TANYA JAWAB
بسم الله الرحمن الرحيم
Pertanyaan:
1. Saat imam melakukan qunut nazilah ataupun qunut witir dimana imam tersebut mengangkat tangan, apakah makmum juga mengangkat tangan?
2. Dibeberapa masjid, ketika imam membaca do'a qunut, ada do'a yang dijahrkan dan ada juga do'a yg di-shir-kan. Apa do'a yg di-shir-kan tsb dan bagaimana dengan makmum dibelakangnya, apakah diam saja atau membaca do'a lain?
3. Apakah sah shaum seseorang jika dia mendapati adzan subuh sedangkan dia masih dalam keadaan junub?
4. Bagaimana aturan atau porsi pembagian zakat untuk mustahik dan amil?
5. Siapa saja yang bisa dikategorikan amil?
6. Bagaimana hukumnya ucapkan minal aidin wal fa idzin?
Demikian ustadz, ....
Syukran
Jawab:
(1) Iya, dikarenakan qunut merupakan tempat berdoa dan itu telah dinukilkan dari Ibnu Masud, Ahmad, Ishaq
Juga dari Umar dan Ibnu Abbas tapi keduanya mengangkat tangan pada qunut dishalat subuh,
Juga mengangkat tangan telah dilakukan Abu Qilabah dan Makhul
Lihat :
Jamiu Ahkami Sholatil witr wal Qunut
(2)Doa qunut dikeraskan, sebagaimana hadits Ibnu Abbas;
قنت رسول الله صلى الله عليه وسلم شهرا متتابعا في الظهر والعصر والمغرب والعشاء والصبح في دبر كل صلاة إذا قال سمع الله لمن حمده ....ويؤمن من خلفه
"Bahwa Rasulullah shollallahu alaihi wasallama qunut (nazilah) secara terus menerus selama satu bulan pada shalat dzuhur, asar, magrib, isya dan subuh pada setiap akhir shalat dan makmum mengaminkan doanya shollallahu alaihi wasallama" diriwayatkan Imam Abu Dawud (1443) dan dihasankan Albani
Maka tidaklah mungkin diaminkan kecuali dikeraskan
Berkata Syaikh Ali Adam:
منها الإستحباب الجهر بالقنوت للإمام
"Diantara faedahnya:
Dianjurkannya bagi imam untuk mengeraskan bacaan qunutnya"
Lihat Bahrul Muhith 14/272
Bisa saja makmum membaca qunut dengan doa tersendiri yang dia ketahui dari doa kalau imamnya mengecilkan bacaan qunutnya
(3) Iya, Sebagaimana hadits Aisyah dan Ummu Salamah;
كان يصبح من جماع ثم يغتسل ويصوم
"Bahwa Rasulullah shollallahualaihi wasllama masuk subuh dalam keadaan belum mandi dari jima lalu dia mandi dan melanjutkan puasanya (mandinya beliau shollallahualaihi wasllama
karena untuk shalat adapun puasa tidak disyaratkan dalam keadaan suci)" diriwayatkan Bukhoriy (1932) dan Muslim (1109)
Dan dalam hadits Ummu Salamah ada tambahan:
ولم يقض
"Beliau shollallahualaihi wasllama tidak mengganti puasa tersebut" Diriwayatkan Imam Muslim
Begitu pula kalau seseorang mimpi basah (mimpi jima) disiang hari romadhan maka puasanya tidak mengapa (tidak batal)
(4) Sesuai dengan tenaganya karena dia seperti pekerja jadi jatahnya disesuikan dengan tenaga yang dikeluarkan seperti gajinya disesuaikan dengan kebiasaan didaerah tertentu
(5) Semua bisa kecuali keturunannya Rasulullah shollallahualaihi wasllama karena itu termasuk memakan bagian dari sedangkan Rasulullah shollallahualaihi wasllama dan keturuannya tidak halal untuk mereka sedekah/ zakat, sebagaimana hadist Abu Rafi bahwa Rasulullah shollallahualaihi wasllama bersabda:
وإنا لا تحل لنا الصدقة
"Sesungguhnya tidak halal bagi kita sedekah (zakat)" diriwayatkan Imam Ahmad dan dishohihkan syaikh Muqbil
Dan dalam hadits AbdulMutholin bin Rabiah Rasulullah shollallahualaihi wasllama bersabda;
وإنها لا تحل لمحمد ولا لآل محمد
"Sesungguhnya zakat tidak halal untuk muhamad shollallahualaihi wasllama dan tidak pula keturunannya"
diriwayatkan Imam Muslim (1072)
(6) Tidak mengapa,telah ditanya Dewan Fatwa Kerajaan Saudi yang dipimpin Ibnu Baz dan salah satu anggotanya Syaikh Sholih Al-Fauzan tentang ucapan selamat berikut ini:
تقبل الله منا ومنكم) و (من العايدين والفائزين) و (عيدكم مبارك)
(TAQOBBALALLAHU MINNAA WAMINKUM) (WAMINAL-AADIIN WAL-FAAIZIN) (IIDUN MUBAAROK)
Maka mereka menjawab:
وأما تهنئة المسلمين بعضهم ببعض بالعيد بمثل العبارات المذكورة في السؤال فإنه لا بأس بها. لما فيها من دعاء الأخ المسلم لأخيه بقبول العمل وطول العمر والسعادة ولا محذور في ذلك
"Ucapan selamat yang dilakukan sesama muslim seperti ucapan diatas tidak mengapa ... karena didalamnya ada doa untuk dikabulkan amalan, diberikan umur panjang serta diberikan kebahagiaan dan tidak ada sesuatu yang tidak dibolehkan didalamnya" lihat Fatawa Lajnah Daimah 6/155-156
والله أعلم
Yaman
Mabar
19 Ramadhan 1438 H
Abu Bakar Rafi bin Ladukani Al-Buthoniy
🍁🍁🍁🍁🍀🍀🍀🍁🍁🍁🍁
http://t.me/akhwatahlussunnah
بسم الله الرحمن الرحيم
Pertanyaan:
1. Saat imam melakukan qunut nazilah ataupun qunut witir dimana imam tersebut mengangkat tangan, apakah makmum juga mengangkat tangan?
2. Dibeberapa masjid, ketika imam membaca do'a qunut, ada do'a yang dijahrkan dan ada juga do'a yg di-shir-kan. Apa do'a yg di-shir-kan tsb dan bagaimana dengan makmum dibelakangnya, apakah diam saja atau membaca do'a lain?
3. Apakah sah shaum seseorang jika dia mendapati adzan subuh sedangkan dia masih dalam keadaan junub?
4. Bagaimana aturan atau porsi pembagian zakat untuk mustahik dan amil?
5. Siapa saja yang bisa dikategorikan amil?
6. Bagaimana hukumnya ucapkan minal aidin wal fa idzin?
Demikian ustadz, ....
Syukran
Jawab:
(1) Iya, dikarenakan qunut merupakan tempat berdoa dan itu telah dinukilkan dari Ibnu Masud, Ahmad, Ishaq
Juga dari Umar dan Ibnu Abbas tapi keduanya mengangkat tangan pada qunut dishalat subuh,
Juga mengangkat tangan telah dilakukan Abu Qilabah dan Makhul
Lihat :
Jamiu Ahkami Sholatil witr wal Qunut
(2)Doa qunut dikeraskan, sebagaimana hadits Ibnu Abbas;
قنت رسول الله صلى الله عليه وسلم شهرا متتابعا في الظهر والعصر والمغرب والعشاء والصبح في دبر كل صلاة إذا قال سمع الله لمن حمده ....ويؤمن من خلفه
"Bahwa Rasulullah shollallahu alaihi wasallama qunut (nazilah) secara terus menerus selama satu bulan pada shalat dzuhur, asar, magrib, isya dan subuh pada setiap akhir shalat dan makmum mengaminkan doanya shollallahu alaihi wasallama" diriwayatkan Imam Abu Dawud (1443) dan dihasankan Albani
Maka tidaklah mungkin diaminkan kecuali dikeraskan
Berkata Syaikh Ali Adam:
منها الإستحباب الجهر بالقنوت للإمام
"Diantara faedahnya:
Dianjurkannya bagi imam untuk mengeraskan bacaan qunutnya"
Lihat Bahrul Muhith 14/272
Bisa saja makmum membaca qunut dengan doa tersendiri yang dia ketahui dari doa kalau imamnya mengecilkan bacaan qunutnya
(3) Iya, Sebagaimana hadits Aisyah dan Ummu Salamah;
كان يصبح من جماع ثم يغتسل ويصوم
"Bahwa Rasulullah shollallahualaihi wasllama masuk subuh dalam keadaan belum mandi dari jima lalu dia mandi dan melanjutkan puasanya (mandinya beliau shollallahualaihi wasllama
karena untuk shalat adapun puasa tidak disyaratkan dalam keadaan suci)" diriwayatkan Bukhoriy (1932) dan Muslim (1109)
Dan dalam hadits Ummu Salamah ada tambahan:
ولم يقض
"Beliau shollallahualaihi wasllama tidak mengganti puasa tersebut" Diriwayatkan Imam Muslim
Begitu pula kalau seseorang mimpi basah (mimpi jima) disiang hari romadhan maka puasanya tidak mengapa (tidak batal)
(4) Sesuai dengan tenaganya karena dia seperti pekerja jadi jatahnya disesuikan dengan tenaga yang dikeluarkan seperti gajinya disesuaikan dengan kebiasaan didaerah tertentu
(5) Semua bisa kecuali keturunannya Rasulullah shollallahualaihi wasllama karena itu termasuk memakan bagian dari sedangkan Rasulullah shollallahualaihi wasllama dan keturuannya tidak halal untuk mereka sedekah/ zakat, sebagaimana hadist Abu Rafi bahwa Rasulullah shollallahualaihi wasllama bersabda:
وإنا لا تحل لنا الصدقة
"Sesungguhnya tidak halal bagi kita sedekah (zakat)" diriwayatkan Imam Ahmad dan dishohihkan syaikh Muqbil
Dan dalam hadits AbdulMutholin bin Rabiah Rasulullah shollallahualaihi wasllama bersabda;
وإنها لا تحل لمحمد ولا لآل محمد
"Sesungguhnya zakat tidak halal untuk muhamad shollallahualaihi wasllama dan tidak pula keturunannya"
diriwayatkan Imam Muslim (1072)
(6) Tidak mengapa,telah ditanya Dewan Fatwa Kerajaan Saudi yang dipimpin Ibnu Baz dan salah satu anggotanya Syaikh Sholih Al-Fauzan tentang ucapan selamat berikut ini:
تقبل الله منا ومنكم) و (من العايدين والفائزين) و (عيدكم مبارك)
(TAQOBBALALLAHU MINNAA WAMINKUM) (WAMINAL-AADIIN WAL-FAAIZIN) (IIDUN MUBAAROK)
Maka mereka menjawab:
وأما تهنئة المسلمين بعضهم ببعض بالعيد بمثل العبارات المذكورة في السؤال فإنه لا بأس بها. لما فيها من دعاء الأخ المسلم لأخيه بقبول العمل وطول العمر والسعادة ولا محذور في ذلك
"Ucapan selamat yang dilakukan sesama muslim seperti ucapan diatas tidak mengapa ... karena didalamnya ada doa untuk dikabulkan amalan, diberikan umur panjang serta diberikan kebahagiaan dan tidak ada sesuatu yang tidak dibolehkan didalamnya" lihat Fatawa Lajnah Daimah 6/155-156
والله أعلم
Yaman
Mabar
19 Ramadhan 1438 H
Abu Bakar Rafi bin Ladukani Al-Buthoniy
🍁🍁🍁🍁🍀🍀🍀🍁🍁🍁🍁
http://t.me/akhwatahlussunnah
posted from Bloggeroid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar