TANYA JAWAB
Pertanyaan:
Bismillah... Akhi bisa tanyakan ke ustadz, Manakah yg lebih Afdol dalam membayar zakat fitrah apakah dgn bentuk Uang atau dgn bentuk beras...
Dari ikhwah soroako
Jawaban :
Terkait dengan zakat fitri, mana yang lebih afdhol, ditunaikan dalam bentuk beras atau uang? Maka, kita katakan ini bukan mana yang lebih afdhol (utama), tetapi mana yang *SAH dan BENAR*... dan tentu saja yang SAH & BENAR adalah ditunaikan dalam bentuk *makanan pokok* (misalnya : beras, disesuaikan dengan makanan pokok penduduk negeri).
Alasannya :
1. Nabi sallalahu alaihi wasallam memerintahkan untuk ditunaikan dengan bentuk MAKANAN. Dan itu berdasarkan beberapa hadits, diantaranya :
Hadits Ibnu Umar-radiyallahu anhuma-dimana beliau berkata :
فَرَضَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم زَكَاةَ اَلْفِطْرِ, صَاعًا مِنْ تَمْرٍ, أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ: عَلَى اَلْعَبْدِ وَالْحُرِّ, وَالذَّكَرِ, وَالْأُنْثَى, وَالصَّغِيرِ, وَالْكَبِيرِ, مِنَ اَلْمُسْلِمِينَ, وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ اَلنَّاسِ إِلَى اَلصَّلَاةِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum bagi hamba dan yang merdeka, bagi laki-laki dan perempuan, bagi anak-anak dan orang dewasa dari kaum muslimin. Beliau memerintahkan agar zakat tersebut ditunaikan sebelum manusia berangkat menuju shalat ‘ied."
[HR. Bukhari no 1407 dan Muslim no 1635]
Hadits Abu Sa'id Al-Khudri-radiyallahu anhu-beliau berkata:
كُنَّا نُعْطِيهَا فِي زَمَانِ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم صَاعًا مِنْ طَعَامٍ, أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ, أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ, أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ. – مُتَّفَقٌ عَلَيْه
وَفِي رِوَايَةٍ: – أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ –
قَالَ أَبُو سَعِيدٍ: أَمَّا أَنَا فَلَا أَزَالُ أُخْرِجُهُ كَمَا كُنْتُ أُخْرِجُهُ فِي زَمَنِ رَسُولِ اَللَّهِ
وَلِأَبِي دَاوُدَ: – لَا أُخْرِجُ أَبَدًا إِلَّا صَاعًا –
“Kami menunaikan zakat pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan satu sho’ makanan, satu sho’ kurma, satu sho’ gandum, atau satu sho’ anggur (kering).” [HR. Bukhari no 1412 dan Muslim no 1640].
Dalam riwayat lain disebutkan, _“Atau dengan satu sho’ keju.”_ [HR. Bukhari no. 1506 dan Muslim no. 1641].
Abu Sa’id al-Khudri-radiyallahu anhu-berkata, _“Adapun saya terus menerus mengeluarkan zakat fithri seperti itu sebagaimana aku keluarkan di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”_ [HR. Muslim no 1641, Ad Darimi no 1716].
Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan, “Aku tidak mengeluarkan kecuali dengan ukuran satu sho’.” [HR. Abu Dawud no. 1618].
2. Menunaikan zakat fithri dengan makanan, merupakan amalan para sahabat radhiyallahu anhum berdasarkan instruksi Nabi sallalaahu alaihi wasallam, sebagaimana yang disampaikan oleh sahabat Abu Sa'id Al-Khudri diatas.
3. Wajib untuk difahami dengan baik, bahwa apa yang disebutkan dalam nash syariat dengan kata/kalimat *"makanan"* atau *"memberi makan"*, maka tidak boleh dipalingkan ke makna yang lain tanpa ada nash dalil yang menunjukkan hal tersebut.
4. Dizaman Nabi sallalahu alaihi wasallam dan para sahabat radiyallahu anhum, *sudah ada mata uang, yakni dinar dan dirham*, namun mereka tidak mengeluarkan zakat fithri dengan dinar dan dirham tersebut, tetapi dengan makanan. Dan jika-ada yang beralasan- "si miskin bukan cuman butuh makanan saja". Maka kita jawab, *Nabi dan para sahabat juga tau hal tersebut*, dan seandainya itu kebaikan tentulah mereka yang terlebih dahulu didalam mengamalkannya.
لو كان خيرا لسبقونا إليه
"Andai itu adalah kebaikan, niscaya mereka pasti telah mendahului kita dalam mengamalkannya"
5. Wajib pula untuk difahami, *bahwa zakat termasuk ibadah*, dan ibadah *sifatnya tauqifiyah* (terbatas pada apa yang ditunjukkan oleh al-qur'an dan as-sunnah). Sehingga tidak boleh mengkiyaskan hal tersebut dengan yang lainnya. Menunaikan zakat fithri dalam bentuk nilai nominal (uang) menyelisihi berbagai dalil dari as-sunnah, serta amalan yang tidak ada contoh/tuntunannya.
Rasulullah sallalahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
"Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan tanpa ada perintah dari kami, maka itu tertolak" [HR. Muslim no 3243].
6. Adanya perintah dari ulil amri (pemerintah) untuk menunaikannya dalam bentuk uang tidak serta merta harus dipatuhi. Sebab ketaatan kepada selain Allah (ulil amri, orang tua, dll) itu sifatnya muqayyad (terbatas), tidak pada seluruh kondisi dan keadaan, namun dibatasi dengan syarat tidak menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya.
Rasulullah sallalahu alaihi wasallam telah menegaskan hal tersebut:
لا طاعة لمخلوق في معصية الله عز وجل
"Tidak ada ketaatan kepada mahluk dalam bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla"
[HR. Ahmad no 1041, dishohihkan oleh Syeikh Al-Bani dalam Silsilah Ahadits As shohihah no 179].
Nabi juga bersabda:
لا طاعة في معصية إنما الطاعة في المعروف
"Tidak ada ketaatan didalam bermaksiat, ketaatan itu hanyalah pada yang ma'ruf"
[HR. Bukhari no 6716 dan Muslim no.3424].
7. Mengeluarkan zakat fithri dengan uang sangat berpotensi menyelisihi maksud dan hikmah dibalik pensyariatan zakat fithri, yaitu *"thu'matan lil masaakin"* [sebagai makanan untuk orang-orang miskin], sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Abdullah bin Abbas radiyallahu anhuma,
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ
"Rasulullah shallAllahu wa'alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk membersihkan orang yang berpuasa dari ucapan-ucapan yang tidak bermanfaat dan keji, serta sebagai makanan untuk orang-orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya sedekah diantara berbagai sedekah."
[HR. Abu Dawud no 1371, Ibnu Majah no 1817].
Siapakah yang dapat menjamin uang yang kita berikan sebagai zakat akan dibelikan makanan oleh orang miskin???. Dan lebih parah dari itu, jangan sampai mereka menggunakannya untuk membeli petasan dan yang semisalnya...
Allohu musta'aan.
8. Berdasarkan hadits Ibnu Abbas dan Ibnu Umar diatas pula, dapat difahami bahwa zakat fitri adalah zakat badan, dan tidak termasuk golongan zakat harta. Mengapa demikian ? Karena Nabi memerintahkan anak-anak, wanita dan budak (muslim) untuk mengeluarkan zakat, padahal dimaklumi mereka kebanyakannya tidak memiliki harta benda. Lalu dari hadits Ibnu Abbas dijelaskan hikmah zakat fitri, yaitu sebagai penebus (kaffarah) bagi orang yang berpuasa dari ucapan yang sia-sia dan keji yang dilakukan ketika berpuasa. Sehingga konsekuensi dari hal tersebut, maka zakat fitri ditunaikan dalam bentuk makanan pokok dan hanya diberikan kepada fakir miskin saja, berbeda halnya dengan zakat harta yang bisa diberikan dengan bentuk nilai nominal (mata uang).
9. Adanya ulama yang mungkin membolehkan dikeluarkan dalam bentuk uang, tidak serta merta kita langsung bertaqlid kepadanya *tanpa melihat dalil* yang mereka jadikan alasan, apalagi kalau itu bertolak belakang dengan al-qur'an dan as-sunnah yang merupakan standar untuk mengukur kebenaran.
Allohu a'lam
Dijawab oleh :
Al Ustadz Hilal Abu Naufal Al Makassary
☘☘☘
http://t.me/akhwatahlussunnah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar