Sejatinya, Yang Butuh Ilmu itu Mendatangi Pemiliknya.
يقول مُصْعَبٍ الزُّهْرِيَّ:
” قَالَ هَارُونُ لِمَالِكٍ : يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ، أُرِيدُ
أَنْ أَسْمَعَ مِنْكَ الْمُوَطَّأَ ، قَالَ : فَقَالَمَالِكٌ : نَعَمْ يَا أَمِيرَ
الْمُؤْمِنِينَ ، قَالَ : فَقَالَ لِمَالِكٍ: مَتَى ؟ قَالَ مَالِكٌ : غَدًا ،
قَالَ : فَجَلَسَ هَارُونُ يَنْتَظِرُهُ ، وَجَلَسَ مَالِكٌ فِي بَيْتِهِ
يَنْتَظِرُهُ ، قَالَ : فَلَمَّا أَبْطَأَ عَلَيْهِ أَرْسَلَ إِلَيْهِ هَارُونُ
فَدَعَاهُ ، قَالَ : فَقَالَ لَهُ : يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ، مَا زِلْتُ
أَنْتَظِرُكَ مُنْذُ الْيَوْمَ ، فَقَالَ مَالِكٌ : وَأَنَا أَيْضًا يَا أَمِيرَ
الْمُؤْمِنِينَ لَمْ أَزَلْ أَنْتَظِرُكَ مُنْذُ الْيَوْمَ ، إِنَّ الْعِلْمَ
يُؤْتَى وَلَا يَأْتِي ، وَإِنَّ ابْنَ عَمِّكَ هُوَ الَّذِي جَاءَ بِالْعِلْمِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنْ رَفَعْتُمُوهُ ارْتَفَعَ ، وَإِنْ
وَضَعْتُمُوهُ اتَّضَعْ ”
Mush’ab Az Zuhry berkata :
Khalifah Harun ar-Rasyid berkata kepada al-Imam Malik:
“Wahai Abu Abdillah, aku ingin mendengar al-Muwaththa’ darimu.”
Maka al-Imam Malik menjawab,“Baik wahai amirul mukminin.”
Khalifah bertanya,“Kapan waktunya?”
al-Imam menjawab :“Besok.”
Keesokan harinya sang khalifah menunggunya, sedangkan al-Imam
Malik juga menunggu di rumahnya. Karena ditunggu sekian lama tidak
datang-datang juga, maka khalifah pun mengirim utusan untuk menjemput al-Imam
Malik lalu Khalifah menegur,
“Wahai Abu Abdillah, aku sudah menunggumu seharian.”
Maka al-Imam Malik berkata:
“Aku juga sudah menunggumu seharian wahai amirul mukminin. Sesungguhnya ilmu
itu didatangi, bukan mendatangi.Sesungguhya anak pamanmu-yakni Rasul-
sholallahu alaihi wasallam,dulu dialah yang datang membawa ilmu.
Jika engkau meninggikan ilmu maka ia akan tinggi. Tapi jika
engkau merendahkannya, ia akan rendah.” (diriwayatkan oleh al-Imam
al-Baihaqi dalam al-Madkhal ilas Sunan al-Kubra 1/390-391 no. 686)
Dikutip dari : FSS (forum salafy banjarnegara)
Disadur dari website http://ahlussunnahkendari.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar