Hati-hati Memilih Teman Bergaul
Oleh :
Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. –hafizhahullah-
Dengan nikmat Allah yang begitu besar dan
luas, Dia menjadikan manusia beraneka ragam bentuk dan warnanya.
Ada yang berkulit putih, hitam, coklat dan
merah. Ada yang berpostur besar, kecil, tinggi dan pendek.
Itu semua terjadi karena ilmu Allah yang
maha luas dan hikmah yang begitu dalam tentang keanekaragaman tersebut.
Jika tidak ada perbedaan
penciptaan, maka akan terjadi kekacauan yang besar pada urusan manusia.
Akibatnya, seorang penjual tidak akan mengenal lagi yang mana pembelinya.
Seorang
yang berutang tidak mengetahui kepada siapa ia harus mengembalikan uang yang
dipinjamnya.
Pengantin
pria tidak lagi mengenal pengantin wanitanya dan sebaliknya.
Jadi, perbedaan tersebut membuat kita
saling mengenal antara satu dengan yang lainnya.
Allah -Azza wa Jalla- berfirman
dalam Surah Al-Hujuraat (13),
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ
مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ
أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ }
[الحجرات: 13]
“Hai manusia,
sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan
dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah
ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui
lagi Maha Mengenal”
Muhammad Al-Amin bin
Muhammad Asy-Syinqithiy-rahimahullah- berkata dalam
menafsirkan ayat di atas,
”بَيَّنَ تَعَالَى أَنَّهُ جَعَلَهُمْ
شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِأَجْلِ أَنْ يَتَعَارَفُوا أَيْ يَعْرِفُ بَعْضُهُمْ
بَعْضًا، وَيَتَمَيَّزُ بَعْضُهُمْ عَنْ بَعْضٍ لَا لِأَجْلِ أَنْ يَفْتَخِرَ بَعْضُهُمْ
عَلَى بَعْضٍ وَيَتَطَاوَلَ عَلَيْهِ.
وَذَلِكَ
يَدُلُّ عَلَى أَنَّ كَوْنَ بَعْضِهِمْ أَفْضَلَ مِنْ بَعْضٍ وَأَكْرَمَ مِنْهُ
إِنَّمَا يَكُونُ بِسَبَبٍ آخَرَ غَيْرِ الْأَنْسَابِ." اهـ من أضواء البيان
في إيضاح القرآن بالقرآن (5/ 170)
“Allah -Subhana Wa Ta'ala-
menjelaskan bahwa ia telah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku agar saling mengenal antara satu dan yang lainnya. Sebagian dari
mereka bisa terbedakan dari sebagian yang lain, bukan untuk berbangga-bangga
dan menyombongkan diri dengannya. Hal itu menunjukkan juga tentang kondisi
sebagian mereka lebih utama dari sebagian yang lain. Sedang orang yang paling
mulia diantara mereka, hanya bisa di dapatkan dengan ketakwaan, bukan dengan nasab”. [Lihat Adhwaa'
Al-Bayan (5/170) karya Asy-Syinqithiy, cet. Dar Ihyaa' At-Turots
Al-Arobiy, 1417 H]
Allah telah memberikan keterangan bahwa
manusia telah diciptakan secara berbangsa-bangsa dan bersuku-suku.
Selanjutnya Allah kelompokkan orang-orang
diantara mereka, ada yang baik dan yang buruk.
Setiap kelompok akan memiliki teman dan
kebiasaan yang berbeda dengan yang lainnya.
Orang yang baik akan memiliki teman yang
baik. Sebaliknya, orang yang buruk akan memiliki teman yang buruk pula.
Rasululllah -Shallallahu alaihi wa
sallam- bersabda,
الْأَرْوَاحُ
جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا
اخْتَلَفَ
“Roh-roh itu seperti prajurit yang
berkelompok-kelompok, jika saling mengenal, mereka akan menjadi akrab, dan jika
saling bermusuhan, maka mereka akan saling berselisih."[HR. Al-Bukhari dalam Kitab Ahadits
Al-Anbiyaa' (no. 3336) Muslim (2638) dari sahabat yang berbeda]
Al-Imam Abu Sulaiman
Al-Khoththobiy -rahimahullah- berkata,
"يُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ إِشَارَةً
إِلَى مَعْنَى التَّشَاكُلِ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ وَالصَّلَاحِ وَالْفَسَادِ
وَأَنَّ الْخَيِّرَ مِنَ النَّاسِ يَحِنُّ إِلَى شَكْلِهِ وَالشِّرِّيرَ نَظِيرُ
ذَلِكَ يَمِيلُ إِلَى نَظِيرِهِ فَتَعَارُفُ الْأَرْوَاحِ يَقَعُ بِحَسَبِ
الطِّبَاعِ الَّتِي جُبِلَتْ عَلَيْهَا مِنْ خَيْرٍ وَشَرٍّ فَإِذَا اتَّفَقَتْ
تَعَارَفَتْ وَإِذَا اخْتَلَفَتْ تَنَاكَرَتْ." اهـ من فتح الباري لابن حجر
(6/ 446)
"Mungkin ini adalah
isyarat tentang makna kesamaan dalam kebaikan dan keburukan, kesholihan dan
kerusakan. Orang yang baik akan cenderung kepada sesamanya. Orang yang buruk
sama halnya akan condong kepada sesamanya. Saling berkenalannya roh terjadi
berdasarkan tabiat yang ia diciptakan atasnya berupa kebaikan dan keburukan.
Bila ia sama, maka ia akan saling mengenal dan bila ia berbeda, maka ia akan
saling bermusuhan". [Lihat Fathul Bari (6/446), cet.
Darus Salam, 1421 H]
Setiap roh telah dikelompokkan oleh
Allah -Azza wa Jalla- sejak dahulu sebelum mereka diciptakan.
Lantaran itu, seseorang ketika di dunia
akan mencari temannya yang dulu telah dikelompokkan bersama dengannya.
Seorang yang suka bermaksiat, akan bergabung dengan orang-orang
yang setipe dengannya.
Seorang pendusta akan mencari para pendusta
yang lainnya sebagai kawannya.
Seorang pencuri akan bergabung dengan
kawanan pencurinya.
Orang yang jujur dan shalih akan mencari
orang yang shalih juga.
Semuanya akan mencari pasangan dan bala
tentaranya masing-masing.
Hadits di atas memperingatkan kepada kita
agar berhati-hati dalam memilih
teman duduk dan bergaul. Jangan sampai memilih orang yang buruk dalam kehidupan
ini.
Sebab, hal
itu menjadi tanda bahwa roh kita sebenarnya telah dikelompokkan dengan roh
orang yang jelek amalannya.
Cukuplah hal itu sebagai suatu kerugian
jika kita memilih teman duduk yang amalannya akan memberikan pengaruh buruk
kepada kita.
Hal itu sebagaimana sabda Nabi -Sallallahu
'alaihi wa sallam- ,
مَثَلُ
الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ
الْحَدَّادِ لَا يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ
تَجِدُ رِيحَهُ وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ
مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً
"Perumpamaan orang
yang bergaul dengan orang shalih dan orang yang bergaul dengan orang buruk
sepertipenjual minyak wangi dan tukang tempa
besi. Pasti kau dapatkan dari pedagang minyak wangi apakah kamu membeli minyak
wanginya atau sekedar mendapatkan bau wewangiannya, sedangkan dari tukang tempa
besi akan membakar badanmu atau kainmu atau kamu akan mendapatkan bau yang
tidak sedap".". [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Adz-Dzaba'ih wa
Ash-Shoid (5214), dan Muslim dalam Kitab Al-Birr wa
Ash-Shilah (2628)]
Al-Imam Abu Zakariyya
Yahya bin Syarof An-Nawawi-rahimahullah- berkata,
"وَفِيهِ فَضِيلَةُ مُجَالَسَةِ
الصَّالِحِينَ وَأَهْلِ الْخَيْرِ وَالْمُرُوءَةِ وَمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَالْوَرَعِ
وَالْعِلْمِ وَالْأَدَبِ وَالنَّهْيُ عَنْ مُجَالَسَةِ أَهْلِ الشَّرِّ وَأَهْلِ
الْبِدَعِ وَمَنْ يَغْتَابُ النَّاسَ أَوْ يَكْثُرُ فُجْرُهُ وَبَطَالَتُهُ
وَنَحْوُ ذَلِكَ مِنَ الْأَنْوَاعِ الْمَذْمُومَةِ." اهـ من شرح النووي على
مسلم (16/ 178)
“Dalam ucapan Rasulullah
-Sallallahu 'alaihi wa sallam- ini terkandung keutamaan duduk bersama
orang-orang yang shalih, yang memiliki kebaikan, muru`ah (citra diri), akhlak
yang mulia, wara’, ilmu serta adab. Juga terkandung larangan duduk bersama
orang-orang yang jelek, ahlul bid’ah, orang yang suka menggunjing orang lain,
atau sering melakukan perbuatan fajir, banyak mengganggu, dan berbagai macam
perbuatan tercela lainnya”. [Lihat Syarh Shahih Muslim (16/178),
cet. Dar Ihyaa' At-Turots al-Arobiy, 1392 H]
Seorang yang cerdik akan berusaha mencari
kawan yang mendatangkan kebaikan bagi dirinya dan orang-orang yang di
sekelilingnya.
Sebab, barapa
banyak orang yang dahulu istiqomah dan taat
beragama, telah larut bersama
dengan orang-orang berperangai buruk.
Kini manusia bingung dan serampangan dalam
mencari kawan, sehingga sebagian
orang ibaratnya kelinci lugu yang mendekati harimau yang ganas.
Kawan buruknya siap menghancurkan agama dan
perilakunya, tanpa ia sadari.
"وَفِي الْحَدِيثِ النَّهْيُ عَنْ
مُجَالَسَةِ مَنْ يُتَأَذَّى بِمُجَالَسَتِهِ فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا
وَالتَّرْغِيبُ فِي مُجَالَسَةِ مِنْ يُنْتَفَعُ بِمُجَالَسَتِهِ فِيهِمَا."
اهـ من فتح الباري لابن حجر (4/ 324)
Al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahullah- berkata saat mengomentari
hadits di atas,”Di dalam hadits ini terkandung larangan duduk bersama orang
yang dapat mengakibatkan kerugian pada agama maupun dunia, serta anjuran untuk
duduk bersama orang yang dapat diambil manfaatnya bagi agama dan
dunianya". [LihatFathul Bari (4/324), cet. Dar
Al-Fikr, tahqiqMuhibbuddin Al-Khothib, ]
Di dalam Kitab-Nya yang mulia, Allah telah
memerintahkan kita untuk senantiasa duduk bersama orang yang shalih lagi jujur,
bukan bersama para pendusta,
sebagaimana dalam firman-Nya,
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا
اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ} [التوبة: 119]
"Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan
hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur”. (QS. At-Taubah: 119)
Allah -Azza wa Jalla- di dalam ayat ini telah memuji orang-orang
yang jujur keimanan, ucapan dan perbuatannya, dan sebaliknya mencela
orang-orang yang dusta keimanan, ucapan dan perbuatannya.
Seorang harus pandai-pandai memilih teman
duduk dan kawan sejawat agar ia mendapatkan manfaat yang baik dalam pertemanan
dan perkawanannya.
Teman duduk bila sholih, akan membawa
kebaikan bagi dunia dan akhirat kita, walapun ia adalah orang-orang yang miskin
dan papa.
Di zaman ini, banyak orang yang
berbangga dan lebih senang memilih orang-orang kaya dan berkedudukansebagai teman dan sahabat, walaupun teman-teman itumemiliki sifat buruk.
Mereka lebih memilih orang-orang buruk sebagai teman,dibandingkan orang-orang
sholih yang papa dan miskin.
Karenanya, seseorang tidak selayaknya
memalingkan pandangan dari orang-orang sholih, lalu menuju kepada orang-orang
yang senantiasa mengejar dunia dan lalai dari mengingat Allah -Azza wa Jalla- .
Allah -Subhana Wa Ta'ala- befirman,
{وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ
يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ
عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ
أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
} [الكهف: 28]
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama
dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan
mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka
(karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang
yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa
nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Q.S. Al-Kahfi:
28)
Asy-Syaikh Abdurahman bin
Nashir As-Sa’diy -rahimahullah- berkata,
"ففيها الأمر بصحبة الأخيار، ومجاهدة
النفس على صحبتهم، ومخالطتهم وإن كانوا فقراء فإن في صحبتهم من الفوائد، ما لا
يحصى." اهـ من تيسير الكريم الرحمن (ص: 475)
“Di dalam ayat ini didapati perintah
untuk bergaul dengan orang-orang yang baik, dan mengupayakan diri untuk tetap
bersama mereka serta bergaul dengan mereka, walau mereka adalah orang-orang
yang fakir.Karena bergaul bersama
mereka membuahkan faedah yang tidak terhitung banyaknya.” [Lihat Taisirul Karimir Rahman (hal.
475)]
Oleh karenanya, wajib bagi kita untuk
memilih teman-teman yang baik dan menjauhi teman yang jelek agama, atau akhlak dan muamalahnya.
Sebab, teman
memiliki pengaruh yang sangat besar pada diri seseorang.
Kisah dan fakta telah banyak terlintas di
mata kita tentang seorang yang berbuat kemungkaran dan maksiat akibat salah
memilih teman. Ia jauh dari agama,
bahkan mungkin kafir dan murtad gara-gara teman dekatnya. Na’udzu billahi min
dzalik.
Terkadang ia menyadari bahwa perbuatan
temannya itu salah dan terlarang, tapi ia tidak mau mengingkarinya, bahkan ia
menutup mata darinya demi menjaga perasaan dan persahabatan dengannya.
Lebih jahat dari itu, ia berusaha
mencari-cari dalih dan pembenaran terhadap perbuatan temannya yang jelek itu
dengan mengatakan “Itu kan urusannya! Dia melakukan perzinaan,
perampokan, pembunuhan, korupsi, kenapaanda yang pusing? Bukanlah anda yang nanti
akan ditanya di akhirat tentang perbuatannya! Urusi saja
urusanmu sendiri!!!”
Akhirnya, dengan
ucapannya itu, ia telah menutup pintu nasehat kepada sesama kaum
muslimin.
Pantaslah apabila Rasulullah -Sallallahu
'alaihi wa sallam-telah memperingatkan hal itu dalam sabdanya,
الرَّجُلُ
عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang itu berada di
atas agama temannya, maka hendaklah setiap kalian memperhatikan siapa yang dia
jadikan teman.” [HR. Abu Dawud (4833) dan
At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (no. 2497). Di-hasan-kanAsy-Syaikh
Al-Albani -rahimahullah- dalam Shahih Sunan
Abu Dawud (3/188)].
Ulama Negeri India,
Syamsul Haqq Al-‘Azhim Abadiy -rahimahullah- berkata,
"فَمَنْ رَضِيَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ
خَالَلَهُ وَمَنْ لَا تَجَنَّبَهُ فَإِنَّ الطِّبَاعَ سَرَّاقَةٌ." اهـ من
عون المعبود مع حاشية ابن القيم (13/ 123)
“Oleh karena itu, siapa saja yang diridhai agama dan
akhlaknya hendaknya dijadikan teman, dan siapa yang tidak seperti itu hendaknya
dijauhi, karena tabiat itu akan suka meniru. [Lihat ‘Aunul
Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud (13/123)]
Seorang ketika bergaul dengan orang yang
buruk haruslah amat hati-hati. Jangan menjadikan mereka sebagai teman duduk dan
sahabat karib.
Kalaupun ia dipergauli, maka ia dipergauli
demi menasihatinya agar ia mau kembali kepada jalankebaikan dan kebenaran.
Bila ia tak menerima nasihat, hendaknya
dijauhi. Akan tetapi perlu diketahui bahwa amat jarang orang yang mampu
menunaikan tugas nasihat seperti ini, kecuali ia akan larut bersamanya, tanpa
ia sadari.
Oleh karena itu, seseorang jangan terlalu
percaya dengan dirinya, lalu merasa yakin bahwa ia tak akan terbawa oleh orang buruk tersebut.
Alangkah banyaknya korban yang larut
bersama mereka.
Itulah hikmahnya para ulama kita amat
mengingatkan kita agar jangan condong kepada orang-orang zholimdari kalangan tukang maksiat, ahli
bid'ah atau kafir.
Ini didasari oleh firman Allah,
{وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا
فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ
لَا تُنْصَرُونَ} [هود: 113]
"Dan janganlah kamu
cenderung kepada orang-orang yang zhalim yang menyebabkan kamu disentuh api
neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain
daripada Allah, Kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan". (QS. Huud: 113)
Al-Imam Abu Hayyan
Muhammad bin Yusuf Al-Andalusiy -rahimahullah- berkata,
"والنهي متناول لانحطاط فِي هَوَاهُمْ،
وَالِانْقِطَاعَ إِلَيْهِمْ، وَمُصَاحَبَتَهُمْ، وَمُجَالَسَتَهُمْ،
وَزِيَارَتَهُمْ، وَمُدَاهَنَتَهُمْ، وَالرِّضَا بِأَعْمَالِهِمْ، وَالتَّشَبُّهَ
بِهِمْ، وَالتَّزَيِّيَ بِزِيِّهِمْ، وَمَدَّ الْعَيْنِ إِلَى زَهْرَتِهِمْ،
وَذِكْرَهُمْ بِمَا فِيهِ تَعْظِيمٌ لَهُمْ."
"Larangan itu
mencakup keterjerumusan dalam hawa nafsu mereka, fokus kepada mereka,
menemaninya, menziarahinya, toleran, ridho dengan perbuatannya, meniru mereka,
berpenampilan seperti penampilan mereka, menujukan pandangan kepada kesenangan
mereka dan menyebut mereka dengan sesuatu yang mengandung pengagungan kepada
mereka". [Lihat Al-Bahr Al-Muhith (5/224),
cet. Darul Fikr)
Disinilah perlunya kita berhati-hati
terhadap orang yang zhalim dari kalangan ahli maksiat, ahli bid'ah, dan kaum
kafir.
Jangan sampai hati kita lebih mencintai dan
condong kepada mereka, sedang kita telah mengetahui kezhalimannya sehingga
Allah menurunkan adzabnya kepada kita.
Pilihlah teman-teman bergaul dalam segala
aktifitas kita dari kalangan orang-orang sholih yang bisa kita harapkan kebaikan dan
berkahnya.
Hindarilah teman-teman buruk yang menyeret diri
kita kepada jurang kebinasaan, yang menyebabkan
hilangnya keberkahan dalam kehidupan dunia dan akhirat kita.
Kelompokkanlah dirimu dalam golongan
orang-orang yang senantiasa bertaqwa dan taat kepada Allah -Azza wa Jalla-,
yaitu orang-orang yang jujur dalam menginginkan kebaikan bagi dirimu.
Janganlah terbuai dan dilalaikan oleh para penipu yang
berwajah manis kepadamu dan menampakkan“kebaikan” dan persahabatan. Padahal ia adalah serigala
yang siap memangsa dirimu dan menjerumuskanmu dalam kecelakaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar