Ditulis
Oleh Al Ustadz Abu Utsman Kharisman
Apa Saja yang
Termasuk Mandi Sunnah?
Jawab:
Disukai
(mustahab) mandi dalam beberapa keadaan:
1. Mandi Jumat
مَنْ
تَوَضَّأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ وَمَنْ اغْتَسَلَ فَالْغُسْلُ
أَفْضَلُ
Barangsiapa
yang berwudhu’ pada hari Jumat, maka itu adalah baik. Barangsiapa yang mandi,
maka mandi adalah lebih utama (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, anNasaai, Ibnu Majah,
Ahmad, dihasankan sanadnya oleh al-Bushiry dan dihasankan al-Albany)
2. Mandi setelah memandikan jenazah
مَنْ
غَسَّلَ الْمَيِّتَ فَلْيَغْتَسِلْ وَمَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ
Barangsiapa
yang memandikan jenazah hendaknya mandi, dan barangsiapa yang memanggulnya,
maka hendaknya berwudhu’ (H.R Abu Dawud dan Ahmad dari Abu Hurairah)
3. Mandi setiap selesai berjimak (berhubungan suami
istri)
عَنْ
أَبِي رَافِعٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَافَ ذَاتَ
يَوْمٍ عَلَى نِسَائِهِ يَغْتَسِلُ عِنْدَ هَذِهِ وَعِنْدَ هَذِهِ قَالَ قُلْتُ
لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا تَجْعَلُهُ غُسْلًا وَاحِدًا قَالَ هَذَا أَزْكَى
وَأَطْيَبُ وَأَطْهَرُ
Dari
Abu Rafi’ bahwasanya Nabi shollallahu alaihi wasaallam berkeliling (berhubungan
suami istri) dengan isteri-isterinya pada suatu hari. Beliau mandi pada setiap
istri tersebut. Aku bertanya kepada beliau: Wahai Rasulullah, tidakkah anda
menjadikan hanya satu kali mandi saja (di akhir)? Beliau bersabda: Ini lebih
suci dan lebih baik (H.R Abu Dawud, dihasankan sanadnya oleh al-Bushiry dan
al-Albany)
Mandi
setiap kali berjimak adalah lebih utama. Boleh juga dicukupkan dengan satu kali
mandi di akhir setelah beberapa kali berhubungan suami istri. Sebagaimana dalam
hadits Anas bin Malik:
عَنْ
أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَافَ ذَاتَ
يَوْمٍ عَلَى نِسَائِهِ فِي غُسْلٍ وَاحِدٍ
Dari
Anas –radhiyallahu anhu- bahwa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam suatu
hari berkeliling pada istri-istri beliau dengan satu kali mandi (H.R Abu Dawud)
Boleh
juga sekedar berwudhu’ pada setiap akan melakukan hubungan suami istri berikutnya.
إِذَا
أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ ثُمَّ بَدَا لَهُ أَنْ يُعَاوِدَ فَلْيَتَوَضَّأْ
بَيْنَهُمَا وُضُوءًا
Jika
seseorang mendatangi istrinya kemudian akan mengulangi (hubungan suami istri)
maka berwudhu’lah (H.R Muslim)
Tahapannya
dari yang paling utama:
a) Mandi pada setiap selesai berhubungan
b) Berwudhu setiap selesai berhubungan dan diakhiri dengan mandi.
c) Mandi sekali di akhir.
a) Mandi pada setiap selesai berhubungan
b) Berwudhu setiap selesai berhubungan dan diakhiri dengan mandi.
c) Mandi sekali di akhir.
4. Mandi setiap akan sholat bagi wanita yang mengalami
istihadhah (keluar darah penyakit).
عَنْ
عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أُمَّ
حَبِيبَةَ اسْتُحِيضَتْ سَبْعَ سِنِينَ فَسَأَلَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ فَأَمَرَهَا أَنْ تَغْتَسِلَ فَقَالَ هَذَا عِرْقٌ
فَكَانَتْ تَغْتَسِلُ لِكُلِّ صَلَاةٍ
Dari
Aisyah –radhiyallahu anha- istri Nabi shollallahu alaihi wasallam bahwa Ummu
Habibah mengalami istihadhah selama 7 tahun. Kemudian ia bertanya kepada
Rasulullah shollallahu alaihi wasallam tentang hal itu. Kemudian Nabi
memerintahkan kepadanya untuk mandi. Nabi bersabda: sesungguhnya itu adalah
urat (yang terputus). Maka Ummu Habibah mandi setiap (akan) sholat (H.R
al-Bukhari)
Bisa
juga mengakhirkan sholat Dzhuhur dan mengawalkan sholat Ashar dalam 1 kali
mandi, serta mengakhirkan sholat Maghrib dan mengawalkan Isya dalam 1 kali
mandi.
عَنْ
عَائِشَةَ قَالَتْ اسْتُحِيضَتْ امْرَأَةٌ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأُمِرَتْ أَنْ تُعَجِّلَ الْعَصْرَ وَتُؤَخِّرَ
الظُّهْرَ وَتَغْتَسِلَ لَهُمَا غُسْلًا وَأَنْ تُؤُخِّرَ الْمَغْرِبَ وَتُعَجِّلَ
الْعِشَاءَ وَتَغْتَسِلَ لَهُمَا غُسْلًا وَتَغْتَسِلَ لِصَلَاةِ الصُّبْحِ غُسْلً
Dari
Aisyah –radhiyallahu anha- bahwa seorang wanita mengalami istihadhah di masa
Rasulullah shollallahu alaihi wasallam kemudian ia diperintah untuk memajukan
sholat Ashar dan mengakhirkan sholat Dzhuhur dan mandi untuk keduanya sekali.
(Ia juga diperintah) untuk mengakhirkan Maghrib dan memajukan sholat Isya dan
mandi untuk keduanya sekali, dan mandi sekali untuk sholat Subuh (H.R Abu
Dawud, dishahihkan al-Albany)
5. Mandi
ketika akan masuk Makkah
عَنْ
نَافِعٍ قَالَ كَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا إِذَا دَخَلَ أَدْنَى
الْحَرَمِ أَمْسَكَ عَنْ التَّلْبِيَةِ ثُمَّ يَبِيتُ بِذِي طِوًى ثُمَّ يُصَلِّي
بِهِ الصُّبْحَ وَيَغْتَسِلُ وَيُحَدِّثُ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَفْعَلُ ذَلِكَ
Dari
Nafi’ beliau berkata: Ibnu Umar radhiyallahu anhuma jika masuk mendekati tanah
Haram beliau berhenti bertalbiyah kemudian bermalam di Dzi Thuwa kemudian
sholat Subuh dan mandi. Beliau menyatakan bahwa Nabi shollallahu alaihi wasallam
melakukan hal itu (H.R al-Bukhari)
6. Mandi
ketika akan sholat Ied
عَنْ
نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ
أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى
Dari
Nafi’ bahwasanya Abdullah bin Umar mandi pada hari Iedul Fithri sebelum
berangkat menuju musholla (tanah lapang sholat Ied)(H.R Malik dalam
al-Muwaththa’)
7. Mandi
ketika akan ihram untuk Umrah atau Haji.
Sebagaimana
ketika Asma’ bintu ‘Umais melahirkan Muhammad bin Abi Bakr dalam perjalanan
haji, Nabi perintahkan beliau untuk mandi, beristitsfar (memberikan semacam
pembalut pada tempat keluarnya darah), dan berihram
اغْتَسِلِي
وَاسْتَثْفِرِي بِثَوْبٍ وَأَحْرِمِي
Mandilah,
beristitsfar dengan pakaian, dan berihramlah (H.R Muslim dari Jabir)
8. Mandi
ketika akan wukuf di Arafah
عَنْ
نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ لِإِحْرَامِهِ قَبْلَ
أَنْ يُحْرِمَ وَلِدُخُولِهِ مَكَّةَ وَلِوُقُوفِهِ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ
Dari
Nafi’ bahwasanya Abdullah bin Umar mandi untuk ihram sebelum ihram, masuk
Makkah, dan wukuf pada sore hari di Arafah (H.R Malik dalam al-Muwaththa’)
9. Mandi
ketika terbangun (siuman) dari pingsan.
Sebagaimana
yang dilakukan Nabi shollallahu alaihi wasallam saat sakit parah. Ketika beliau
siuman beliau mandi kemudian pingsan, kemudian mandi lagi. Terjadi demikian
hingga beberapa kali (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah)
ثَقُلَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَصَلَّى النَّاسُ قُلْنَا
لَا هُمْ يَنْتَظِرُونَكَ قَالَ ضَعُوا لِي مَاءً فِي الْمِخْضَبِ قَالَتْ
فَفَعَلْنَا فَاغْتَسَلَ فَذَهَبَ لِيَنُوءَ فَأُغْمِيَ عَلَيْهِ ثُمَّ أَفَاقَ
فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصَلَّى النَّاسُ قُلْنَا لَا هُمْ
يَنْتَظِرُونَكَ… وَالنَّاسُ عُكُوفٌ فِي الْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُونَ النَّبِيَّ
عَلَيْهِ السَّلَام لِصَلَاةِ الْعِشَاءِ الْآخِرَةِ فَأَرْسَلَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ بِأَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ
Nabi
shollallahu alaihi wasallam sakit parah kemudian berkata: Apakah manusia sudah
sholat? Kami berkata: Tidak. Mereka menunggu anda. Beliau bersabda: Siapkan
untukku air (untuk mandi). Kamipun melakukannya. Kemudian beliau mandi.
Kemudian beliau akan bangkit. Beliau pingsan. Kemudian siuman. Nabi berkata:
Apakah manusia sudah sholat? Kami berkata: tidak. Mereka menunggu anda wahai
Rasulullah. Beliau bersabda: siapkan untukku air (untuk mandi). Kemudian beliau
duduk mandi kemudian ketika akan bangkit beliau pingsan…(demikian berulang
hingga dua kali lagi, pent)…sedangkan manusia berdiam di masjid menunggu Nabi
shollallahu alaihi wasallam sholat Isya. Kemudian Nabi shollallahu alaihi
wasallam mengutus Abu Bakr untuk mengimami manusia (H.R al-Bukhari dan Muslim)
10. Mandi
setelah selesai menguburkan seorang musyrik
عَنْ
عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ أَبَا طَالِبٍ مَاتَ فَقَالَ اذْهَبْ فَوَارِهِ قَالَ
إِنَّهُ مَاتَ مُشْرِكًا قَالَ اذْهَبْ فَوَارِهِ فَلَمَّا وَارَيْتُهُ رَجَعْتُ
إِلَيْهِ فَقَالَ لِي اغْتَسِلْ
Dari
Ali radhiyallahu anhu bahwasanya beliau mendatangi Nabi shollallahu alaihi
wasallam kemudian berkata: Sesungguhnya Abu Thalib telah meninggal. Nabi
bersabda: Pergilah untuk menguburkannya. Ali berkata: sesungguhnya dia mati
dalam keadaan syirik. Nabi bersabda: pergilah untuk menguburkannya. (Ali berkata):
setelah selesai menguburkannya aku kembali kepada beliau. Beliau bersabda:
Mandilah (H.R anNasaai no 190 kitab ath-Thohaaroh bab al-Ghusl min muwaarootil
musyrik, dishahihkan al-Albany)
Sumber : http://salafy.or.id/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar