر عند رسول الله - صلى الله عليه وسلم - فقال رسول الله - صلى الله عليه وسلم -:

”كم مضى من الشهر؟“

فقلنا: مضى اثنان وعشرون يوما وبقي ثمان فقال - صلى الله عليه وسلم -:

”لا بل مضى اثنان وعشرون يوما وبقي سبع الشهر تسع وعشرون يوما فالتمسوها الليلة“

Suatu ketika kami menyebutkan tentang malam lailatul qadar di sisi Rasulullah -صلى الله عليه وسلم-, maka beliaupun bersabda:

“Sudah berapa hari berlalu dari bulan(ramadhan)?

Kamipun menjawab:
Sudah berlalu dua puluh dua malam dan sisa delapan(hari) lagi.

Beliau pun bersabda:

“Tidak, bahkan telah berlalu dua puluh dua dan sisa tujuh hari lagi, bulan itu dua puluh sembilan hari. Maka carilah(lailatu qadar) pada malam ini (malam dua tiga, pent).
[HR. Imam Ibnu Hibban, No. 2548, berkata Al-arnauth: sanadnya shahih atas syarat Bukhari dan muslim]


[TANDANYA]:

18) Dari Ibnu 'Abbas -رضي الله عنه- bahwa Rasulullah -صلى الله عليه وسلم- bersabda tentang malam lailatul qadar:

”ليلة القدر ليلة سمحة طلقة لا حارة و لا باردة تصبح الشمس صبيحتها ضعيفة حمراء“

“Malam Lailatu qadar itu adalah malam yang cerah, tidak panas dan tidak dingin. Di pagi harinya matahari lemah memerah”.
[HR. Imam Al-Baihaqi dalam syu'abul iman, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Bani dalam shahihul jami', No. 5475].

19) Dari Shahabat Zhir -رضي الله عنه- berkata:

Aku berkata kepada Ubay Bin Ka'bin -رضي الله عنه- Sampaikan kepadaku tentang malam lailatu qadar, karena Shahabat kita Abdullah Bin Mas'ud telah di tanya tentangnya, maka dia menjawab:

Barangsiapa yang menghidupkan malam setahun penuh, pasti dia akan memperoleh malam lailatul qadar.

Maka Ubay Bin Ka'b pun berkata:

"رحم الله أبا عبد الرحمن لقد علم أنها في رمضان ولكنه كره أن يتكلوا أو أحب أن لا يتكلوا.
والله إنها لفي رمضان ليلة سبع وعشرين.
لا يستثني
قال: قلت: يا أبا المنذر أني علمت ذلك؟
قال بالآية التي أ
خبرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم
قال: قلت لزر:
ما الآية قال:
تطلع الشمس صبيحة تلك الليلة ليس لها شعاع مثل الطست حتى ترتفع".

"Semoga Allah merahmati Aba Abdirrohman (kunnyah abdullah bin mas'ud), Sesungguhnya dia telah tau bahwa malam lailatu qadar itu di bulan ramadhan. Hanya saja beliau tidak suka manusia itu akan bergantungan dengannya. Demi Allah sesungguhnya malam lailatul qodar itu di malam kedua puluh tujuh (ramadhan, pen).
Dan beliau (ubay bin ka'b) tidak mengucapkan Insyaallah dalam sumpahnya itu.
Kemudian aku (Shahabat Zhir) berkata:
Wahai Abal Munzir(kunnyah Ubay) bagaiamana engkau bisa tau?
Beliau pun menjawab:
"Dengan tanda yang telah di sampai Rasulullah kepada kami". Yaitu di pagi harinya matahari Seperti belanga sampai meninggi.
[HR. Ibnu Khuzhaimah, No. 2193, dan dishahihkan oleh syaikh Albani].

20) Dari Abu Hurairah -رضي الله عنه- bahwa Rasulullah -صلى الله عليه وسلم- bersabda tentang malam lailatul qodar:

”إنها ليلة سابعة أو تاسعة وعشرين إن الملائكة تلك الليلة في الأرض أكثر من عدد الحصى“

“Sesungguhnya malam lailatul qadar itu adalah pada malam ketujuh, atau dua puluh sembilan. dan sesungguhnya pada malam itu jumlah malaikat di bumi lebih banyak dari jumlah pasir”.
[HR. Abdullah Bin Imam Ahmad, No. 1073, Dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Ash-Shahîhah, No. 2205].

21) Dari Shahabat Jabir -رضي الله عنه-, bahwa Rasulullah -صلى الله عليه وسلم- bersabda:

”إني كنت أُرِيت ليلة القدر ثم نسيتها وهي في العشر الأواخر
وهي طلقة بجة لا حارة ولا باردة كأن فيها قمراً يفضح كواكبها لا يخرج شيطانها حتى يخرج فجرها

“Sesungguhnya aku telah di perlihatkan malam lailatul qadar, kemudian aku dilupakan. Dan (yang pasti) malam lailatul qadar itu di Sepuluh terakhir (ramadhan). Merupakan sebuah malam yang cerah tidak panas dan tidak dingin, bulan di malam itu bulan memancarkan bintang-bintang malamnya, tidak keluar Syaithan malam itu sehingga keluar fajarnya.
[HR. Imam Ibnu Hibban, No. 3688, dishahih kan oleh Al-Arnauth]

[DZIKIR YANG DI BACA PADA MALAM TERSEBUT]:

22) Dari 'Aisyah -رضي الله عنها- berkata:

"يا نبي الله أرأيت إن وافقت ليلة القدر ما أقول؟ قال: تقولين:

”اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني“

"Wahai Rasulullah!
Bagaimana jika aku mendapatkan lailatul qodar, apa yang hendaknya aku baca?
Beliau bersabda:
Berdo'alah: “ALLAHUMMA INNAKA 'AFUWWUN TUHIBBUL 'AFWA FA' FU 'ANNI” (ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun lagi mencintai ampunan)."
[HR. Imam Ahmad dalam musnadnya, No. 26215, dishahihkan oleh Al-arnauth].

posted from Bloggeroid

Jumat, 02 Juni 2017

ADAKAH KEUTAMAAN MENINGGAL DI BULAN RAMADHAN

Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah berkata:

"Jika dia meninggal pada bulan Ramadhan, maka tidaklah saya ketahui sesuatupun yang menunjukkan adanya keutamaan khusus di bulan ini. Namun di harapkan untuknya jika dia meninggal
dalam kondisi berpuasa dengan benar, maka diharapkan kebaikan yang besar untuknya. Hanya saja saya tidak mengetahui adanya sesuatu yang khusus tentang meninggal di bulan Ramadhan."

📀Nurun 'Ala ad-Darb Ibnu Baz (13/477)

http://t.me/ukhwh

قال شيخ ابن باز:

إذا مات في رمضان ما أعلم فيه شيئا يدل على فضل خاص، لكن يرجى له، إذا مات وهو صائم مستقيم يرجى له الخير العظيم، ولكن لا أعلم شيئا خاصا في موت رمضان،
فتاوى نور على الدرب ابن باز (13/477)

🌿🍀🌿🍀🌿🍀🌿🍀🌿🍀🌿🍀🌿

➡ Repost http://t.me/akhwatahlussunnah

       🌷 Akhwat Ahlussunnah 🌷

posted from Bloggeroid

Selasa, 30 Mei 2017

LEBIH UTAMA MENGHAFAL ATAU MEMPERBANYAK BACAAN UNTUK KHATAM

📒 TANYA JAWAB

 بسم الله الرحمن الرحيم

Pertanyaan:

Di bulan ramadhan mana yg lebih utama, membaca alquran agar banyak khatamnya atau menghafal alquran (misal 1 hari 1 halaman) dan hanya mengulang2 hafalan alquran yg sudah pernah di hafal agar mutkin?

Jawab:

Yang lebih utama digabungkan keduanya misalnya pagi untuk menghafal dan mengulangi hafalan, dan diwaktu lain untuk membaca Al-Quran secara umum supaya diselesaikan bacaannya dibulan ramadhan

والله أعلم

Yaman
Mabar

2 Ramadhan 1438 H


Abu Bakar Rafi` bin Ladukani
Al-Buthoniy

🌿🍀🌿🍀🌿🍀🌿🍀🌿🍀🌿🍀🌿

         ➡ Turut menyebarkan

       🌷 Akhwat Ahlussunnah 🌷

➡️ Mari bergabung di Grup Khusus Akhwat ⤵️

🔽 Telegram http://t.me/akhwatahlussunnah
🔽 Whatsapp https://chat.whatsapp.com/1oKUiZifHRr6lH9mp8tZ1A

posted from Bloggeroid

Senin, 29 Mei 2017

Batasan Waktu Sahur dan Imsak Yang Kurang Diperhatikan

Batasan Waktu Sahur dan Imsak Yang Kurang Diperhatikan


Yang sangat perlu diperhatikan dalam sahur ini dan banyak dilupakan kaum Muslimin sekarang adalah disunnahkannya memperlambat sahur sampai mendekati waktu Shubuh (fajar) sebagaimana yang dilakukan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dijelaskan dalam hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu , beliau berkata :

تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ n ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً

Kami bersahur bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau pergi untuk shalat.” Aku (Ibnu Abbas) bertanya, “Berapa lama antara adzan dan sahur?” Beliau menjawab, “Sekitar 50 ayat.” [4].

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan hadits ini dengan menyatakan, "Ketika memperkuat badan untuk berpuasa dan menjaga semangat beraktifitas padanya termasuk tujuan makan sahur, maka termasuk hikmah adalah mengakhirkannya. [Tanbîhul Afhâm, 3/39]

Dalam hadits yang mulia di atas dijelaskan jarak waktu mulai makan sahur dengan adzan shalat Shubuh adalah seukuran orang membaca lima puluh ayat secara sedang tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. [Lihat penjelasannya dalam kitab Tanbîhul Afhâm, 3/39]

Salah seorang shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bernama menceritakan :

كُنْتُ أَتَسَحَّرُ فِي أَهْلِي ثُمَّ تَكُونَ سُرْعَتِي أنْ أدْرِكَ السُّجُودَ مَعَ رَسُولِ اللهِ

Aku makan sahur bersama keluargaku, kemudian aku segera bergegas menuju masjid agar aku bisa bersujud (pada rakaat pertama shalat shubuh) bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam [HR. al-Bukhâri no. 1786]

Dengan demikian ketentuan " imsak" yakni menahan diri dari makan dan minum beberapa saat sebelum terbitnya fajar adalah perkara yang di ada-adakan oleh sebagian kaum Muslimin dan menyelisihi firman Allâh Azza wa Jalla :

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. [al-Baqarah/2: 187]

Juga menyelisihi tuntunan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat beliau Radhiyallahu anhum.

Para Ulama telah menegaskan bahwa hal tersebut termasuk sikap berlebih-lebihan dalam beragama, walaupun dilakukan dengan alasan kehati-hatian dan menjaga diri dari perkara yang haram.

Al-Hâfizh Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan, "Termasuk kebidahan yang mungkar adalah yang terjadi di zaman ini berupa dikumandangkannya adzan kedua (yaitu) dua puluh menit sebelum fajar di bulan Ramadhan dan memadamkan pelita-pelita yang dijadikan sebagai tanda tidak boleh makan dan minum bagi orang yang ingin berpuasa. Ini dengan anggapan dari orang yang membuat-buatnya untuk kehati-hatian dalam ibadah dan hal ini tidak diketahui adanya kecuali oleh beberapa orang saja. Hal ini menyeret mereka untuk tidak mengumandangkan adzan hingga setelah matahari terbenam beberapa waktu untuk memastikanm waktunya dalam anggapan mereka. Lalu mereka mengakhirkan buka puasa dan mempercepat sahur serta menyelisihi sunnah. Oleh karena itu sedikit sekali kebaikan dari mereka dan banyak pada mereka keburukan. Allâhul musta’an. [Dinukil dari Khulâshah al-Kalam, hlm. 118].

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, "Imsak yang dilakukan oleh sebagian orang itu adalah suatu tambahan dari apa yang diwajibkan oleh Allâh Azza wa Jalla sehingga menjadi kebatilan, dia termasuk perbuatan yang diada-adakan dalam agama Allâh padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, yang artinya, "Celakalah orang yang mengada-adakan! Celakalah orang yang mengada-adakan ! Celakalah orang yang mengada-adakan !" [Fatâwâ Arkânil Islâm Syeikh ibnu Utsaimin]

Wallahu ta'ala a'lam bish showab

Markaz Dakwah Ar-Risalah Kendari

🍁🍁🍁🍁🍁☘☘☘🍁🍁🍁🍁🍁

 ➡ Turut menyebarkan

       🌷 Akhwat Ahlussunnah 🌷

➡️ Mari bergabung di Grup Khusus Akhwat ⤵️

🔽 Telegram http://t.me/akhwatahlussunnah

posted from Bloggeroid

Kamis, 25 Mei 2017

Cara Menentukan Awal Ramadhan Menurut Syari’at

Oleh:
Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Cara Menentukan Awal dan Akhir Ramadhan Menurut Syari’at

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ

“Berpuasalah karena kalian telah melihat bulan dan berbukalah (berhari raya idul fitri) karena kalian telah melihatnya, apabila kalian terhalangi melihatnya maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban menjadi 30 hari.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

#Beberapa_Permasalahan:

Pertama:
Peringatan bagi Kaum Muslimin untuk Mengikuti Tuntunan Syari’at dalam Penetapan Awal dan Akhir Ramadhan

Hadits yang mulia di atas adalah kata putus dari Allah subhanahu wa ta’ala melalui lisan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam dalam permasalahan cara menetapkan awal dan akhir bulan Ramadhan dan bulan-bulan yang lainnya. Maka sudah sepatutnya kaum muslimin untuk selalu merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, agar selamat dari kesesatan dan perselisihan. Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (As-Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [An-Nisa: 59]

Kedua:
Dua Cara Penetapan Awal Ramadhan

Hadits yang mulia ini menunjukkan dua cara menetapkan awal bulan Ramadhan:

1) Melihat hilal, yaitu bulan yang muncul setelah terbenam matahari pada tanggal 29 Sya’ban.

2) Menggenapkan bulan Sya’ban menjadi 30 hari (ketika bulan tidak terlihat).

Inilah dua cara yang disyari’atkan, adapun selain itu seperti menetapkan awal bulan Ramadhan dengan ilmu hisab maka termasuk kategori mengada-ada (bid’ah) dalam agama dan menyelisihi petunjuk Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

يَجِبُ صَوْمُ رَمَضَانَ بِاسْتِكْمَالِ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ، أَوْ رُؤْيَةِ هِلَالِهِ

“Wajib berpuasa Ramadhan dengan menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi 30 hari atau melihat hilal Ramadhan.” [Roudhatut Thoolibin

Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah juga berkata,

فَالصَّوَابُ ماقاله الْجُمْهُورُ وَمَا سِوَاهُ فَاسِدٌ مَرْدُودٌ بِصَرَائِحِ الْأَحَادِيثِ السَّابِقَةِ

“Maka yang benar adalah pendapat Jumhur ulama, dan yang selain itu adalah pendapat yang rusak lagi tertolak berdasarkan hadits-hadits sebelumnya yang jelas maknanya.” [Al-Majmu’, 6/270]

Bahkan para ulama yang lainnya telah menukil ijma’ (kesepakatan ulama) atas wajibnya menetapkan awal bulan dengan ru’yah hilal atau menngenapkan bulan menjadi 30 hari, dan penetapan dengan cara hisab adalah batil. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وَلَا رَيْبَ أَنَّهُ ثَبَتَ بِالسُّنَّةِ الصَّحِيحَةِ وَاتِّفَاقِ الصَّحَابَةِ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ الِاعْتِمَادُ عَلَى حِسَابِ النُّجُومِ

“Tidak diragukan lagi bahwa telah tetap berdasarkan sunnah yang shahih dan kesepakatan sahabat, tidak boleh menetapkan awal bulan Ramadhan dengan berpatokan kepada hisab nujum.” [Majmu’ Al-Fatawa

Dan ternyata, kelompok yang pertama kali menggunakan hisab adalah kelompok sesat Syi’ah. Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

وَقَدْ ذَهَبَ قَوْمٌ إِلَى الرُّجُوعِ إِلَى أَهْلِ التَّسْيِيرِ فِي ذَلِكَ وَهُمُ الرَّوَافِضُ وَنُقِلَ عَنْ بَعْضِ الْفُقَهَاءِ مُوَافَقَتُهُمْ قَالَ الْبَاجِيُّ وَإِجْمَاعُ السَّلَفِ الصَّالح حجَّة عَلَيْهِم 

“Sebagian orang berpendapat untuk merujuk kepada ahli hisab dalam penetapan bulan, mereka itu adalah Syi’ah Rafidhah dan dinukil persetujuan terhadap pendapat tersebut dari sebagian fuqoho, maka Al-Baaji berkata: Dan ijma’ As-Salafus Shalih adalah hujjah atas mereka. Dan berkata Ibnu Bazizah: Menggunakan hisab adalah pendapat yang batil.” [Fathul Baari

Ketiga:
Apa Kewajiban Pemerintah?

Pemerintah hendaklah menetapkan awal puasa Ramadhan dengan persaksian melihat bulan meskipun oleh satu orang saksi yang terpercaya, adapun bulan Syawwal dan bulan-bulan lainnya dengan dua orang saksi yang terpercaya. Sahabat yang Mulia Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma berkata,

تَرَاءَى النَّاسُ الْهِلَالَ، فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِّي رَأَيْتُهُ، فَصَامَ وَأَمَرَ النَّاسَ بِالصِّيَامِ

“Manusia berusaha melihat hilal, maka aku mengabarkan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bahwa aku telah melihatnya, beliau pun berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, Shahih Abi Daud

Sahabat yang Mulia Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata,

جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ

“Seorang Arab dusun datang kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam seraya berkata: Sungguh aku telah melihat hilal. Beliau bersabda: Apakah kamu bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah? Ia berkata: Ya. Beliau bersabda lagi: Apakah kamu bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah? Ia berkata: Ya. Beliau bersabda: Wahai Bilal, umumkan kepada manusia, hendaklah mereka berpuasa besok.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi]

Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah berkata,

وَالعَمَلُ عَلَى هَذَا الحَدِيثِ عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ العِلْمِ قَالُوا: تُقْبَلُ شَهَادَةُ رَجُلٍ وَاحِدٍ فِي الصِّيَامِ، وَبِهِ يَقُولُ ابْنُ الْمُبَارَكِ، وَالشَّافِعِيُّ، وَأَحْمَدُ، وَأَهْلِ الْكُوفَةِ، قَالَ إِسْحَاقُ: لاَ يُصَامُ إِلاَّ بِشَهَادَةِ رَجُلَيْنِ، وَلَمْ يَخْتَلِفْ أَهْلُ العِلْمِ فِي الإِفْطَارِ أَنَّهُ لاَ يُقْبَلُ فِيهِ إِلاَّ شَهَادَةُ رَجُلَيْنِ

“Kebanyakan ulama mengamalkan hadits ini, mereka berpendapat: Persaksian satu orang diterima dalam penetapan awal puasa, ini pendapat Ibnul Mubarok, Asy-Syafi’i, Ahmad dan ulama Kufah. Adapun Ishaq berkata, ‘Tidak boleh mulai berpuasa kecuali dengan persaksian dua orang saksi’. Dan ulama tidak berbeda pendapat dalam penetapan akhir puasa bahwa tidak diterima dalam permasalahan ini kecuali dengan persaksian dua orang saksi.” Sunan At-Tirmidzi

Adapun dalil persaksian dua orang, diantaranya sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، وَانْسُكُوا لَهَا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا ثَلَاثِينَ، فَإِنْ شَهِدَ شَاهِدَانِ فَصُومُوا، وَأَفْطِرُوا

“Berpuasalah karena kalian telah melihat bulan, berbukalah (berhari raya idul fitri) karena kalian telah melihatnya, dan menyembelihlah (berhari raya idul adha) karena kalian telah melihatnya, apabila mendung menghalangi kalian maka sempurnakanlah bulan menjadi 30 hari, serta apabila telah bersaksi dua orang saksi maka berpuasalah dan berbukalah (berhari raya idul fitri).” [HR. An-Nasaai dari Abdur Rahman bin Zaid bin Al-Khottab dari Para Sahabat radhiyallahu’anhum,Shahihul Jaami’: 3811]

Hadits yang mulia ini menunjukkan bahwa penetapan puasa dan hari raya haruslah dengan kesaksian dua orang saksi, akan tetapi hadits yang sebelumnya memberikan pengecualiaan untuk penetapan puasa boleh dengan satu orang saksi. Asy-Syaikh Al-‘Allaamah Ibnu Baz rahimahullah berkata,

والمقصود أن شهادة العدلين لا بد منها في الخروج وفي جميع الشهور، أما رمضان في الدخول فيكتفى فيه بشهادة واحد عدل للحديثين السابقين

“Maksudnya adalah bahwa persaksian dua orang yang adil (terpercaya) harus ada untuk menetapkan akhir bulan Ramadhan dan seluruh bulan, adapun awal bulan Ramadhan maka cukup dengan satu orang saksi yang adil (terpercaya) berdasarkan dua hadits sebelumnya.” [Majmu Fatawa Ibni Baz

Keempat:
Apabila Baru Mengetahui Masuknya Bulan Ramadhan Setelah Terbit Fajar

Apabila kaum muslimin baru mengetahui terlihatnya bulan setelah terbit fajar, misalkan ketika saksi baru datang setelah terbit fajar dan mengabarkan bahwa ia telah melihat bulan setelah terbenamnya matahari semalam, maka pendapat yang kuat insya Allah adalah wajib memulai puasa pada saat itu juga dan puasanya sah, tidak perlu meng-qodho’. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ أَكَلَ فَلْيَصُمْ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ أَكَلَ فَلْيَصُمْ، فَإِنَّ اليَوْمَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ

“Barangsiapa yang telah makan hendaklah berpuasa pada sisa harinya, dan barangsiapa yang belum makan hendaklah terus berpuasa, karena sesungguhnya hari ini adalah hari Asyuro’.” [HR. Al-Bukhari dari Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu’anhu]

Para ulama menjelaskan bahwa puasa Asyuro’ dahulu diwajibkan sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, maka ketika Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengetahui bahwa hari itu adalah hari Asyuro’, beliau pun memerintahkan sahabat untuk berpuasa dan tidak memerintahkan mereka untuk meng-qodho’,menunjukkan bahwa puasa mereka telah sah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

أَنَّ الْهِلَالَ إذَا ثَبَتَ فِي أَثْنَاءِ يَوْمٍ قَبْلَ الْأَكْلِ أَوْ بَعْدَهُ أَتَمُّوا وَأَمْسَكُوا وَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِمْ كَمَا لَوْ بَلَغَ صَبِيٌّ أَوْ أَفَاقَ مَجْنُونٌ عَلَى أَصَحِّ الْأَقْوَالِ الثَّلَاثَةِ

“Bahwa hilal apabila baru ditetapkan di tengah hari sebelum makan atau setelahnya maka hendaklah mereka menyempurnakan hari itu dengan puasa dan menahan diri dari pembatal-pembatal puasa, dan tidak ada kewajiban qodho’ atas mereka, sebagaimana anak kecil apabila mencapai baligh atau orang gila apabila menjadi berakal (hendaklah mulai berpuasa pada saat itu juga walau di tengah hari dan tidak perlu meng-qodho’ setelah Ramadhan), menurut pendapat yang paling shahihdari tiga pendapat.” [Majmu’ Al-Fatawa

Kelima:
Apa Hukum Melihat Hilal dengan Alat?

Asy-Syaikh Al-‘Allaamah Ibnu Baz rahimahullah berkata,

أما الآلات فظاهر الأدلة الشرعية عدم تكليف الناس بالتماس الهلال بها، بل تكفي رؤية العين. ولكن من طالع الهلال بها وجزم بأنه رآه بواسطتها بعد غروب الشمس وهو مسلم عدل، فلا أعلم مانعا من العمل برؤيته الهلال؛ لأنها من رؤية العين لا من الحساب

“Adapun alat-alat (untuk melihat hilal) maka yang nampak jelas pada dalil-dalil syari’at adalah tidak perlu menyulitkan manusia untuk mencari hilal dengannya, namun cukuplah dengan penglihatan mata secara langsung. Akan tetapi barangsiapa yang melihat hilal dengan alat dan memastikan bahwa ia telah melihatnya dengan perantara alat tersebut setelah terbenam matahari, sedang ia adalah seorang muslim yang adil (terpecaya), maka saya tidak tahu adanya penghalang untuk beramal sesuai dengan ru’yahhilalnya, karena hakikatnya itu termasuk penglihatan mata, bukan dengan hisab.” [Majmu Fatawa Ibni Baz, 15/69]

Keenam:
Masalah Perbedaan Tempat Keluarnya Bulan

Ulama sepakat bahwa tempat keluar bulan berbeda-beda antara satu negeri dengan negeri lain yang berjauhan, berdasarkan dalil syar’i, akal sehat dan panca indera.

Akan tetapi ulama berbeda pendapat apakah perbedaan tersebut berlaku dalam penetapan bulan Ramadhan dan bulan lainnya, misalkan jika telah terlihat hilal di Arab Saudi apakah berlaku juga untuk Indonesia? Ataukah Indonesia harus melihat hilal sendiri, jika tidak maka harus menyempurnakan bulan menjadi 30 hari?

Pendapat yang terkuat insya Allah adalah tetap berlaku apabila kaum muslimin memiliki lebih dari satu negeri, maka setiap negeri kaum muslimin boleh memutuskan sesuai hasil ru’yah di negeri masing-masing. Adapun apabila kaum muslimin hanya memiliki satu negeri, yaitu dikuasai oleh satu pemerintah untuk seluruh wilayah kaum muslimin, maka wajib bagi kaum muslimin untuk mengikuti keputusan pemerintah, sebagaimana akan datang insya Allah dalam pembahasan selanjutnya.

Dan perbedaan pendapat seperti ini termasuk dalam ketegori perbedaan pendapat yang boleh ditoleransi. Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata,

فإذا ثبتت في المملكة العربية السعودية مثلا وصام برؤيته أهل الشام ومصر وغيرهم فحسن؛ لعموم الأحاديث، وإن لم يصوموا وتراءوا الهلال وصاموا برؤيتهم فلا بأس، وقد صدر قرار من مجلس هيئة كبار العلماء في المملكة العربية السعودية بأن لكل أهل بلد رؤيتهم؛ لحديث ابن عباس المذكور وما جاء في معناه

“Apabila misalkan telah terlihat hilal di Kerajaan Saudi Arabia, kemudian negeri Syam, Mesir dan yang lainnya ikut berpuasa maka itu adalah hal yang baik berdasarkan keumuman hadits-hadits dalam permasalahan melihat bulan. Namun apabila mereka belum berpuasa dan masih berusaha melihat hilal dan berpuasa sesuai ru’yah mereka sendiri maka tidak apa-apa, dan telah ditetapkan keputusan fatwa dari Majelis Komite Ulama Besar di Kerajaan Saudi Arabia bahwa setiap negeri memiliki tersendiri, berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma yang telah disebutkan dan hadits lain yang semakna.” [Majmu Fatawa Ibni Baz, 15/85]

Ketujuh:
Bagaimana dengan Kaum Muslimin yang Tinggal di Negeri Kafir?[1]

Boleh bagi kaum muslimin yang tinggal di negeri kafir untuk mengikuti keputusan negeri-negeri kaum muslimin dalam penetapan puasa dan hari raya. Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata ketika menanggapi pertanyaan kaum muslimin dari Spanyol,

أما ما ذكرتم عن صومكم معنا وفطركم معنا لكونكم أقمتم في أسبانيا أيام رمضان فلا بأس ولا حرج عليكم في ذلك

“Adapun yang kalian sebutkan tentang puasa kalian dan hari raya kalian yang waktunya mengikuti kami, dikarenakan kalian tinggal di Spanyol selama Ramadhan maka tidak apa-apa dan tidak ada dosa atas kalian dalam perkara tersebut.” [Majmu Fatawa Ibni Baz

Kedelapan:
Kapan Ru’yah Hilal Dilakukan?

Hadits yang mulia ini juga menunjukkan bahwa melihat bulan untuk menetapkan awal Ramadhan dilakukan pada tanggal 29 Sya’ban, karena Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan untuk menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. Oleh karena itu tidak mungkin menetapkan awal Ramadhan jauh-jauh hari, seperti yang dilakukan oleh sebagian ormas yang menyelisihi syari’at karena mengikuti metode hisab.

Dan bulan di dalam syari’at hanya dua kemungkinan, apakah 29 atau 30 hari, tidak kurang dan tidak lebih. Oleh karena itu, perbedaan waktu keluarnya bulan antara satu negeri dengan negeri yang lainnya tidak akan lebih dari satu hari. Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata,

وحيث قيل باعتبار اختلاف المطالع فالظاهر أنه لا يقع بأكثر من يوم، ولا يجوز للمسلم أن يصوم أقل من 29 يوما؛ لأن الشهر في الشرع المطهر لا ينقص عن 29 يوما ولا يزيد على 30 يوما

“Ketika memilih pendapat berbedanya tempat keluarnya bulan untuk penetapan awal dan akhir puasa maka yang nampak jelas bahwa hal itu tidak akan terjadi lebih dari satu hari, dan tidak boleh bagi seorang muslim untuk berpuasa kurang dari 29 hari, karena bulan di dalam syari’at yang suci ini tidak kurang dari 29 hari dan tidak lebih dari 30 hari.” [Majmu Fatawa Ibni Baz

Kesembilan:
Seperti Apa Bentuk Bulan dan Posisinya Ketika 

Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata,

وأما كبر الأهلة وصغرها وارتفاعها وانخفاضها فليس عليه اعتبار ولا يتعلق به حكم؛ لأن الشرع المطهر لم يعتبر ذلك فيما نعلم

“Adapun besarnya bulan, kecilnya, tingginya dan rendahnya maka itu tidak teranggap dan tidak terkait dengan hukum, karena syari’at yang suci ini tidak menganggap hal itu terkait hukum, sesuai yang kami ketahui.” [Majmu Fatawa Ibni Baz, 15/80]

Kesepuluh:
Apabila Seseorang Berpuasa di Dua Negeri yang Berbeda dalam Penetapan Awal Ramadhan

Apabila seseorang memulai berpuasa di satu negeri kemudian melakukan safar di akhir Ramadhan ke negeri lain yang berbeda dalam penetapan awal dan akhir Ramadhan, maka berapa hari puasa yang harus ia kerjakan? Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata,

إذا صمتم في السعودية أو غيرها ثم صمتم بقية الشهر في بلادكم، فأفطروا بإفطارهم ولو زاد ذلك على ثلاثين يوما؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم: «الصوم يوم تصومون والفطر يوم تفطرون» لكن إن لم تكملوا تسعة وعشرين يوما فعليكم إكمال ذلك؛ لأن الشهر لا ينقص عن تسع وعشرين. والله ولي التوفيق

“Apabila kalian telah mulai berpuasa di Saudi atau di negeri lainnya, kemudian kalian berpuasa di negeri kalian pada hari-hari Ramadhan yang tersisa, maka berbukalah (berhari raya idul fitri) bersama dengan penduduk negerimu meski pun puasa kalian lebih dari 30 hari, berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ

“Berpuasa adalah hari kalian berpuasa, berbuka (berhari raya idul fitri) adalah hari kalian berbuka.” [HR. At-Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah]

Akan tetapi jika kalian belum menyempurnakan puasa 29 hari maka hendaklah kalian menyempurnakannya (dengan cara meng-qodho’ setelah hari raya), karena bulan tidak kurang dari 29 hari. Majmu Fatawa Ibni Baz, 15/156]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

—————————

[1] Tinggal di negeri kafir tidak boleh kecuali dengan 4 syarat:

1) Memiliki kekuatan ilmu untuk membentengi diri dari serangansyubhat,

2) Memiliki kekuatan iman untuk membentengi diri dari godaan syahwat,

3) Mampu mengamalkan kewajiban seperti sholat lima waktu, hijab bagi muslimah, dan lain-lain,

4) Ada satu hajat yang harus ditunaikan di negeri tersebut, bukan sekedar untuk jalan-jalan.

══════ ❁✿❁ ══════

Disadur dari link: http://sofyanruray.info/cara-menentukan-awal-ramadhan-menurut-syariat/

posted from Bloggeroid

Sabtu, 20 Mei 2017

PERMASALAHAN QODHO’ PUASA RAMADHAN

PERMASALAHAN QODHO’ PUASA RAMADHAN
➡ Pertama: Orang-orang yang Wajib Qodho’
1) Orang yang Berbuka Puasa karena Sakit yang Masih Diharapkan Kesembuhannya
Orang sakit yang masih diharapkan kesembuhannya dan merasa berat atau tidak mampu berpuasa atau perlu minum obat di siang hari maka boleh berbuka dan wajib atasnya untuk meng-qodho’ puasanya di hari-hari yang lain setelah Ramadhan, yaitu pada hari-hari yang tidak diharamkan berpuasa, setelah sembuh dari sakit.[1] Allah ta’ala berfirman,
فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“Maka siapa diantara kalian yang sakit atau dalam perjalanan jauh (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain (di luar Ramadhan).” [Al-Baqoroh: 184]
Dan firman Allah ta’ala,
وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” [Al-Baqoroh: 185]
Lihat pembahasannya lebih detail dalam pasal Hukum Puasa bagi Orang Sakit dan Orang Tua yang telah berlalu.
2) Orang yang Berbuka Puasa karena Safar
Musafir yang berbuka puasa wajib untuk meng-qodho’ puasanya di hari-hari yang lain setelah Ramadhan, yaitu pada hari-hari yang tidak diharamkan berpuasa. Allah ta’ala berfirman,
فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“Maka siapa diantara kalian yang sakit atau dalam perjalanan jauh (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain (di luar Ramadhan).” [Al-Baqoroh: 184]
Dan firman Allah ta’ala,
وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” [Al-Baqoroh: 185]
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى وَضَعَ شَطْرَ الصَّلَاةِ، أَوْ نِصْفَ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمَ عَنِ الْمُسَافِرِ، وَعَنِ الْمُرْضِعِ، أَوِ الْحُبْلَى
“Sesungguhnya Allah ta’ala meringankan sebagian sholat atau separuh sholat dan puasa dari musafir dan dari wanita menyusui atau wanita hamil.” [HR. Abu Daud dari Anas bin Malik Al-Ka’bi radhiyallahu’anhu, Shahih Abi Daud: 2083]
Lihat pembahasannya lebih detail dalam pasal Hukum-hukum Puasa bagi Musafir yang telah berlalu.
3) Orang yang Berbuka Puasa karena Khawatir Binasa (Tertimpa Mudarat yang Besar)
Orang yang berbuka karena tidak kuat lagi berpuasa dan khawatir akan binasa, seperti orang-orang yang berpuasa di negeri yang siangnya panjang, terlebih di musim panas, maka boleh bagi yang khawatir akan binasa untuk berbuka dan wajib meng-qodho’ di hari-hari yang lain setelah Ramadhan, yaitu pada hari-hari yang tidak dilarang berpuasa.[2] Allah ta’ala berfirman,
وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ الله كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” [An-Nisa’: 29]
Dan firman Allah ta’ala,
وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” [Al-Baqoroh: 195]
Hukum Puasa Orang yang Pekerjaannya Berat
Orang yang pekerjannya berat wajib berpuasa, namun apabila kemudian ia tidak kuat berpuasa dan khawatir binasa maka boleh berbuka dan wajib meng-qodho’. Dan hendaklah para penanggung jawab pekerjaan untuk tidak membebani para pekerja dengan pekerjaan yang berat di bulan Ramadhan, dan hendaklah dilakukan di waktu malam dan dibagi jadwal pekerjaan kepada para pekerja agar menjadi ringan.[3]
Hukum Puasa Pelajar yang Sedang Menghadapi Ujian Sekolah
Para pelajar yang menghadapi ujian sekolah di bulan Ramadhan tidak boleh berbuka puasa karena ujian sekolah tidak termasuk udzur syar’i, hendaklah mereka belajar di malam hari apabila berat di siang hari, dan hendaklah para penanggung jawab ujian untuk mengadakan ujian di luar bulan Ramadhan agar terkumpul dua kebaikan, kebaikan puasa dan konsentrasi menghadapi ujian.[4]
4) Wanita yang Tidak Berpuasa karena Haid dan Nifas
Wanita yang haid atau nifas tidak dibolehkan berpuasa, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,
أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ
“Bukankah wanita haid tidak boleh puasa dan sholat.” [HR. Al-Bukhari dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu]
Dan wajib bagi wanita haid dan nifas untuk meng-qodho’ di hari-hari yang lain setelah Ramadhan, yaitu pada hari-hari yang tidak dilarang berpuasa,[5] sebagaimana dalam hadits Mu’adzah rahimahallah, ia berkata,
سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ: مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ، وَلَا تَقْضِي الصَّلَاةَ. فَقَالَتْ: أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ؟ قُلْتُ: لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ، وَلَكِنِّي أَسْأَلُ. قَالَتْكَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ،فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ، وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ
“Aku bertanya kepada Aisyah -radhiyallahu’anha-: Mengapakah wanita haid harus meng-qodho’ puasa dan tidak meng-qodho’ sholat? Beliau berkata: Apakah kamu wanita Khawarij? Aku berkata: Aku bukan wanita Khawarij, tapi aku bertanya. Maka beliau berkata: Dahulu ketika kami haid, kami diperintahkan untuk meng-qodho’ puasa dan tidak diperintahkan untuk meng-qodho’ sholat.” [HR. Muslim]
5) Wanita yang Berbuka Puasa karena Hamil dan Menyusui
Wanita hamil dan menyusui sama dengan orang sakit yang masih diharapkan kesembuhannya, yaitu boleh berbuka apabila merasa berat untuk puasa atau khawatir mudarat, sama saja apakah mudarat untuk dirinya atau anaknya, dan hendaklah meng-qodho’, tidak perlu membayar fidyah, ini pendapat terkuat insya Allah ta’ala.[6]
Juga sama dengan musafir yang boleh berbuka, wajib meng-qodho’ di luar Ramadhan dan tidak perlu membayar fidyah, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى وَضَعَ شَطْرَ الصَّلَاةِ، أَوْ نِصْفَ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمَ عَنِ الْمُسَافِرِ، وَعَنِ الْمُرْضِعِ، أَوِ الْحُبْلَى
“Sesungguhnya Allah ta’ala meringankan sebagian sholat atau separuh sholat dan puasa dari musafir dan dari wanita menyusui atau wanita hamil.” [HR. Abu Daud dari Anas bin Malik Al-Ka’bi radhiyallahu’anhu, Shahih Abi Daud: 2083]
Bagi wanita hamil dan menyusui yang tidak berpuasa dalam waktu yang lama karena masa hamilnya dan masa menyusuinya bersambung dari satu anak ke anak yang lainnya, maka hukumnya sama, cukup baginya qodho’ dan tidak wajib fidyah, dan tidak masalah walau qodho’nya dengan cara menyicil, tidak berurutan, serta sesuai dengan kemampuannya.[7]
➡ Kedua: Hukum Orang yang Berbuka Puasa Tanpa Udzur
Orang yang berbuka puasa Ramadhan sebelum matahari terbenam tanpa udzur maka ia telah melakukan dosa besar, bahkan termasuk kekafiran apabila disertai dengan penghalalan terhadap perbuatan haramnya tersebut atau pengingkaran terhadap kewajiban puasa, maka wajib atasnya bertaubat kepada Allah ta’ala.[8]
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda tentang dua malaikat yang membawa beliau di dalam mimpi beliau –dan mimpi para nabi ‘alaihimussalaam adalah wahyu-,
ثُمَّ انْطَلَقَا بِي فَإِذَا قَوْمٌ مُعَلَّقُونَ بِعَرَاقِيبِهِمْ، مُشَقَّقَةٌ أَشْدَاقُهُمْ تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا، قُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ؟ قَالَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ
“Kemudian keduanya membawaku, maka tiba-tiba ada satu kaum yang digantung terikat di pergelangan kaki-kaki mereka, dalam keadaan robek mulut-mulut mereka serta mengalirkan darah, aku pun berkata: Siapa mereka? Dia menjawab: Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum dihalalkan atas mereka untuk berbuka puasa.” [HR. An-Nasaai dalam As-Sunan Al-Kubro dari Abu Umamah radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 3951]
Namun ulama berbeda pendapat tentang orang yang berbuka tanpa udzur syar’i apakah wajib qodho’ atau cukup bertaubat?
Pendapat Pertama: Wajib qodho’, ini pendapat jumhur ulama dan dikuatkan oleh Al-Lajnah Ad-Daimah dan Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahumullah, berdasarkan keumuman dalil-dalil.[9] Ini adalah pendapat yang lebih hati-hati insya Allah ta’ala.
Pendapat Kedua: Tidak wajib qodho’, ini pendapat sebagian Hanabilah dan Zhaahiriyyah, tetapi bukan untuk meringan-ringankan atau menyepelekan namun karena puasa adalah ibadah yang terkait waktu, sehingga apabila waktunya telah lewat maka tidak ada lagi kewajibannya, kecuali dengan dalil. Pendapat ini dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahumullah. Hanya saja Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah membedakan antara orang yang tidak puasa sama sekali sejak awal hari maka tidak ada qodho’ atasnya dan orang yang berpuasa lalu membatalkannya sebelum terbenam matahari maka wajib atasnya qodho’.[10]
➡ Ketiga: Kapan Waktu Awal dan Akhir Qodho’?
Waktu awal qodho’ adalah sejak tanggal 2 Syawwal dan seterusnya selain di hari-hari yang diharamkan berpuasa, yaitu dua hari raya (1 Syawwal dan 10 Dzulhijjah) dan tiga hari tasyriq (11, 12 dan 13 Dzulhijjah).
Adapun waktu akhir qodho’ maka tidak ada batasan waktu sahnya qodho’, hanya saja yang diwajibkan adalah sebelum Ramadhan berikutnya.
Dan dibolehkan menunda qodho’ sampai bulan Sya’ban sebelum Ramadhan berikutnya, hanya saja lebih cepat lebih afhdhal, kecuali terdapat udzur syar’i. Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha berkata,
كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلَّا فِي شَعْبَانَ
“Aku pernah memiliki kewajiban qodho’ puasa Ramadhan, maka aku tidak bisa meng-qodho’ kecuali di bulan Sya’ban.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
➡ Keempat: Apa Kewajiban Orang yang Menunda Qodho’ Sampai Ramadhan Berikutnya?
Orang yang menunda qodho’ karena udzur syar’i sampai Ramadhan berikutnya maka tidak apa-apa baginya, dan wajib baginya meng-qodho’ sesuai jumlah hari-hari puasa Ramadhan yang ia tinggalkan, tidak menjadi berlipat ganda.
Adapun orang yang menundanya tanpa udzur syar’i hendaklah bertaubat kepada Allah ta’ala dan wajib baginya meng-qodho’, juga sesuai jumlah hari-hari puasa Ramadhan yang ia tinggalkan, tidak menjadi berlipat ganda.
Dan pendapat yang kuat insya Allah adalah tidak wajib atasnya fidyah, karena hadits yang mewajibkannya lemah.[11]
➡ Kelima: Bolehkah Qodho’ Puasa Tanpa Berurut?
Boleh qodho’ puasa tanpa berurut namun yang lebih afdhal berurut karena tiga alasan:[12]
1) Dikerjakan berurutan lebih menyerupai puasa di bulan Ramadhan.
2) Lebih cepat dalam menjalankan kewajiban.
3) Lebih berhati-hati, karena seseorang tidak mengetahui halangan-halangan berpuasa yang akan terjadi padanya.
➡ Keenam: Bolehkah Berpuasa Sunnah Sebelum Meng-qodho’ Puasa Wajib?
Pendapat Pertama: Tidak boleh berpuasa sunnah sebelum qodho’, tidak sah dan berdosa orang yang melakukannya. Ini pendapat Hanabilah.[13]
Pendapat Kedua: Boleh selama waktunya masih lapang, tetapi lebih afdhal mendahulukan qodho’ Ramadhan. Ini pedapat jumhur ulama dan dikuatkan oleh Al-Lajnah Ad-Daimah[14] dan Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahumullah.[15]
Pendapat yang kuat adalah pendapat yang kedua karena keumuman dalil. Hanya saja Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah memperkecualikan puasa sunnah 6 hari di bulan Syawwal, bahwa seseorang tidak akan meraih keutamaannya sebelum qodho’ Ramadhan, karena Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian ia ikutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh.” [HR. Muslim dari Abu Ayyub Al-Anshori radhiyallahu’anhu]
Dalam hadits yang mulia ini Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menetapkan dua syarat untuk memperoleh pahala puasa setahun, yaitu berpuasa Ramadhan dan berpuasa enam hari di bulan Syawwal, maka siapa yang hanya berpuasa di sebagian Ramadhan dan belum meng-qodho’, ia tidak akan meraih pahala puasa setahun.[16]
Dan tidak boleh berpuasa dengan niat qodho’ dan niat puasa sunnah sekaligus.[17]
➡ Ketujuh: Hukum Meng-qodho’ untuk Orang Lain yang Telah Meninggal Dunia
Orang yang memiliki hutang puasa Ramadhan ada dua keadaan:[18]
1) Udzurnya berlanjut sampai setelah bulan Ramadhan dan sampai wafat, maka tidak wajib atasnya qodho’. Seperti orang yang tidak berpuasa Ramadhan karena sakit, lalu sakitnya berlanjut sampai setelah bulan Ramadhan dan sampai wafat, maka tidak wajib atasnya qodho’, karena ia masih memiliki udzur sampai wafat.[19]
2) Udzurnya berakhir setelah bulan Ramadhan dan sudah memungkinkan baginya untuk meng-qodho’ puasa, namun ia wafat sebelum meng-qodho’, apakah boleh bagi orang lain meng-qodho’ untuknya?[20]
Pendapat Pertama: Qodho’ puasa untuk orang lain hanya dibolehkan untuk puasa nadzar, adapun untuk mengganti puasa Ramadhan hendaklah dengan membayar fidyah. Ini pendapat jumhur ulama; Malik, Syafi’i, Ahmad dan selain mereka rahimahumullaah.
Pendapat Kedua: Qodho’ puasa untuk orang lain dibolehkan untuk semua puasa wajib, apakah Ramadhan, nadzar maupun kaffaroh. Ini pendapat para ahli hadits dari kalangan Syafi’iyyah dan selain mereka rahimahumullaah.
Pendapat Ketiga: Qodho’ puasa untuk orang lain tidak disyari’atkan sama sekali, tidak puasa wajib dan tidak pula puasa sunnah. Pendapat ini juga dinukil dari Malik, Abu Hanifah dan Asy-Syafi’i rahimahumullah dalam pendapat beliau yang baru (al-qoulul jadid).
Pendapat yang kuat insya Allah adalah pendapat kedua, yaitu boleh untuk semua puasa wajib, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,
مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ
“Barangsiapa yang wafat dan masih berhutang puasa maka hendaklah walinya berpuasa untuknya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]
Pendapat ini juga yang dikuatkan oleh Asy-Syaikh Ibnu Baz [21] dan Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahumallah.[22] Dan apabila tidak ada yang meng-qodho’ puasanya maka hendaklah dibayarkan fidyah dari harta peninggalannya, sama seperti orang sakit yang tidak dapat diharapkan kesembuhannya atau orang tua yang sudah tidak mampu berpuasa. Sahabat yang Mulia Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata,
إِذَا مَرِضَ الرَّجُلُ فِي رَمَضَانَ، ثُمَّ مَاتَ وَلَمْ يَصُمْ أُطْعِمَ عَنْهُ
“Apabila seseorang sakit di bulan Ramadhan, kemudian wafat dan ia belum berpuasa maka dikeluarkan fidyahnya.” [Diriwayatkan Abu Daud, Shahih Abi Daud: 2078]
Namun apabila ia tidak memiliki harta peninggalan maka tidak apa-apa baginya.[23] Dan dibolehkan bagi ahli waris untuk mengeluarkan fidyah dari harta mereka.[24]
Lihat pembahasan fidyah lebih detail dalam pasal Cara Membayar Fidyah yang telah berlalu.
➡ Kedelapan: Siapakah yang Dimaksud Wali yang Dianjurkan Meng-qodho’?
Wali yang dimaksud adalah ahli waris, seperti anaknya atau selainnya dari kalangan ahli waris, namun apabila ada selain ahli waris yang mau meng-qodho’ baginya atau membayarkan fidyahnya maka tidak apa-apa.[25]
Akan tetapi yang afdhal adalah ahli waris yang melakukannya, karena qodho’ baginya adalah termasuk sebesar-besarnya perbuatan ihsan kepadanya dari ahli waris, dan tidak mengapa jika ada beberapa ahli waris untuk membagi hari-hari puasanya, dan tidak mengapa juga walau para ahli warisnya terdiri dari laki-laki dan perempuan, kemudian mereka melakukan puasa di satu hari yang sama.[26]
➡ Kesembilan: Wajibkah bagi Wali untuk Meng-qodho’?
Jumhur ulama berpendapat bahwa hukum meng-qodho’ bagi wali adalah mustahab, tidak wajib, karena apabila wajib maka ia berdosa jika tidak melakukannya, sedang Allah ta’ala berfirman,
وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى
“Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” [Al-An’am: 164]
➡ Kesepuluh: Hukum Meng-qodho’ Puasa di Hari Jum’at atau Sabtu
Boleh qodho’ puasa di hari Jum’at atau hari apa saja selain dua hari raya (1 Syawwal dan 10 Dzulhijjah) dan tiga hari tasyriq (11, 12 dan 13 Dzulhijjah). Hanyalah yang terlarang puasa di hari Jum’at adalah puasa sunnah dengan maksud mengkhususkan hari Jum’at saja tanpa berpuasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.[27] Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,
لَا تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي، وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ
“Janganlah kalian mengkhususkan malam Jum’at untuk sholat tahajjud tanpa dilakukan di malam-malam yang lain, dan janganlah kalian mengkhususkan puasa di hari Jum’at tanpa hari-hari yang lain, kecuali bertepatan dengan hari puasa yang biasa dilakukan oleh seorang dari kalian.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,
لاَ يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الجُمُعَةِ، إِلَّا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ
“Janganlah seorang dari kalian berpuasa di hari Jum’at, kecuali ia berpuasa sehari sebelumnya atau setelahnya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]
Adapun larangan berpuasa di hari Sabtu maka haditsnya lemah.[28] Andai haditsnya shahih[29] sekali pun maka yang terlarang hanyalah mengkhususkan puasa sunnah di hari Sabtu, tanpa berpuasa di hari sebelumnya atau setelahnya.[30]
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
————————-
[1] Lihat Majmu’ Fatawa Ibni Baz rahimahullah, 15/211, 214.
[2] Lihat Majmu’ Fatawa Ibni Baz rahimahullah, 15/296.
[3] Lihat Majmu’ Fatawa Ibni Baz rahimahullah, 15/245-246.
[4] Lihat Majmu’ Fatawa Ibni Baz rahimahullah, 15/249.
[5] Lihat Fatawa Nur ‘alad Darb libni Baz rahimahullah, 7/212.
[6] Lihat Majmu’ Fatawa Ibni Baz rahimahullah, 15/223.
[7] Lihat Majmu’ Fatawa Ibni Baz rahimahullah, 15/227.
[8] Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/143 no. 6060.
[9] Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 9/218 no. 5136 dan Majmu’ Fatawa Ibni Baz rahimahullah, 15/336.
[10] Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 6/400.
[11] Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 6/445-446.
[12] Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 6/441.
[13] Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 6/442.
[14] Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/382 no. 2232 dan 10/299 no. 2178.
[15] Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 6/443.
[16] Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 6/444.
[17] Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/383 no. 6497.
[18] Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosaail Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah, 19/391.
[19] Lihat Majmu’ Fatawa Ibni Baz rahimahullah, 15/367 dan Majmu’ Fatawa wa Rosaail Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah, 19/387.
[20] Lihat Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 295.
[21] Lihat Majmu’ Fatawa Ibni Baz rahimahullah, 15/367.
[22] Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 6/449-451.
[23] Lihat Majmu’ Fatawa Ibni Baz rahimahullah, 15/367-368 dan Majmu’ Fatawa wa Rosaail Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah, 19/386.
[24] Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 9/263-264 no. 17575.
[25] Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosaail Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah, 2/312 dan 19/395.
[26] Lihat Taudhihul Ahkam, 3/525.
[27] Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 9/283 no. 16744.
[28] Lihat Majmu’ Fatawa Ibni Baz rahimahullah, 25/213 dan Majmu’ Fatawa wa Rosaail Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah, 20/36.
[29] Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah menyatakan haditsnya shahih, sebagaimana dalam Tamaamul Minnah, hal. 406.
[30] Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 6/463 dan Majmu’ Fatawa wa Rosaail Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah, 20/37.
http://sofyanruray.info/permasalahan-qodho-puasa-ramadhan/