Bismillah...
Syahadat
ini sangat dihafal oleh kaum muslimin. Kalimatnya begitu pendek dan
sederhana tetapi terwariskan secara turun temurun. Namun, tidak sedikit
yang tidak tahu-menahu tentang kedalaman makna hakiki yang dikandungnya
dan konsekuensi yang mesti tertanam dalam lubuk hati pengucapnya.
Olehnya itu, bagaimana agama menjelaskannya?
JAWABAN
Syahadat
La Ilaha Illallah dan syahadat Muhammad Rasulullah adalah satu rukun
yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain, dan keduanya
menjadi satu rukun walaupun terdiri dari dua bahagian. Sebab seluruh
ibadah dibangun di atas keduanya, maka tidaklah diterima ibadah itu
kecuali ikhlas untuk Allah ‘Azza Wa Jalla, dan ini adalah kandungan dari
syahadat La Ilaha Illallah, dan ittiba’ ‘mengikuti’ Rasulullah
shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam , dan ini adalah kandungan dari
syahadat Muhammad Rasulullah. Karena itu, mengetahui makna, kandungan
dan konsekuensi (keharusan) syahadat Muhammad Rasulullah sangatlah
penting sebagaimana syahadat La Ilaha Illallah. Seseorang, kalau mau
masuk Islam, harus mengucapkan dua kalimat syahadat tersebut, kemudian
wajib memahami dan mengamalkan kedua syahadat tersebut lahir dan batin,
dan wajib mengulangi kedua syahadat tersebut minimal sembilan kali dalam
sehari semalam.
Syahadat
Muhammad Rasulullah,atau dengan redaksi yang lebih lengkap Muhammad
‘Abdullahi wa Rasuluhu ‘Muhammad adalah hamba Allah dan rasul-Nya’,
mempunyai dua dasar pokok yang satu dengan yang lainnya tidak bisa
dipisahkan karena merupakan satu kesatuan.
Pokok pertama , menyamakan kedudukan Muhammad sama dengan semua makhluk di hadapan Allah walaupun derajatnya berbeda.
Pokok kedua , membedakan kedudukan Muhammad dengan mahluk yang lain karena beliau adalah seorang rasul.
Hal ini dapat kita lihat dalam firman Allah Jalla Jalaluhu dalam akhir surah Al-Kahfi,
“Katakan
(wahai Muhammad), ‘Sesungguhnya saya hanyalah manusia biasa sepeti
kalian yang diberikan wahyu kepadaku bahwasanya sesembahan kalian
hanyalah sesembahan yang Esa.’.” [ Al-Kahfi: 110 ]
Kemudian
dalam hadits ‘Ubadah bin Shamit yang diriwayatkan oleh Bukhary dan
Muslim, Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam bersabda,
مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ…
“Siapa
yang bersyahadat bahwasanya tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah
semata, tidak ada serikat bagi-Nya dan Muhammad adalah hamba dan
rasul-Nya ….”
Juga
dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam , ketika
mengajarkan tasyahud kepada para shahabatnya, seperti ‘Abdullah bin
Mas’ud dalam Shahih Al-Bukhary dan Shahih Muslim , Ibnu ‘Abbas dalam
Shahih Muslim , dan Abu Musa Al-Asy’ary dalam Shahih Muslim , terdapat
kalimat syahadatain yaitu,
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
“Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.”
Kedudukan Muhammad Sebagai Hamba
Berkata
Syaikh Sulaiman bin ‘Abdullah Alu Syaikh, “Hamba maknanya adalah yang
dimiliki, yang menyembah, yaitu dimiliki oleh Allah Ta’ala dan tidak
mempunyai sedikit pun sifat-sifat Rububiyah dan Uluhiyah. Sesungguhnya
dia (Muhammad) hanyalah seorang hamba yang dekat di sisi Allah ‘Azza wa
Jalla.” Lihat Taisir Al-’Aziz Al-Hamid hal. 81-82.
Jadi,
kalau dia seorang hamba (budak), tidak boleh disembah (diibadahi)
melainkan harus menyembah, dan kalau dia dimiliki, tidak boleh dimintai
sebab syarat untuk dimintai adalah harus memiliki (Al-Malik). Karena
itu, dia tidak mampu memberi manfaat atau mudharat, bahkan dia hanya
meminta manfaat kepada Allah berupa hidayah, harta, ilmu, dan
sebagainya, serta berlindung pada-Nya dari segala kejelekan (mudharat)
makhluk-Nya.
Berkata
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, “Dan keharusan dari syahadat
ini adalah tidak boleh diyakini bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘
alaihi wa alihi wa sallam punya hak dalam Rububiyah dan mengatur alam
semesta atau punya hak dalam ibadah (hak untuk disembah). Bahkan dia
(Rasulullah) seorang hamba, tidak disembah, dan Rasul tidak didustakan
dan tidak memiliki sedikit pun kemampuan untuk memberi manfaat ataupun
mudharat, baik kepada dirinya ataupun selain dirinya, kecuali apa yang
Allah kehendaki sebagaimana firman Allah,
“Katakanlah
(wahai Muhammad), ‘Saya tidak mengatakan kepada kalian, bahwa di sisi
saya perbendaharaan Allah, dan tidak (pula) saya mengetahui yang ghaib
dan tidak (pula) saya mengatakan kepada kalian bahwa saya seorang
malaikat. Saya tidaklah mengikuti kecuali apa yang diwahyukan
kepadaku.’.” [ Al-An’am: 50 ]
Maka dia selaku hamba diperintahkan untuk mengikuti apa-apa yang diperintahkan dengannya. Kemudian firman Allah Ta’ala,
“Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Sesungguhnya saya tidak memiliki bagi kalian mudharat dan tidak pula petunjuk.’.” [Al-Jin: 21]
Juga firman Allah Ta’ala,
قُلْ
لاَ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاءَ اللَّهُ
وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا
مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ
يُؤْمِنُونَ
“Katakanlah
(wahai Muhammad), ‘Saya tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku
dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah.
Dan sekiranya saya mengetahui yang ghaib, tentulah saya membuat
kebajikan sebanyak-banyaknya dan saya tidak akan ditimpa kemudharatan.
Saya tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira
bagi orang-orang yang beriman.’.” .”
Lihat Syarh Tsalatsah Al-Ushul hal. 71.
Akan
tetapi Allah menjadikan ‘ubudiyah ‘penghambaan’ sebagai sifat
kesempurnaan makhluk-Nya dan menjadikan makhluk-Nya sebagai makhluk yang
paling dekat kepada-Nya sebagaimana firman-Nya,
“Al-Masih
sekali-sekali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah dan tidak pula
malaikat-malaikat terdekat-Nya. Barangsiapa yang enggan dari menyembah -
Nya dan menyombongkan diri, maka Allah akan mengumpulkan mereka semua
kepada - Nya.” [ An-Nisa: 172 ]
Juga firman-Nya,
“Dan ingatlah hamba Kami Daud.” [ Shad: 17 ]
Juga firman-Nya,
“Dan ingatlah hamba Kami Ayyub.” [ Shad: 41 ]
Juga firman-Nya,
“Dan ingatlah hamba-hamba Kami Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub.” [ Shad: 45 ]
Juga firman-Nya,
“Dan Kami telah berikan kepada Daud, Sulaiman sebaik-baik hamba.” [ Shad: 30 ]
Allah
menyifatkan makhluk-makhluk-Nya yang paling mulia dan yang paling
tinggi kedudukannya di antara makhluk-makhluk-Nya dengan ‘Ubudiyah pada
kedudukannya yang paling mulia.
Allah
juga menyebutkan sifat ‘Ubudiyah pada kedudukan diturunkannya Al-Kitab
kepada hamba-Nya dan menantang untuk mendatangkan sepertinya sebagaimana
firman-Nya,
“Dan
jika kalian ragu terhadap apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami maka
datangkanlah satu surah semisalnya.” [ Al-Baqarah: 25 ]
Juga firman-Nya,
“Maha berkah Allah yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya.” [ Al-Furqan: 1 ]
Juga ayat-ayat lain yang semakna.
Allah menyebutkan sifat ‘Ubudiyah dalam kedudukan beribadah pada-Nya sebagaimana firman-Nya,
“Dan sesungguhnya tatkala hamba Allah berdiri, berdoa kepada-Nya ….” [ Al-Jin: 19 ]
Kemudian Allah menyebutkan hamba-Nya dengan ‘ubudiyah pada kedudukan Isra`,
“Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada satu malam.” [ Al-Isra`: 1 ]
Selain itu, Allah menjadikan kabar gembira secara mutlak kepada hamba-hamba-Nya sebagaimana firman-Nya,
“Dan
orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan
kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah
berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu
mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang
yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang
mempunyai akal.” [ Az-Zumar: 17-18 ]
Allah juga menjadikan rasa aman secara mutlak bagi hamba-hamba-Nya sebagaimana firman-Nya,
“Wahai
hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadap kalian pada hari ini dan
tidak pula bersedih hati, (yaitu) orang-orang yang beriman kepada
ayat-ayat Kami dan mereka dahulu adalah orang-orang yang berserah diri.”
[ Az-Zukhruf: 68-69 ]
Allah
tidak memberi keleluasaan kepada syaithan untuk menguasai mereka
(hamba-hamba-Nya) secara khusus kecuali yang mengikuti syaithan dan
berbuat syirik kepada-Nya sebagaimana firman-Nya,
“Sesungguhnya
hamba-hamba-Ku, tidak ada kekuasaan bagi kamu untuk mereka kecuali
siapa yang mengikuti kamu dari orang-orang yang sesat.” [ Al-Hijr: 42 ]
Juga firman-Nya,
“Sesungguhnya
tidak ada kekuasaan baginya (syaithan) atas orang-orang yang beriman
dan mereka bertawakkal kepada Rabb mereka. Sesungguhnya kekuasaannya
(syaithan) hanyalah atas orang-orang yang menjadikannya pemimpin dan
orang-orang yang mempersekutukan Allah dengannya.” [ An-Nahl: 99-100 ]
Nabi
shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam menjadikan ihsan ‘ubudiyah
sebagai tingkatan paling tinggi dalam beragama, sebagaimana dalam hadits
‘Umar bin Al-Khattab, yang terkenal dengan “hadits Jibril”, yang
diriwayatkan oleh Muslim, bahwa tatkala Nabi shallallahu ‘ alaihi wa
alihi wa sallam ditanya oleh Jibril tentang ihsan, beliau menjawab,
“Kamu menyembah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, dan jika kamu
tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihat kamu.”
Baca Madarij As-Salikin jilid 1 hal. 115-117.
Akan
tetapi, ada satu hal yang sangat penting untuk diketahui, yaitu
‘ubudiyah kepada Allah tidak akan lepas (berhenti) dari seorang hamba
selama hamba hidup di dunia, bahkan di alam barzakh dan di hari
kemudian, walaupun ‘ubudiyah di dunia tentunya berbeda dengan ubudiyah
di alam barzakh apalagi di hari kemudian. Hal ini ditunjukkan oleh
firman Allah Ta’ala kepada Rasul-Nya,
“Dan sembahlah Rabb-mu sampai datang kepadamu keyakinan.” [ Al-Hijr: 99 ]
Juga firman-Nya kepada penduduk neraka,
“Dan dahulu kami mendustakan hari kemudian sampai datang kepada kami keyakinan.” [ Al-Muddatstsir: 46-47 ]
Keyakinan yang dimaksud adalah kematian menurut kesepakatan para ulama Ahli Tafsir.
Juga
di dalam Shahih Al-Bukhary tentang kisah kematian ‘Utsman bin Mazh’un,
Nabi shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam bersabda, “Adapun ‘Utsman
maka sesungguhnya telah datang kepadanya keyakinan dari Rabb-nya, yaitu
kematian.”
Barangsiapa
yang menyangka bahwasanya dia telah sampai pada kedudukan, yakni telah
gugur pada dirinya kewajiban untuk menyembah, maka dia zindiq, kafir
kepada Allah dan Rasul-Nya, sebab sesungguhnya dia telah sampai pada
kedudukan kafir kepada Allah dan berlepas diri dari agama ini. Bahkan,
seorang hamba, jika kedudukan dia semakin kuat dan kokoh dalam
penghambaan, maka ‘ubudiyah-nya juga semakin besar dan kewajiban dari
‘ubudiyah-nya juga semakin banyak dan lebih besar daripada orang yang
berada dibawahnya. Oleh karena itu, kewajiban Rasulullah shallallahu ‘
alaihi wa alihi wa sallam , bahkan semua rasul, lebih besar dan lebih
banyak daripada umat-umat mereka, kewajiban rasul-rasul Ulul ‘Azmi lebih
banyak daripada rasul-rasul selain Ulul ‘Azmi, kewajiban Ahlul ‘Ilmi
lebih besar daripada selain Ahlul ‘Ilmi. Hal ini menunjukkan bahwa
setiap hamba tergantung pada kedudukannya (martabatnya).
Lihat Madarij As-Salikin jilid 1 hal. 118.
Kedudukan Muhammad Sebagai Rasul (Nabi)
Ahlus
Sunnah Wal Jamaah menetapkan bahwasanya kenabian adalah pilihan dari
Allah. Allah memilih nabi untuk hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia.
Allah menghususkan nabi-Nya dengan rahmat-Nya, memilih nabi-Nya dengan
keutamaan dan nikmat-Nya, dan bukan sekedar sifat-sifat tambahan, karena
rahmat, keutamaan, dan nikmat-Nya terhadap nabi-Nya tidak bisa
diperoleh dengan ilmu, latihan, banyaknya ibadah dan ketaatan, dan
sebagainya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,
“Orang-orang
kafir dari kalangan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada
menginginkan diturunkannya suatu kebaikan kepada kalian dari Rabb
kalian. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi)
rahmat (kenabian)-Nya; dan Allah mempunyai karunia yang besar.” [
Al-Baqarah: 105 ]
Berkata
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Allah Subhanahu wa Ta’ala telah
mengabarkan bahwasanya Dia memilih utusan-utusan dari para malaikat-Nya
dan juga dari manusia. Dan إصطفاء ber-wazan إفتعال dari kata تصفية ‘pensucian’ sebagaimana إختيار ber-wazan افتعال dari kata الخيرة ‘pemilihan’, maka Dia mensucikan dan memilih siapa yang Dia inginkan sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-An’am ayat 124,
“Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.”
Maka
Dia lebih tahu siapa yang pantas dijadikan utusan (rasul) dari
(kalangan manusia) yang tidak dijadikan-Nya utusan.” Lihat Minhaj
As-Sunnah 5/437.
Di
tempat yang lain, beliau berkata, “Allah membersihkan/memilih dari
malaikat-malaikat sebagai utusan-utusan dan dari manusia. Allah lebih
mengetahui kepada siapa Dia memberikan risalah-Nya, maka Allah
menghususkan nabi-Nya dengan sifat-sifat yang membedakan nabi-Nya dengan
makhluk lain dalam hal akal dan agama, dan nabi-Nya dipersiapkan untuk
dikhususkan dengan keutamaan dan rahmat-Nya, sebagaimana firman-Nya
dalam surah Az-Zukhruf ayat 31-32,
“Dan
mereka berkata, ‘Mengapa Al-Qur`an ini tidak diturunkan kepada seorang
pembesar (pada salah satu) dari dua negeri (Makkah dan Thaif) ini?’
Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabb-mu? Kami telah menentukan di
antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah
meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa
derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang
lain. Dan rahmat Rabb-mu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” . ”
Lihat Minhaj As-Sunnah 2/416. Perhatikan pula firman Allah dalam surah Al-Jin ayat 20-25.
Kedudukan
Muhammad sebagai seorang rasul tidak boleh disamakan dengan kedudukan
hamba Allah yang lain. Karena itu, sebagian ulama mengatakan bahwa
didahulukannya kata عبده ‘hamba-Nya’ daripada kata رسوله
‘rasul-Nya’ dalam kalimat syahadat Muhammad Rasulullah adalah sebagai
tanjakan dari bawah ke atas, dan dikumpulkannya kedua kata tersebut
(hamba dan Rasul-Nya) adalah untuk menghindari dua kutub yang berbeda:
kutub ifrath (ekstrim/berlebih-lebihan) dan kutub tafrith
(menyepelekan), sebagaimana yang telah terjadi pada Isa ‘ alaihis salam ,
dan Nabi shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam menguatkan makna ini
dengan sabdanya dalam hadits ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang
diriwayatkan oleh Imam Bukhary dan Muslim,
لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَصَارَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُوْلُوْا عَبْدُ الله وَرَسُوْلُهُ
“Janganlah
kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang Nashara
berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam, karena sesungguhnya saya
hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah hamba Allah dan Rasul-Nya.” (Lihat
Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid hal. 82)
Orang-orang
Nashara melakukan ifrath, berlebih-lebihan dalam memuliakan dan memuji
Nabi Isa, dan berbanding terbalik dengan cara orang-orang Yahudi yang
melakukan tafrith dalam bentuk pelecehan dan penghinaan terhadap Nabi
Isa.
Berkata
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, “Makna syahadat
Muhammad Rasulullah adalah menetapkan, (dengan perbuatan) melalui lisan
dan (dengan) iman melalui hati, bahwasanya Muhammad bin ‘Abdullah
Al-Qurasy Al-Hasyimy adalah utusan Allah ‘Azza wa Jalla kepada seluruh
makhluk dari kalangan jin dan manusia, sebagaimana firman Allah Ta’ala,
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” [ Adz-Dzariyat: 56 ]
Tidak
ada ibadah kepada Allah kecuali dengan perantara wahyu yang Muhammad
shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam telah datang dengan wahyu
tersebut, sebagaimana firman Allah Ta’ala,
“Maha
Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur`an) kepada hamba-Nya
agar menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” [ Al-Furqan: 1 ].
”
Konsekuensi Syahadat Muhammad Rasulullah
Syaikhul
Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah, dalam Al-Ushul
Ats-Tsalatsah , menetapkan empat perkara yang merupakan konsekuensi
(keharusan dan tuntutan) dari makna syahadat Muhammad Rasulullah:
Pertama, menaati Rasulullah pada apa yang beliau perintahkan.
Allah
‘Azza wa Jalla telah menetapkan wajibnya taat kepada Rasulullah
shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam di dalam Al-Qur`an dan sunnah,
serta menggandengkan antara ketaatan pada-Nya dengan ketaatan kepada
Rasul-Nya di dalam banyak ayat, di antaranya,
“Taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian benar-benar orang-orang yang beriman.” [ Al-Anfal: 1 ]
Juga di dalam firman-Nya,
“Wahai
orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan
janganlah kalian berpaling dari-Nya sedang kalian mendengar
(perintah-perintah-Nya).” [ Al-Anfal: 20 ]
Siapa
yang durhaka kepada Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam
maka sesungguhnya dia telah durhaka kepada Allah, dan siapa yang durhaka
kepada Allah maka tempatnya adalah neraka, sebagaimana firman-Nya,
“Siapa
yang menaati Allah dan Rasul-Nya, maka Allah akan memasukkannya ke
dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal
di dalamnya, dan yang demikian itu adalah keberuntungan yang sangat
besar.” [ An-Nisa`: 13 ]
Kemudian dalam ayat berikutnya,
“Siapa
yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya dan melampaui
batasan-batasan-Nya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka, dia
kekal di dalamnya dan baginya adzab yang menghinakan.” [ An-Nisa`: 14 ]
Selain itu, dalam hadits Abu Hurairah riwayat Bukhary-Muslim,Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam bersabda,
كُلُّ
أُمَّتِيْ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى قَالُوْا يَا
رَسُوْلَ اللهِ مَنْ يَأْبَى ؟ قَالَ : مَنْ أَطَاعَنِيْ دَخَلَ الْجَنَّةَ
وَمَنْ عَصَانِيْ فَقَدَ أَبَى
“Semua
ummatku akan masuk surga kecuali yang enggan. Para shahabat bertanya,
‘Wahai Rasulullah siapakah yang enggan?’ Rasulullah menjawab, ‘Siapa
yang menaatiku maka dia masuk surga, dan siapa yang mendurhakaiku maka
sesungguhnya dia enggan.’.”
Lalu, dalam hadits Jabir bin Abdillah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhary, disebutkan,
فَمَنْ
أَطَاعَ مُحَمَّداً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ
أَطَاعَ اللهَ وَمَنْ عَصَى مُحَمَّداً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى
آلِهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ عَصَى اللهَ
“Siapa
yang menaati Muhammad shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam maka
sesungguhnya dia telah menaati Allah, dan siapa yang mendurhakai
Muhammad shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam maka sesungguhnya dia
telah mendurhakai Allah.”
Kedua, membenarkan apa yang Rasulullah kabarkan/beritakan.
Sesungguhnya
apa yang Rasulullah bawa semuanya adalah benar, karena merupakan wahyu
dari Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana firman-Nya,
“Dan dia ( Rasulullah) tidak berbicara dari hawa nafsunya, kecuali itu adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” [ An-Najm: 3-4 ]
Juga Firman Allah ‘Azza wa Jalla,
“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” [ Az-Zumar: 33 ]
Kemudian dalam surah lain,
“Dan
(ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, ‘Sungguh,
apa saja yang Aku berikan kepada kalian berupa kitab dan hikmah,
kemudian datang kepada kalian seorang rasul yang membenarkan apa yang
ada pada kalian, niscaya kalian akan sungguh-sungguh beriman kepadanya
dan menolongnya.’ Allah berfirman, ‘Apakah kalian mengakui dan menerima
perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?’ Mereka menjawab, ‘Kami
mengakui.’ Allah berfirman, ‘Kalau begitu, saksikanlah, (wahai para
nabi), dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kalian.’.” [ Âli ‘Imran: 81 ]
Juga ijma’ para ulama bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam itu ma’shum ‘terjaga’ dari dusta.
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-‘Aqidah Al-Wasithiyah -nya, “Kemudian rasul-rasul yang benar dan dibenarkan.”
Ketiga, menjauhi apa yang Rasulullah larang dan peringatkan, sebagaimana firman Allah Ta’ala ,
“Dan
apa yang Rasululah datangkan kepada kalian maka ambillah, dan apa yang
dilarang atas kalian darinya maka jauhilah, dan bertakwalah kepada Allah
karena sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya.” [ Al-Hasyr: 7 ]
Juga sabda Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah riwayat Bukhary-Muslim,
فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْىءٍ فَاجْتَنَبُوْهُ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Dan
jika saya melarang kalian dari sesuatu maka jauhilah, dan jika saya
memerintah kalian kepada sesuatu maka datangkanlah (lakukanlah) sesuai
kemampuan kalian.”
Kemudian
Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam bersabda dalam
hadits Abu Musa Al-Asy’ary yang diriwayatkan oleh Imam Bukhary dan
Muslim,
إِنَّمَا
مَثَلِيْ وَمَثَلُ مَا بَعَثَنِيَ اللهُ بِهِ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَتَى
قَوْمًا فَقَالَ يَا قَوْمِ إِنِّيْ رَأَيْتُ الْجَيْشَ بِعَيْنَيَّ
وَإِنَّيْ أَنَا النَّذِيْرُ الْعُرْيَانُ فَالنَّجَاءَ فَأَطَاعَهُ
طَائِفَةٌ مِنْ قَوْمِهِ فَأَدْلَجُوْا فَانْطَلَقُوْا عَلىَ مَهْلِهِمْ
فَنَجَوْا وَكَذِبَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ فَأَصْبَحُوْا مَكَانَهُمْ
فَصَبَّحَهُمُ الْجَيْشُ فَأَهْلَكَهُمْ وَاجْتَاحَهُمْ فَذَلِكَ مَثَلُ
مَنْ أَطَاعَنِيْ فَاتَّبَعَ مَا جِئْتُ بِهِ وَمَثَلُ مَنْ عَصَانِيْ
وَكَذَبَ بِمَا جِئْتُ بِهِ مِنَ الْحَقِّ
“Sesungguhnya
perumpamaan aku dan perumpumaan apa yang Allah mengutus aku dengannya,
seperti seseorang yang mendatangi suatu kaum kemudian berkata, ‘Wahai
kaumku, sesungguhnya saya melihat pasukan dengan kedua mataku dan
sesungguhnya saya adalah An-Nadzir Al-‘Uryan ‘pemberi peringatan yang
telanjang’,’ maka sekelompok dari kaumnya menaatinya dan bergegas
berjalan di malam hari dengan kehati-hatian dan mereka selamat,
sementara sekelompok dari mereka mendustakannya, sehingga mereka tetap
di tempatnya, maka pasukan itu menyerangnya di waktu Shubuh, lalu
menghancurkan dan membinasakannya. Yang demikian itu perumpamaan orang
yang menaatiku dan mengikuti apa yang aku didatangkan dengannya, dan
perumpamaan orang yang bermaksiat kepadaku dan mendustakan apa yang aku
didatangkan dengannya dari kebenaran.”
An-Nadzir Al-‘Uryan adalah perumpamaan yang dipakai oleh orang-orang untuk menunjukkan kebenaran apa yang ia sampaikan.
Keempat,
tidak menyembah Allah ‘Azza wa Jalla kecuali dengan apa yang Dia
syariatkan, bukan dengan bid’ah, bukan pula dengan hawa nafsu, adat
istiadat, kebiasaan, perasaan, atau anggapan-anggapan yang seseorang
pandang baik, karena sesungguhnya asal dari ibadah itu adalah syariat.
Nanti dikatakan ibadah kalau disyariatkan. Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman,
“Maka
siapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia
beramal shalih dan tidak menyekutukan Rabb-nya dengan siapa pun dalam
peribadahan.” [ Al-Kahfi: 110 ]
Para ulama menafsirkan bahwa amal shalih adalah amal yang sesuai dengan syariat Allah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
“Pada
hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan Aku
cukupkan atas kalian nikmat-Ku dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama
kalian.” [ Al-Maidah: 3 ]
Ayat
ini menunjukkan bahwasanya agama ini telah sempurna dengan tauhid,
syariat, akhlak, dan seluruh apa yang dibutuhkan oleh makhluk di muka
bumi ini. Itulah nikmat yang paling besar. Al-Qur`an dan petunjuk Nabi
shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam itulah yang diridhai di sisi
Allah. Barangsiapa yang membuat perkara baru dalam agama ini, dan
mensyariatkan suatu syariat yang tidak disyariatkan oleh Allah dan
menjadikan syariat tersebut sebagai jalan selain jalan Nabi shallallahu ‘
alaihi wa alihi wa sallam , maka sesungguhnya dia telah melecehkan
Allah atau kitab-Nya, baik dalam keadaan sadar maupun tidak, karena
sesungguhnya Allah telah mengabarkan bahwa Dia telah menyempurnakan
agama-Nya. Kebaikan dan nikmat terdapat dalam Kitabullah dan sunnah
Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam serta sikap berpegang
teguh terhadap Kitabullah dan sunnah tersebut.
Sebagai
kesimpulan, berkata Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimin rahimahullah, “Maka,
dengan ini, kamu mengetahui bahwasanya tidak berhak ibadah itu
diperuntukkan. Tidak kepada Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa
sallam , tidak pula kepada selainnya dari seluruh makhluk. Ibadah itu
tidak boleh diperuntukkan kecuali hanya kepada Allah semata.
Dan
bahwasanya hak Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam
adalah, kamu memberikan kedudukan kepadanya sesuai dengan kedudukan yang
Allah berikan/tetapkan padanya, yaitu sebagai hamba-Nya dan Rasul-Nya.”
Lihat Syarh Tsalatsah Al-Ushul hal. 72.
Wallahu waliyyut taufik.
Sumber : http://an-nashihah.com/?p=79
Tidak ada komentar:
Posting Komentar