Kekayaan adalah anugerah yang diberikan oleh Allah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Harta bukan perkara tercela bagi pemiliknya. Apabila hamba tersebut mau menyalurkannya di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai wujud syukur kepada-Nya.
Di sisi lain, kemiskinan bukanlah
aib atas seorang hamba. Ketika dia menjalani kehidupan dengan kesabaran.
Begitulah sunnatullah yang telah ditetapkan.
Pada edisi kali ini marilah sejenak
mengenal pribadi Abdurrahman bin ‘Auf RadhiyAllahu ‘Anhu, seorang
sahabat Nabi Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam. Bagaimana beliau menjalani
kehidupan sebagai seorang pemilik harta yang dermawan.
Mengenal Abdurrahman bin ‘Auf RadhiyAllahu
‘Anhu
Tubuh tinggi tegap, berwajah
tampan, berkulit putih, besar biji matanya, lebat dan hitam bulu matanya bagian
atas, merah padam kedua bibirnya, jenjang lehernya, pundaknya lebar, serta
memiliki rambut yang cukup panjang sampai di bawah kedua telinga; itulah sosok
Abdurrahman bin ‘Auf RadhiyAllahu ‘Anhu. Beliau bernama Abdurrahman bin
‘Auf bin Abdi ‘Auf bin ‘Abd al-Qurasyi az-Zuhri al-Makki. Kunyah beliau adalah
Abu Muhammad.
Umur beliau sepuluh tahun lebih
muda daripada umur Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam. Beliau RadhiyAllahu
‘Anhu lahir di Makkah dan berasal dari suku Quraisy. Di masa
jahiliyyah, beliau bernama Abdu ‘Amr. Setelah masuk Islam, Rasulullah Shallallahu
‘Alayhi Wa Sallam mengganti namanya dengan Abdurrahman.
Beliau RadhiyAllahu ‘Anhu tergolong
dalam as-Sabiqunal Awwalun (para sahabat Nabi yang pertama kali masuk
Islam). Beliau pula termasuk salah satu dari Ahlusy Syura (enam sahabat
Nabi Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam yang dipilih ‘Umar bin
al-Khaththab RadhiyAllahu ‘Anhu untuk menentukan pengganti ‘Umar RadhiyAllahu
‘Anhu sebagai khalifah). Bahkan Abdurrahman bin ‘Auf RadhiyAllahu
‘Anhu termasuk dalam al-’Asyarah al-Mubasysyarun bil Jannah
(sepuluh sahabat Nabi yang diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi
Wa Sallam sebagai penghuni surga).
Kehidupan Abdurrahman bin
‘Auf RadhiyAllahu ‘Anhu
Beliau memeluk Islam melalui ajakan
Abu Bakar as-Shiddiq RadhiyAllahu ‘Anhu. Di Makkah pada saat itu, kaum
musyrikin tiada henti menindas orang-orang yang masuk Islam. Hingga sebagian
sahabat Nabi berhijrah ke negeri Habasyah. Satu di antara mereka adalah
Abdurrahman bin ‘Auf RadhiyAllahu ‘Anhu.
Pada saatnya, Allah RadhiyAllahu
‘Anhu mengijinkan Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam dan
para sahabatnya untuk hijrah menuju kota Madinah. Abdurrahman bin ‘Auf RadhiyAllahu
‘Anhu tak ketinggalan. Beliau berangkat pula menuju Madinah untuk
menyelamatkan jiwa dan agamanya.
Setiba di Madinah, Nabi Shallallahu
‘Alayhi Wa Sallam mempersaudarakan antara kaum Muhajirin (para
pendatang) dengan kaum Anshar (penduduk asli Madinah). Abdurrahman bin ‘Auf RadhiyAllahu
‘Anhu sendiri dipersaudarakan dengan Sa’ad bin ar-Rabi’ RadhiyAllahu
‘Anhu. Kaum Anshar benar-benar memberikan segenap bantuan kepada kaum
Muhajirin. Sa’ad RadhiyAllahu ‘Anhu mengetahui bahwa Abdurrahman
bin ‘Auf RadhiyAllahu ‘Anhu ketika itu adalah seorang fakir yang
tidak memiliki apa-apa.
Maka Sa’ad bin ar-Rabi’ RadhiyAllahu
‘Anhu menawarkan, “Wahai saudaraku, aku ini adalah penduduk Madinah
yang paling banyak hartanya. Karena itu, ambillah separuh hartaku. Aku juga
memiliki dua istri. Lihatlah, siapa di antara mereka berdua yang lebih engkau
sukai. Nanti aku akan menceraikannya. Apabila telah berlalu masa iddahnya,
engkau bisa menikah dengannya.”
Abdurrahman bin ‘Auf RadhiyAllahu
‘Anhu segera menimpali, “Tidak, demi Allah. Semoga Allah RadhiyAllahu
‘Anhu memberkahi dirimu, juga keluarga dan hartamu. Namun, cukuplah
engkau tunjukkan padaku di mana pasar di daerah ini.” Sa’ad bin Rabi’ RadhiyAllahu
‘Anhu pun menunjukkan letak pasar tersebut kepada beliau.
Setelahnya Abdurrahman bin ‘Auf RadhiyAllahu
‘Anhu pergi ke pasar. Beliau pun mulai berdagang di sana. Tak selang
berapa lama, perniagaannya semakin berkembang dan beliau sudah menjadi pedagang
besar dan seorang yang kaya di Madinah.
Kedermawanannya di Jalan Allah
Semasa Rasulullah Shallallahu
‘Alayhi Wa Sallam masih hidup, Abdurrahman bin ‘Auf RadhiyAllahu
‘Anhu pernah menyedekahkan setengah hartanya, kemudian disusul lagi
dengan infak sebesar 40.000 dinar, lalu menyumbang lagi dengan 500 ekor kuda
serta 500 ekor unta untuk keperluan jihad di jalan Allah. Sampai kaum munafikin
melontarkan tuduhan, “Sesungguhnya Abdurrahman (bin ‘Auf) adalah orang yang
sangat riya’.”
Suatu hari, beliau RadhiyAllahu
‘Anhu menjual sebidang tanah dengan harga 40.000 dinar. Tanpa diduga,
beliau menyedekahkan hasil penjualan tersebut kepada orang-orang miskin dari
kabilah Bani Zuhrah, kaum Muhajirin, serta para istri Nabi Shallallahu
‘Alayhi Wa Sallam.
Pernah suatu ketika, Abdurrahman
bin ‘Auf RadhiyAllahu ‘Anhu mengundang beberapa sahabat Nabi Shallallahu
‘Alayhi Wa Sallam ke rumahnya. Setelah mandi, beliau menemui mereka
dengan membawa nampan berisi roti dan daging. Setelah meletakkan hidangan
tersebut, beliau langsung menangis.
Mereka bertanya keheranan, “Wahai
Abu Muhammad, apa yang menyebabkan engkau menangis?”. “Rasulullah Shallallahu
‘Alayhi Wa Sallam meninggal dalam keadaan beliau beserta keluarganya
belum pernah kenyang dengan roti gandum,” jawabnya. Ternyata beliau teringat
akan Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam semasa hidupnya.
Kepahlawanannya dalam Membela
Nabi Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam
Beliau bersama para sahabat yang
lain tak pernah ketinggalan mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah Shallallahu
‘Alayhi Wa Sallam. Menegakkan agama Islam, membela Nabi Muhammad Shallallahu
‘Alayhi Wa Sallam dari penindasan orang-orang kafir dengan jiwa dan
raga.
Abdurrahman bin ‘Auf RadhiyAllahu
‘Anhu juga turut menyertai Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam dalam
perang Uhud. Ketika perang berkecamuk dengan hebatnya, para sahabat Nabi berjuang
sekuat tenaga melindungi Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam. Dalam
perang Uhud ini, Abdurrahman bin ‘Auf RadhiyAllahu ‘Anhu mendapat
20 luka lebih di sekujur tubuhnya. Di antaranya adalah yang mengenai mulutnya
hingga tanggal kedua gigi depannya, dan sebagiannya mengenai kakinya sampai
pincang jalannya.
Kemuliaannya dalam Islam
Di penghujung malam, Nabi Shallallahu
‘Alayhi Wa Sallam pergi menunaikan hajatnya ditemani al-Mughirah bin
Syu’bah RadhiyAllahu ‘Anhu. Pada saat itu telah masuk waktu shalat
Shubuh. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam tak kunjung
datang, maka Abdurrahman bin ‘Auf RadhiyAllahu ‘Anhu maju mengimami
para sahabat. Tatkala para sahabat telah menyelesaikan satu raka’at, datanglah
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam.
Demi melihat kedatangan Nabi Shallallahu
‘Alayhi Wa Sallam, Abdurrahman bin ‘Auf RadhiyAllahu ‘Anhu hendak
melangkah mundur agar digantikan oleh Nabi Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam.
Namun dengan penuh tawadhu’, Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam mengisyaratkan
agar beliau tetap berada di posisinya. Nabi Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam lalu
ikut shalat di belakang Abdurrahman bin ‘Auf RadhiyAllahu ‘Anhu. Setelah
menyempurnakan raka’at shalatnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam membenarkan
perbuatan mereka yang melaksanakan shalat pada waktunya. Beliau Shallallahu
‘Alayhi Wa Sallam bersabda, “Sungguh, kalian telah benar.”
Suatu hari, Rasulullah Shallallahu
‘Alayhi Wa Sallam memanggil Busrah bintu Shofwan RadhiyAllahu ‘Anhu dan
menanyainya, “Siapa saja yang melamar Ummu Kultsum bintu ‘Uqbah?.” Maka Busrah
bintu Shofwan RadhiyAllahu ‘Anhu menjawab, “Fulan (nama orang),
fulan (nama orang), dan juga Abdurrahman bin ‘Auf RadhiyAllahu ‘Anhu.”
Maka Nabi Muhammad Shallallahu
‘Alayhi Wa Sallam bersabda, “Nikahkan dia dengan Abdurrahman bin ‘Auf.
Karena sesungguhnya dia termasuk orang-orang terbaik dari kaum muslimin.”
Kemudian, mereka segera menikahkan Ummu Kultsum dengan Abdurrahman bin ‘Auf
seketika itu juga.
Dahulu, terjadi perselisihan antara
Abdurrahman bin ‘Auf RadhiyAllahu ‘Anhu dengan seseorang. Dalam
perselisihan tersebut, orang itu sempat mencela beliau. Mendengar hal tersebut,
Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam bersabda, “Janganlah
kalian mencela para sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya,
seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung
Uhud, niscaya hal itu tidak akan bisa menyamai satu mud yang mereka infakkan,
bahkan tidak pula setengahnya.”
Sebagaimana layaknya kebanyakan
manusia, pernah terjadi silang pendapat antara Abdurrahman bin ‘Auf RadhiyAllahu
‘Anhu dengan Thalhah bin ‘Ubaidillah RadhiyAllahu ‘Anhu. Suatu
hari, Abdurrahman bin ‘Auf RadhiyAllahu ‘Anhu menjenguk Thalhah bin
‘Ubaidillah RadhiyAllahu ‘Anhu yang sedang jatuh sakit. Maka Thalhah
RadhiyAllahu ‘Anhu berkata, “Demi Allah wahai saudaraku, engkau
lebih baik dariku.” “Jangan kau katakan yang demikian wahai saudaraku,” tandas
Abdurrahman bin ‘Auf RadhiyAllahu ‘Anhu. Thalhah RadhiyAllahu ‘Anhu menjawab,
“Tentu, demi Allah. Kalau sekiranya engkau jatuh sakit, bisa jadi aku tidak
berkesempatan menjengukmu.”
Akhir Kehidupannya di Dunia
Di saat-saat akhir hidupnya, beliau
menangis. Orang-orang pun bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?.” Beliau
menjelaskan, “Dahulu, Mush’ab bin ‘Umair RadhiyAllahu ‘Anhu gugur
dalam pertempuran pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam.
Sementara kami tidak mendapatkan apapun untuk mengkafaninya pada waktu itu,
padahal dia lebih baik dariku. Begitu pula dengan Hamzah bin Abdul Muththalib RadhiyAllahu
‘Anhu, dia lebih baik dariku. Namun pada waktu itu kami juga tidak
mendapatkan apa-apa untuk mengkafaninya…”
Lanjut perkataan beliau,
“Sesungguhnya aku khawatir bila aku termasuk orang-orang yang disegerakan
memperoleh kebaikan di dunia. Sementara di akherat kelak, tidak mendapatkan
kebaikan apa-apa.”
Setelahnya, beliau RadhiyAllahu
‘Anhu menyedekahkan hartanya kepada seratus sahabat Nabi Shallallahu
‘Alayhi Wa Sallam yang mengikuti perang Badr, masing-masing sebanyak
400 dinar. Demikian pula beliau memberikan santunan kepada para istri Nabi
dengan harta yang besar jumlahnya. Hingga Aisyah x mendoakannya, “Semoga Allah RadhiyAllahu
‘Anhu memberikan minuman untuknya dari Salsabila (mata air
surga).”
Di tambah lagi, Abdurrahman bin
‘Auf RadhiyAllahu ‘Anhu memerdekakan 30.000 budak yang dimilikinya.
Adapun terhadap keempat istrinya, beliau memberikan masing-masing dari mereka
sebanyak 100.000 dinar sepeninggalnya.
Tepat pada tahun 32 H, beliau
menghembuskan napas terakhirnya pada usia 75 tahun. Beliau RadhiyAllahu
‘Anhu meninggalkan harta yang cukup banyak berupa 20 ladang pertanian
yang subur di daerah al-Jurf (sekitar tiga mil dari Madinah), 1.000 unta, 3.000
kambing, serta 100 kuda.
Kemudian jenazah beliau dishalati,
dengan khalifah Utsman bin ‘Affan RadhiyAllahu ‘Anhu sebagai
imamnya. Sa’ad bin Abi Waqqash RadhiyAllahu ‘Anhu ikut mengangkat
jenazahnya, lalu beliau dimakamkan di pekuburan Baqi’. Semoga Allah RadhiyAllahu
‘Anhu meridhainya.
Al-Imam al-Bukhari Rahimahullah dalam
kitab Shahih-nya menyebutkan riwayat melalui Abdurrahman bin ‘Auf RadhiyAllahu
‘Anhu sebanyak lima hadits. Adapun al-Imam Baqi bin Makhlad Rahimahullah dalam
kitab Musnad-nya menyebutkan 65 hadits.
Akhir Kata
Para pembaca yang mulia,
demikianlah salah satu kepribadian para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alayhi Wa
Sallam. Generasi terbaik dari umat ini yang disebutkan ciri-cirinya di
dalam kitab Taurat dan Injil. Semoga bisa menjadi bahan renungan bagi
hamba-hamba Allah RadhiyAllahu ‘Anhu. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
Penyusun: Ustadz Muhammad Hadi
Sumber: http://buletin-alilmu.net/2014/04/24/abdurrahman-bin-auf-radhiyallahu-anhu-seorang-sahabat-nabi-yang-dermawan/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar